----- Original Message -----
From: Paladin A. <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, November 04, 1999 11:25 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta] PDIP ( LAGI ) : u/ Blantik


> Menurut saya suatu 'aturan main' itu kembali pada hukum dan sistem hukum
> yang berlaku. Seperti yang kita ketahui 'aturan main' Pemilu yang baru
lalu
> menggunakan metode pemilihan tidak langsung untuk memilih perwakilan.
Namun
> masalah 'nurani' itu muncul karena rakyat ternyata mengharapkan pemilihan
> langsung, dus langsung memilih Presiden. Soal 'permainan cantik',
> 'berdarah-darah' dan lain sebagainya itu bukan eksklusif di Indonesia
saja,
> menurut saya itu tidak lain adalah ekses negatif dari DEMOKRASI,
> pemerintahan dari, untuk, dan oleh rakyat. Sebagai contoh dari "sisi
> gelap"-nya demokrasi adalah ketika Adolf Hitler naik menjadi Kanselir
> Jerman pada tahun 1933, tahukah anda bahwa naiknya Hitler itu adalah
karena
> dia menang Pemilu? Hitler menjadi pemimpin Jerman karena dipilih dan
> didukung rakyat, karena itulah 'suara nurani' dari rakyat Jerman. Itulah
> demokrasi, kalau memang kita ingin demokratis harus menerima segala
> konsekuensinya. Menurut saya upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi
> atau mencegah terjadinya 'permainan berdarah'---minimal dalam 5 tahun ini
> sebelum Pemilu berikutnya---adalah dengan meningkatkan pendidikan dan
> pemahaman politik secara luas, jadi rakyat tahu dan paham bagaimana cara
> mengatur negara melalui 'aturan main' yang dia buat sendiri melalui
> jalur-jalur legislatif. Itu kan yang kita inginkan?
>
>
> Wassalam,
>
> Paladin A.
> ICQ 50753984
>

Makasih, memang kayaknya kita harus belajar banyak dari kejadian-kejadian
yang berlangsung pada tahun ini. Cuma gara-gara kejadian kemarin itu
sekarang salah satu instrumen demokrasi yakni kontrol terhadap pemerintah
terpaksa dilakukan oleh LSM, mahasiswa, dan pers. Dan kita tidak bisa
berharap banyak pada DPR, apalagi cuma mengharapkan pada aturan etika dan
moral. Reformasi memang lebih baik dijalankan dari sisi budaya.

Anda cerita tentang Hitler ? Mungkin tulisan Mangunwijaya di Kompas ini bisa
menambah pengetahuan tentang kasus Hitler ini. Semuanya sesuai aturan,
tetapi aturan demokrasi digunakan untuk melenyapkan demokrasi.

salam
MB

Sabtu, 9 November 1996

Suatu 10 November

                                                  Oleh YB Mangunwijaya

SUATU hari Minggu suram kelam 78 tahun yang lalu, 10 November 1918 seorang
kopral tentara Jerman yang luka-luka berat di rumah sakit menangis
frustasi,sesudah seorang pastor yang mengunjungi para pasien memberitakan
bahwa di luar dugaan patriotiknya Jerman menyerah kalah kepada Perancis
Inggris AS dan sekutu-sekutu. Kopral itu Adolf Hitler. Kaisar Wilhelm II
dinasihati Pangab dan Staf Jenderalnya sendiri agar turun tahta, lari ke
luar negeri dan menyerahkan pimpinan negara kepada politikus sipil
bermayoritas Partai Sosialis Demokrat yang sebetulnya tidak suka mengambil
oper pimpinan negara yang sedang ambrol dan dipaksa tentara untuk menerima
syarat-syarat kekalahan yang amat menghinakan Jerman di Compiegne dan
Versailles.

