From: "Marto Blantik" <[EMAIL PROTECTED]>
>----- Original Message -----
>From: Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]>
>To: <[EMAIL PROTECTED]>
>Sent: Saturday, October 30, 1999 11:16 PM
>Subject: Re: [Kuli Tinta] PDIP ( LAGI ) : u/ Blantik
>
>
>> Mas Marto,
>> Demokrasi yang dikembangkan adalah demokrasi perwakilan. Demokrasi
>> beradab yang punya aturan. Keindahan adalah jelmaan aturan bersama
>> yang dipatuhi. Gol indah yang tercipta dari posisi offside, tidak bisa
>> dihitung. Butuh pengertian pada aturan, dan butuh kedewasaan dalam
>> menerima putusan hakim .
---CUT---
>Saya bisa mengerti dengan argumen anda, bahwa begitulah aturan main di
>Indonesia, tetapi aturan main yang bertentangan dengan dengan suara real
>pemilu, yang notabene suara asli dari rakyat, apakah itu yang akan kita
>kembangkan ? Aturan main yang sama itu pula yang melindungi Sukarno jaman
>Orla dan Suharto jaman Orba. Sebelum aturan main yang aneh ini
>diamandemenkan, ya kita balik dulu pada aturan tak tertulis yang menurut
>saya bisa dijadikan pegangan yakni etika dan moral. Bukan suatu kebetulan
>bila Cak Nur juga teriak-teriak tentang etika dan moral, bingungnya kita
>melihat suatu hal yang baik dan buruk, seperti sudah saya postingkan lalu
>(Cak Nur, kok tega-teganya). Saya pikir pernyataan itu ditujukan pada para
>elite politik kita, bukan pada rakyat kebanyakan karena rakyat bawah kita
>selalu mikirnya yang lurus-lurus saja. Kalau enggak ada etika dan moral,
>kita selalu akan bilang, politik itu kotor, itu permainan cantik, dan tiap
>lima tahun kita akan ribut lagi, darah lagi. Itu yang sebenarnya saya
>tanyakan kepada anda Bung Hasan. Apa yang kita wariskan itu demokrasi yang
>tiap lima tahun ribut dan berdarah-darah, permainan uang, permainan cantik,
>apalagi masyarakat kita ini sangat feodal, yang kejam sekali pada rakyat
>kecil, tetapi permisif dan mudah memaafkan meski elitenya menyimpang secara
>moral? Permainan cantik kemarin sungguh berbahaya, dan bisa
>memporak-porandakan Indonesia, apakah 5 tahun kita akan mengulangi hal yang
>sama ?
Menurut saya suatu 'aturan main' itu kembali pada hukum dan sistem hukum
yang berlaku. Seperti yang kita ketahui 'aturan main' Pemilu yang baru lalu
menggunakan metode pemilihan tidak langsung untuk memilih perwakilan. Namun
masalah 'nurani' itu muncul karena rakyat ternyata mengharapkan pemilihan
langsung, dus langsung memilih Presiden. Soal 'permainan cantik',
'berdarah-darah' dan lain sebagainya itu bukan eksklusif di Indonesia saja,
menurut saya itu tidak lain adalah ekses negatif dari DEMOKRASI,
pemerintahan dari, untuk, dan oleh rakyat. Sebagai contoh dari "sisi
gelap"-nya demokrasi adalah ketika Adolf Hitler naik menjadi Kanselir
Jerman pada tahun 1933, tahukah anda bahwa naiknya Hitler itu adalah karena
dia menang Pemilu? Hitler menjadi pemimpin Jerman karena dipilih dan
didukung rakyat, karena itulah 'suara nurani' dari rakyat Jerman. Itulah
demokrasi, kalau memang kita ingin demokratis harus menerima segala
konsekuensinya. Menurut saya upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi
atau mencegah terjadinya 'permainan berdarah'---minimal dalam 5 tahun ini
sebelum Pemilu berikutnya---adalah dengan meningkatkan pendidikan dan
pemahaman politik secara luas, jadi rakyat tahu dan paham bagaimana cara
mengatur negara melalui 'aturan main' yang dia buat sendiri melalui
jalur-jalur legislatif. Itu kan yang kita inginkan?
Wassalam,
Paladin A.
ICQ 50753984
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!