----- Original Message -----
From: Paladin A. <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, October 30, 1999 9:06 AM
Subject: Re: [Kuli Tinta] PDIP ( LAGI ) : u/Yap
> Kalau menurut saya tidak ada istilah "demokrasi yang mempertontonkan
> keindahan", yang ada cuman "demokrasi", dan "keindahan" itu adalah bagian
> dari demokrasi. Demokrasi yang berlaku di negeri kita ini adalah demokrasi
> tidak langsung yang artinya mempercayakan pelaksanaannya kepada
wakil-wakil
> yang berada di lembaga legislatif, bukan dilakukan sendiri. Seperti kata
> simBah, ibarat anak panah yang telah dilepas, kita sudah membiarkan anak
> panah itu mencari sasarannya, tidak untuk ditarik lagi. Dan masalahnya
> bukan rakyat sudah terlupakan, melainkan rakyat yang tidak melakukan
> kontrol yang efektif terhadap wakil-wakil rakyatnya. Lagipula sebetulnya
> keinginan rakyat (baca : pendukung PDI-P) itu apa sih? Megawati jadi
> Presiden, atau perbaikan menyeluruh alias reformasi melalui platform
PDI-P?
> Kalau jawabannya yang kedua, mengapa harus sampai protes begitu, toh pada
> intinya mengarah kepada tujuan yang sama, Presiden atau bukan, ya nggak?
>
Wah enak betul jadi anak panah, bisa-bisa sasaran yang dicari nanti duwit
dan kekuasaan, atau cipratan dari kekuasaan, dan ujungnya lagi-lagi KKN
he-he.... Sebenarnya rakyat sudah mengontrol dengan baik yakni melalui pers.
Ini harus diakui sebagai jasa Habibie buat reformasi. Hanya sayang pers ada
yang digunakan sebagai alat penguasa untuk membangun opini. Dan sering kita
terjebak baku hantam karena pers juga.
Begini Mas, ada satu yang selalu menjadi pegangan buat saya, kalo ada
kalangan bawah demo, atau pemberontakan menurut istilah penguasa (entah yang
demo itu petani, nelayan, buruh, atau kalangan grass root yang
penghasilannya pas-pasan, entah itu pendukung Megawati atau bukan) berarti
ada suatu tekanan atau bahasa PKI nya penindasan. Demo (ngamuk untuk Promeg)
sebenarnya adalah ungkapan manusia untuk bebas dari tekanan tsb, dengan kata
lain ingin diakui sebagai manusia (diakui hak-haknya). Kalau ada orang demo,
itu berarti dia cuma ingin bilang aku ingin bebas (dari tekanan), akuilah
aku sebagai manusia yang sama denganmu (mu disini adalah penindas atau
penguasa). Tekanan bisa berupa mental (mis. ketakutan), atau secara fisik
(senjata), atau diperlakukan semena-mena, tidak dianggap manusia. Jatuhnya
Suharto adalah contoh yang jelas. Untuk kasus Promeg pendukungnya mengusung
Megawati sebagai simbol pembebas atau seperti menurut anda perbaikan
menyeluruh alias reformasi melalui platform PDI-P. Untuk bebas dari tekanan
itu orang bikin pemilu.Pemilu adalah salah satu cara untuk keluar dari
tekanan secara damai. Namun rupanya itu tidak berlaku untuk di Indonesia.
Panah sudah dilepaskan, biarlah cari sasarannya sendiri, ini kata simbah.
Karena MPR pun yang katanya sebagai perwujudan kedaulatan rakyat, ternyata
dapat pula dijadikan sebagai alat penindas.
> Apa nggak terasa aneh menurut anda? Semestinya orang-orang PDI-P sebagai
> 'veteran' dari PDI zaman Orba dulu lebih tahu dan lebih berpengalaman
dalam
> cara-cara meliuk-liuk yang indah. Dan mereka adalah orang-orang yang
> semestinya paling tahu bahwa politik itu tidak selalu indah dan
> berbunga-bunga. Siapa yang salah?
Oleh karena itu PDIP disebut bodoh karena tidak ikut-ikutan meliuk-liuk yang
indah, yang dituruti adalah suara nuraninya sendiri. Kalo anda baca Tempo,
anda akan tau, kalau misalnya pertanggungjawaban Habibie disetujui, saya
yakin Habibie akan jadi presiden lagi. Lha wong poros tengah di belakang
Habibie semua, itu kelihatan saat malam-malam para tokoh penting porteng
grudukan ke rumah Habibie. Dan naifnya Mega, dia cuma berharap ada suara
nurani. Gara-gara nurani pula Golkar pecah, PAN ribut. Tapi itu sudah usai,
hanya masih ada pertanyaanku yang menggantung apakah 5 tahun yang akan
datang kita ribut lagi dan saling caci maki di milis ini lagi ? Apakah
ungkapan permainan indah nan cantik akan muncul lagi ? Atau kita akan bikin
tradisi tiap 5 tahun diadakan pesta bakar-bakaran he-he-... Oaalah apa yang
telah kita wariskan pada anak cucu ini..
> ngomong-ngomong soal negara miskin dunia ketiga, selama anda masih
> berpendapat seperti itu maka Indonesia bakal terus menjadi negara miskin
> dunia ketiga...kalau nggak kepingin ditipu en dibodohin, belajar! Para
> pendahulu kita bisa melepaskan diri dari belenggu penjajahan dengan
> belajar, bukan dengan senjata dan adu fisik saja.
Ya-ya-ya saya akan belajar, belajar bagaimana melepaskan diri dari belenggu
penindasan. Nanti rakyat dibilangi saja kalau protes jangan ngamuk pakai
senjata atau adu fisik, ada cara lain yang indah dan cantik, dan lebih
ampuh, boikot, pemogokan masal atau sabotase, pasti golongan menengah ke
atas kelimpungan termasuk modal asingnya he-he..anda ini gimana, pemilu yang
jujur kemarin itu sudah merupakan pembelajaran/pendidikan politik yang baik
dan benar buat rakyat, rakyat berperan dalam memerahputihkan Indonesia biar
tidak rebutan keluar dari penindasan, tetapi setelah itu negara ini bisa
pula dimerahputihkan oleh 700 orang, dan semuanya bergantung pada para
pengendali 700 orang itu. Para pengendali 700 orang itu juga tergantung pada
modal asing. Yang terakhir ini paling sulit atau tidak bisa dikontrol. Oleh
karena itu Gus Dur setelah terpilih buru-buru bilang kalau mau buka hubungan
dagang dengan Israel, mau ke Cina, Jepang. Barangkali mau mencoba
mengontrol.
Eh ada lagi, ini guyonan saja, setelah reformasi dulu itu Amien Rais kok
tambah tambun, dan kelihatan perutnya membuncit, apa ada korelasi antara
reformasi dan perut buncit ?
>
> Solider tapi bukan pendukung? Koncoan ae mas....:-)
Lha pancen koncoan, sopo yang paling sengsara selain PDIP setelah peristiwa
27 Juli dulu itu ? dibui, diculik, adik kelasku masih belom ketahuan sampai
sekarang keberadaannya.
>
>
> Wassalam,
>
> Paladin A.
> ICQ 50753984
>
Salam jugak
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!