Hitler anak desa Austria yang kemudian di kota Wiena yang gemerlapan cuma
buruh serabutan rendah amat miskin. Tetapi pada hari gelap 10 November 1918
itu (yang oleh nasib sejarah tanpa sangkut-paut sedikit pun setanggal dengan
Hari Pahlawan kita) Hitler, genius dahsyat untuk berkuasa tanpa ampun tanpa
moral, bersumpah kepada diri sendiri untuk membangkitkan kembali Jerman Raya
yang jaya-wijaya, dan memutuskan untuk menjadi seorang politikus. Dengan
tekad luar biasa dan terutama ketegaan tanpa moral akhirnya ia menjadi
seorang diktator kejam seolah-olah keranjingan iblis yang menyebabkan
kematian dan penderitaan tak terperi kepada puluhan juta manusia tak
bersalah selama hanya 12 tahun berkuasa di Jerman dan menyulutkan perang 6
tahun di seluruh dunia.

Maka dalam kesadaran era global sekarang, teristimewa dalam musim kekerasan
dan praksis kekejaman macam-macam di negeri ini, ada baiknya kita belajar
sedikit dari sejarah dunia. Khususnya tentang Hitler dan fasisme yang
merupakan salah satu jurang neraka kekerasan global yang meliputi akhir abad
20. Dan yang lewat Jepang datang berdampak di negeri kita juga. Di antara
kurung namun tidak tanpa isyarat, di Yogyakarta baru saja terbit antologi
puisi berjudul "Fasisme".

Demokrasi demi meniadakan demokrasi

Jerman 1918 kalah perang dan kacau balau politis ekonomis. Tentara Jerman
warisan ningrat Prusia yang juga main politik intensif sekali masih utuh.
Tetapi dalam negara federasi yang penuh pertengkaran keras antara para tuan
majikan ningrat bisnis besar lawan kaum buruh dan massa yang semakin sadar
hak-haknya, lasykar-lasykar liar kaum sosialis maupun bolsyewis (komunis)
serta militer promonarki merajalela saling baku tembak.

Sesudah keluar rumah sakit Hitler lalu menjadi intel Resimen 2 infanteri
negara bagian Bavaria, kemudian jadi penatar dalam Departemen Politik
Komando Distrik Tentara yang memerangi pacifisme (cinta damai), sosialisme
dan demokrasi. Jadi subversif melawan Negara Jerman mereka sendiri yang
sudah menjadi republik demokrasi. Ketika si intel Hitler bertugas
memata-matai Partai Pekerja Jerman yang kecil, malah justru ia diangkat jadi
anggota Partai itu karena mencolok bakat hebatnya berpidato. Ia sendiri
tertarik karena meski partai itu resminya demi para pekerja, tetapi lain
dari kaum sosial demokrat, menganggap kaum pekerja hanya sarana demi
kebesaran nasionalisme Jerman. Dengan licik segera ia menggusur pimpinan dan
mengubah sistem partai itu sehingga menjadi pemimpin tunggalnya.

Pendukung kuatnya seorang kapten tentara, Ernst Roehm, yang kemudian ia
tugasi menjadi benggol pasukan preman gali-gali SA (Sturmabteilung = Pasukan
Pendobrak, Barisan Baju Cokelat) yang harus mendukung Hitler dalam seluruh
kampanye politiknya dengan cara-cara teror, sampai pembunuhan pun bila
perlu.Roehm sendiri kelak dibunuh Hitler.

Tahun 1923 bersama mantan kepala staf seluruh tentara Jerman dan pahlawan
nasional, Jenderal Ludendorff, ia mencoba mengkup pemerintahan dengan
kekerasan di Munich, tetapi gagal dan lari. (Ludendorff kemudian tak mau
kenal lagi pada si pelari). Sesudah dipenjara sampai 1925, ia mulai lagi
mengkonsolidasi partai ekstrem kanannya, yang sudah berubah nama menjadi
NSDAP, Partai Buruh Jerman Nasional Sosialis, terkenal sebagai Partai Nazi.
Sebutan "buruh" dan "sosialis" di sini dipakai melulu untuk mengelabui dan
memancing massa bawah. Tetapi sekarang Hitler hanya ingin melewati
jalan-jalan konstitusional, walaupun tetap dengan cara-cara preman SA Kapten
Roehm. Memanfaatkan cara-cara demokrasi untuk menghancurkan demokrasi.

