mas marblan,
rasanya akupun pernah posting yang demikian
hahaha... biasa ngaku-ngaku kan enak?

bahwa di MPR itu yang bermusyawarah sudah
bukan rakyat lagi.
mereka bukan rakyat, karena yang membuat duduk
di gedung "SARU" (kalau bahasa sini artinya monyet,
yang saya maksudkan adalah anoman yang sedang jadi
duta, yaitu dutanya rakyat) adalah yang mengutus mereka.
walaupun cara mengutusnya juga bermacam-macam.
misalnya:
tertarik oleh baju mereka
tertarik oleh janji mereka
tertarik oleh mereka karena saudara sendiri
dll.
seharusnya mereka melepas semua baju itu. tinggalah
hati nurani yang bicara. dengan satu tujuan akan dikemanakan
negara dan bangsa.

di wojoseto dan arek-suroboyo, aku mengibaratkan kata-kata
haruslah seperti lepasnya panah dari tali busur.
lepas apa adanya, tak dapat balik lagi, bukan seperti boemerang.
yang selalu balik, bila tak mengenai sasaran.
(asal bukan boemerangnya si mickey tikus yang malah masuk
ke mulut pluto... hehe). karena panah yang salah sasaran, tak
layak diambil lagi.. biarlah dia dianggap musnah ditelan jaman.

jadi mereka sebenarnya adalah para pemanah. memanahkan
semua program dan kebijakan para duta itu. setelah sebelumnya
di-embat-embat (ditepatkan kepada sasaran) dengan cermat
dan penuh hikmat. tak lain adalah sasaran dan tujuan mereka
membentuk suatu negara bangsa INDONESIA. maka sekali
panah-panah melenceng, walaupun hujan panah... tetaplah
sia-sia... boros dan "mbelgedhes". karena tak layak bila diambil
lagi....

dan bung yap bilang, sekarang gantian yang jadi oposisi
adalah yang di luar gedhung SARU itu...

mbah soeloyo
-----------
(yang tidak boleh berfikir berat-berat karena semakin soeloyo)

----- Original Message -----
From: Marto Blantik <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, October 29, 1999 12:45 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta] PDIP ( LAGI ) : u/Yap


Hebat, argumentasi anda sangat hebat, cuma aku mau tanya
demokrasi yang
mempertontonkan keindahan itukah yang akan kita kembangkan ?
Demokrasi yang
jelas-jelas ingin mengabaikan suara rakyat melalui pemilu dengan
berlindung
dibalik aturan main, dan semua itu memang sah dan
konstitusional. Suharto
pun bisa seperti itu karena sesuai aturan main, sah, dan
konstitusional.
Argumentasi anda esensinya mirip dengan omongan Sarwono, saat
mengomentari
kekalahan beruntun PDIP. Saat baca Tempo minggu ini yang
diceritakan
bagaimana 'proses demokrasi' di MPR, aku jadi sadar bahwa rakyat
sudah
terlupakan sama sekali. Yang dipentingkan bagaimana memperoleh
kekuasaan
dengan cara yang indah, persetan dengan suara nurani, masa bodoh
dengan
hasil pemilu.

PDIP dalam pesta lulusan Orba kemarin sungguh seperti orang
kampung, lugu,
serba canggung dan kikuk, karena memang tidak pernah atau belum
berpengalaman meliuk-liuk dengan cara yang indah. Dan itu
terungkap dengan
lugunya pada omongan Kwik 'kita dibohongi terus'. PDIP konsisten
dengan
pilihannya. Konsistensi ini (kebodohan orang lain bilang) memang
harus
dibayar mahal dengan kekalahan.Pendukungnya yang bingung dan
merasa ada yang
tidak beres dengan aturan main yang konstitusional, ngamuk, dan
lagi-lagi
mereka jadi barang cercaan karena berbuat haram menonjolkan otot
dan
memamerkan kebolehan mengocor darah seperti anda bilang.
Kekerasan ini
memang suatu  kebodohan dan senjata makan tuan, harusnya kalau
mereka
pinter, bikin sesuatu yang lebih mengena, boikot misalnya.
Jangan heran bila
di kalangan rakyat bawah, mereka bilang orang-orang pinter itu
cuma pinter
'minteri' (menipu). Dan model-model permainan seperti yang anda
argumentasikan itulah yang terjadi di negara-negara miskin dunia
ketiga,
dengan pemain-pemainnya para kapitalis global.

Marto Blantik
solider sama PDIP tapi bukan pendukung PDIP


----- Original Message -----
From: Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]>
To: Millis Kuli-Tinta <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, October 28, 1999 6:23 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta] PDIP ( LAGI ) : u/Yap


>
> From: Yap C. Young <[EMAIL PROTECTED]>
> >....menganggap bahwa kekuasaan itu adalah jatuhan dari
langit.....  "
> >  Ya gagal.
> Benar, pola pikir yang dogmatis dan terpaku pada pakem
standard ternyata
> tidak mampu mengantisipasi langkah gerak politisi lain yang
menghalalkan
> setiap kemungkinan yang terbuka. Akibatnya PDIP gagal total
meraih kursi
> Presiden, dan menjadi bulan bulanan di SUMPR.
>
> ===============================================
> Saudaraku Yap yang saya hormati,
> Anda mungkin kurang konsentrasi. Ron Moreau di Newsweek yang
saya
> kutip, bicara soal nihilnya "pola pikir" alias main ilmu
batin. Saya kok
> menduga itu betul. Jadi yang namanya "yang dogmatis dan pakem
standard"
> cuma ilmu mistis nunggu durian runtuh dari kahyangan. Di tahun
2000 ini,
> "pola pikir" seperti itu ya diketawai banyak orang. Hasilnya
pasti Gatot.
> Gagal Total, seperti kenyataan yang membuat nangis banyak
orang itu.
>
> Yang harus dikerjakan bukan menghalalkan segala cara. Apalagi
berbuat
> haram menonjolkan otot dan memamerkan kebolehan mengocor
darah.
> Anak SMA saya kira sudah mulai tahu . Simply, to negotiate.
Berunding
> bersama. Aktif , bukan cuma menunggu diujung ruang kaya Siti
Nurbaya
> menunggu digoda jejaka. Saya tidak percaya orang PDIP tidak
tahu hal itu.
> Tapi PDIP tidak melakukan itu. Saya curiga kejadian yang
dilihat banyak
> orang tersebut adalah "perintah" Mbak Mega. ( maaf banyak lho.
sekarang
> sudah bukan waktunya untuk nyek2an ( ledek2an). Saya cuma
berusaha
> berpikir rasionil saja, untuk keperluan diskusi).
>
> Kalah dan  Jadi bulan-bulanan. Lebih sehat kalau anda berhenti
pada kata
> 'kalah". Nanti dikira ngambeg lho ! Kalah total kan tidak,
PDIP berhasil
> mendapat Wapres ( nilainya tujuh menteri) walaupun sedikit
tidak indah
> ( baca laporan WAM soal kebangkrutan : with smile).
>
> Yap kemudian menulis :
> "..Saya perlu bertanya arti kata modern, urut dan indah bagi
PAN, PBB
> atau PK yang seingat saya dalam meraup massa diantaranya jelas
jelas
> menjanjikan memperjuangkan Amien Rais, Yusril Ihza .... Tidak
satupun
> dari Partai-partai  itu mencalonkan Gus Dur.... hanya PBB yang
masih
> konsisten maju dengan Prof Yusril, tetapi itupun menarik diri
...menerima
> sumpah Gus Dur untuk tidak akan mundur dari pencapresan. Jadi
> pencapresan Yusril lebih didasari ketidak percayaan atas
keseriusan
> Gus Dur..daripada memenuhi janji kampanye. Apakah ini yang
dimaksud
> modern, urut dan indah?......."
>
> Arti kata modern berhubungan dengan yang diatas. Mereka tidak
meng-
> gunakan "ilmu batin" dan mistik. Mereka memakai beberapa
perangkat
> seperti kemampuan negosiasi, mereka menggunakan setiap potensi
organi-
> sasi, tidak terborgol kaku diam oleh pucuk pimpinan saja.
> Yang lain yang amat penting ,tidak menganggap figur presiden
setingkat
> nabi , sehingga layak ngocor darah atawa revolusi. Ngotot,
saya kira
> bukanlah hal modern.Bila ditingkat negosiasi tidak ada
harapan, cari
> yang lain. Negeri ini menyimpan ratusan orang layak presiden
bila kita
> sepakat pakai otak. Partai Keadilan yang banyak S2 & S3-nya ,
dengan
> humble mencalonkan seorang ustat kampung sederhana. Bukan
seorang
> Bintang gemerlap. Mereka tahu betul pasti kalah. Tujuannya
cuma
> pesan gampang , tapi tidak sederhana : Banyak orang layak
Presiden di
> negeri ini.
>
> Ada lagi yang saya anggap modern. Yang penting bukan alat ,
tapi tujuan
> dan cara mencapai tujuan. Konsisten dengan calon memang
tindakan heroik
> Tapi amat kekanak-kanakan. Itu adalah konsisten kepada alat.
Dengan
> modern , partai2 yang anda sebut seperti PAN, PBB, dan PK
mengganti
> calon, tapi tetap berusaha mendapat kepastian negeri ini
dikelola sedekat
> mungkin dengan ideal mereka. Mereka dengan gigih berunding ,
kalau perlu
> meminta janji, meminta sumpah, dan mengukur visi calon lain
yang bakal
> disetujuinya. Bukan dagang sapi seperti yang dipahami sebagian
orang
> tradisionil. Itu namanya Negosiasi. Itulah demokrasi : tidak
mesti
> mendapatkan semua yang dimaui.
>
> Kiprah PBB, Yusril dan Mardjono menurut saya adalah salah satu
yang
> terindah dalam SU MPR. Langkah mereka setajam pisau silet.
Sama sekali
> tidak memberikan ruang nakal pada lawan. Mereka mau Gus Dur
tidak mau
> Mega. Mereka bukan lagi anak bangsa jaman dulu yang gampang
dibodohi
> oleh Londo Eropa. Mereka berbuat hal yang halal dan cerdas.
Bagi saya
> sekali lagi, amat mengagumkan. Seperti Kasparov!
>
> Keindahan dalam politik adalah kecerdasan kombinasi langkah
halal untuk
> mencapai tujuan. Urut yang saya maksud adalah kefasihan dalam
pengung-
> kapan. Transparan. Bukan cuma diam yang membingungkan dan
mengun-
> dang teka-teki. Bisa dikatain bloon!.  Urut bisa pula berarti
sadar
tahapan.
> Umpamanya : setelah pemilu, ada sidang MPR. Setelah menang
pemilu,
> mesti menang pula ditahap berikut. Kemudian selain presiden
apa...
> Kalau ada partai yang cuma terobsesi meng-Gol-kan Presiden
saja apakah
> bisa dikatakan modern ?  Alasannya amanat Kongres. Hayoh Toh !
> Apakah itu yang dinamakan Pakem Standard ? Nanti keliru dengan
Parem
> ( kocok) Standard? Ya ketinggalan, mas......
> Persis benar seperti yang anda ( Yap) katakan:
> "Seingat saya sejak PDIP konggres di Bali sampai berakhirnya
Sidang Umum
MPR
> omongan PDIP ya cuma itu, berusaha memenangi Pemilu dan
memperjuangkan
Mega
> menjadi Presiden. Dan ketika Capresnya ternyata kalah... Jadi
bukan cuma
> simbol dong, tetapi memang sudah main transparan, sekalipun
gagal."
>
> Anda nulis lagi :
> "Tentang ngamuknya pendukung Mega, saya dengar mereka merasa
ada akrobat
> politik yang tidak wajar dalam proses persidangan
SUMPR....lewat tengah
> malam pukul 02.10 setelah PPJ Presiden Habibie resmi ditolak
MPR,..........
> Apakah gerangan kompetensi kelima tokoh yang bukan Golkar ini
sowan ke
Patra
> Kuningan bukan pada layaknya jam bertamu? Apakah dalam rangka
modern, urut
> dan indah itu?..."
>
> Persis bung Yap. Kita jangan mengira sidang MPR adalah mainan
anak
> bawah 17.  Perundingan bisa alot , kejam, dan melelahkan.
Jangan cuma
> terpaku pikiran ngeres dan porno saja. Perundingan seperti
itulah yang
diha-
> dapi para businessman ketika berhadapan dengan orang Korea,
Jepang,
> atau Amerika !.  Ini urusan super penting !
>
> Yap :
> "Dari posting seorang netter disini ada info bahwa Amien Rais
menerima
> limpahan dana Bank Bali konon dari Habibie. Apa berita itu
hanya sekedar
> fitnah atau masih ada hubungannya dengan modern, urut dan
indah itu?"
>
> Ini termasuk sisi kejamnya. Fitnah, pembunuhan karakter,
jegal-jegalan.
> Tapi kita semakin tahu dan biasa. Kitapun tahu cara
memperlakukannya:
> anggap Kentut saja !.
>
>
> Yap menulis ;
> "Tentang perngamukan itu, dalam skala yang berbeda kita juga
melihat
> represifnya pendukung Gus Dur, sehingga seorang Mi'ing...
> Padahal apa kata Gus Dur? "Mi'ing itu teman kita".
> Perngamukan juga terjadi dikelompok Iramasuka dan di
Makassar..
> Boleh dong dibilang kekecewaan, apalagi ketersinggungan dapat
menghasilkan
> perngamukan grass root pada kelompok manapun, bukan hanya
PDIP."
>
> Ya nggak boleh, dong! Kita semua mesti menolak pengamukan2
yang
> terjadi meskipun kita bisa mengerti. Tradisi bola Eropa
menghukum Club
> yang pendukungnya main Holliganisme. Pemilik Club tidak bisa
pura-
> pura bloon : Itu bukan dari warga saya ! Kuno. mas ! Apalagi
kalau
> kerusakan yang ditimbulkan milyar2an. Pemilik Club wajib
ngajari
> pendukungnya berkelakuan beradab meski tersinggung. Disitu
akan diukur
> kemampuan sang manager. Yang ini terang masuk kepada modern,
urut,
> dan indah itu.....
>
> Anda menulis :
> "........ Amien Rais sampai menggebrak meja, sehingga beberapa
kali
> susunan Kabinet diubah. Dan bahkan kabarnya Gus Dur dengan
piawai
> menempatkan SB Yudhoyono....................
> Apakah sikap Amien Rais ini sifat konsekuen memperjuangkan
bawahan atau
> karena merasa telah memperjuangkan terpilihnya Gus Dur
..................
> Apakah sikap Megawati ini termasuk sikap mengalah demi
kepentingan yang
> lebih besar atau sikap lemah?......................
> Tentang Gus Dur sendiri, saya bisa membayangkan, beliau
menghadapi
> 'kekerasan' begitu dengan santai saja.......Survey membuktikan
bahwa
> karena kebesaran Gus Dur-lah maka beliau di
Capreskan........".
>
> Bung Yap, kita banyak mendapatkan berita burung. Sulit benar
kita kalau
> diajak berspekulasi menilai orang. Manusia adalah makhluk
Tuhan yang amat
> kompleks. Kitapun dari masing2 sumber telah mendapatkan
keyakinan
> sendiri2. Saya umpamanya masih menilai Amin 8, Mega cuma 5.
Bung
> Hihiik Yek mungkin menilai Amin cuma 2. Bung Gigih barangkali
menilai
> Mega 10. Itulah guna pemilu. Memilih sesuai dengan keyakinan
kita.
> Yang penting saya kira SU MPR yang lalu telah menyebabkan kita
semua
> puas sebagian. Tidak total. Dari sini marilah kita beri
kesempatan mereka2
> itu buat bekerja. Kita akan menilai mereka dari apa hasil riil
mereka.
>
> Marilah kita berhenti meminyaki mata dan hati kita dalam
melihat orang
lain.
>
> Wassalam.
> Abdullah Hasan.
>
>
>
>
>
________________________________________________________________
______
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN
SENDIRI
> dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>

________________________________________________________________
______
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!














______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!

Kirim email ke