Dengan bakat kemampuan pidatonya yang luar biasa, pengobaran api dendam
nasionalisme Jerman yang benci pada perjanjian Versailles yang menghancurkan
martabat serta ekonomi Jerman, dan khususnya berkat teror preman SA dan SS
(Staffelschutz = Pengawal elit eselon partai setanding tentara resmi),
akhirnya 30 Januari 1933 pukul 12.00 Presiden Hindenburg yang sudah lansia,
lewat jalan konstitusional yang sempurna, menunjuk Adolf Hitler selaku
kanselir (menteri perdana) seluruh Jerman dan perdana-menteri negara bagian
strategis penting Prusia dengan ibu kota Berlin.

Satu bulan kemudian Gedung Parlemen (Reichstag) dibakar pasukan sandi SA dan
peristiwa itu ditiup besar-besaran di media massa, disusul vonis pengadilan
robot Nazi sebagai ulah kaum komunis. Kesempatan emas itu dipakai Hitler
untuk memperhebat kampanye antikomunis demi persatuan dan kesatuan Jerman
Raya serta keamanan umum. Secara konstitusional negara-negara bagian
federasi didekrit menjadi provinsi-provinsi belaka dari negara kesatuan
fasis pimpinan satu orang tunggal dengan satu partai tunggal. Semua serikat
buruh dan organisasi kiri dilarang.

Tinggal kelompok kanan yang masih kuat, para ningrat tuan-tanah, kapitalis
besar bisnis-industri dan tentara dengan Staf Jenderalnya yang masih amat
dihormati rakyat. Lewat politik to take to give mereka inipun akhirnya
mendukung Hitler dan partai Nazi, karena melihat mantan kopral dari Austria
yang ahli berpidato itu sanggup menghancurkan kaum kiri dan berbakat besar
untuk memulihkan Jerman Raya. Demikianlah semua jalan rata untuk
mempersiapkan perang besar yang ternyata nanti membunuh puluhan juta rakyat
dan banjir bandang malapetaka penderitaan di segala benua. Namun yang juga
menjadi sebab-tak-tersengaja yang memungkinkan Revolusi Kemerdekaan
Indonesia 17 Agustus 1945. Sehingga dengan tanda petik besar dan humor hitam
ala gali-gali kita bisa berkelakar sinis bahwa bangsa Indonesia harus
berterima kasih pada Hitler.

Fasisme

Kata fasisme datang dari bahasa latih fasces (berkas ranting pohon birk yang
diikat dan kampak di tengahnya) yang sejak abad ke-6 Sb.M. adalah lambang
kekuasaan mutlak diktatorial. Jerman Hitler, Italia Mussolini dan Jepang
Toyo waktu itu adalah negara-negara eksplisit fasis yang jiwanya tidak dapat
dilepas dari sebentuk nasionalisme yang

berkelebihan (chauvinisme) dan gila kuasa model Machiavelian (atau Kresna
Jawa). Fasisme dan nasionalisme eksterm di mana-mana tanpa terkecuali adalah
saudara-saudara sekandung. Fasisme mengklaim musuh buyutan (lebih tepat
saingan sengit) komunisme, tetapi nyatanya saudara sekandung kembar dampit.
Lawannya demokrasi sejati. Predikat sejati di sini penting disebut untuk
membedakannya dari demokrasi semu yang mengaku diri demokrasi tetapi
tulang-daging dan praksisnya fasistis maupun komunistis alias ekstrem kanan.

Memang fasisme bisa macam-macam cara pentasnya, tetapi ciri dasarnya sama,
yakni sistem kekuasaan totaliter yang disetir oleh suatu partai kuasa
tunggal atau dominan yang tidak mentolerir kebijakan atau pendapat lain
selain yang disukainya. Tetapi dikamuflase dengan semacam majelis perwakilan
rakyat yang boneka.
Maka praksis dan gayanya ialah kekerasan, intimidasi, teror. Dengan tulang
punggung sistem intel, polisi rahasia atau informan. Dengan resep
penganiayaan
terdakwa ataupun tercurigai, hantam dulu urusan belakang. Negara fasis
biasanya disebut negara polisi. Bukan polisi dalam arti polisi negara
demokrasi yang hanya mengurusi perkara pidana dan perdata, akan tetapi
polisi politik, intel. Di Jerman Hitler namanya Gestapo, Geheime
Staatspolizei (Polisi Rahasia Negara), di zaman Jepang dulu Kenpetai atau
KGB di Rusia Soviet, yang praktis adalah pasukan algojo resmi yang keji tak
menggubris aturan hukum atau etika kemanusiawian.

Tetapi dalam negara fasis pun ada "hukum" pengadilan dan mahkamah agung.
Cuma pejabat-pejabatnya hanya boneka atau beo belaka. Pers dan media massa
serta segala wacana ilmiah pun disensor dan diarahkan oleh aparat negara.
Semua organisasi dan lembaga apa pun dikontrol oleh aparat pemerintah yang
identik dengan kepentingan satu partai dominan. Maka tidak mengherankan
apabila gaya, mentalitas dan cara kerja kemasyarakatan dan kenegaraan lalu
militeristik, karena yang berlaku ialah sistem komando dari atas dan
ketaatan mutlak dari bawah. Otomatis gaya gerak masyarakat dan negara
tercermin dalam kegemaran negara fasis pada mode pakaian seragam dan
baris-berbaris, teriak komando, upacara gegap-gempita di stadion, bahasa
pengarahan, poster-poster propaganda besar, penataran ideologi, dan
sebagainya.

Genius Hitler yang mendapat rekan seperangai DR. Joseph Goebbles untuk
pertama kali dalam sejarah memahami, betapa vital masalah pendidikan dan
informasi dengan membentuk Kementrian Propaganda yang bertugas menyeragamkan
segala informasi apa pun kepada penduduk. Pers, penerbitan, radio dan film
harus taat ketat kepada pengarahan tentang apa dan bagaimana yang boleh
disiarkan. Kritik dicap liberal dan dilarang.

Seluruh pendidikan anak, pemuda-pemudi, wanita dewasa, tani, buruh,
disatukan dalam satu organisasi pemerintah, yang praktis merupakan
organisasi kader politik bergaya militer. Bahkan agama pun ditundukkan oleh
negara dan harus mengabdi keperluan pemerintah, karena yang sah hanyalah
ideologi dan tafsiran negara.Negara fasis lalu menjadi sebentuk monarki
absolut atau kekaisaran tetapi dengan atribut-atribut sok-republik, di mana
tiga unsur utama trias-politika, legislatif, eksekutif, yudikatif disatukan
dalam satu tangan dan organisasi. Di bawah satu penguasa tunggal. Namun
Hitler hanya dapat bertindak begitu karena terdukung penuh oleh para bos
bisnis dan industri besar serta terutama para jenderal Jerman.

Masalah universal

Namun Peter F Drucker, ahli korporasi modern, melihat lebih dalam lagi.
Pertama, Drucker mengingatkan; Perang Dunia II ialah "perang pertama yang
sungguh-sungguh harus ditangani sebagai perang industri, sebagai perang, di
mana industri tidak berkedudukan sebagai penolong, tetapi the main fighting
force
itself". (Apalagi perang-perang besar kemudian). Begitulah "sangatlah
penting" tandas Drucker, "untuk terang memahami bahwa Naziisme tidak dapat
dijelaskan oleh itu khas sifat nasional Jerman, sejarah Jerman atau kondisi
kelembagaan dan geografi Jerman... Esensi Naziisme adalah ikhtiar untuk
menyelesaikan masalah universal peradaban Barat, yakni masyarakat industri.
Dan bahwa prinsip-prinsip mendasar yang menjadi sendi ikhtiar kaum Nazi itu
sama sekali tidak terbatas di Jerman saja ....Kita harus tahu bahwa yang
kita perangi ialah usaha untuk mengembangkan masyarakat industri yang
berfungsi atas dasar perbudakan dan penguasaan. (The Future of Industrial
Man, Chapter I) Kini bangsa Indonesia pun sedang mengembangkan diri ke arah
masyarakat industri. Yang tentulah diusahakan berfungsi. Yang prinsipnya
semua tahu: Pancasila. Tinggal praksisnya.... *

YB Mangunwijaya, rohaniawan dan pekerja sosial di Yogyakarta.



______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke