Terima kasih pak Hasan atas penjelasannya. Untuk sekedar meramaikan, dari
saya cukup segitu saja, biar rekan lain yang nerusin.
Wassalam,
Yap
>From: "Abdullah Hasan" <[EMAIL PROTECTED]>
>To: "Millis Kuli-Tinta" <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: Re: [Kuli Tinta] PDIP ( LAGI ) : u/Yap
>Date: Thu, 28 Oct 1999 16:23:08 +0700
>
>Saudaraku Yap yang saya hormati,
>Anda mungkin kurang konsentrasi. Ron Moreau di Newsweek yang saya
>kutip, bicara soal nihilnya "pola pikir" alias main ilmu batin. Saya kok
>menduga itu betul. Jadi yang namanya "yang dogmatis dan pakem standard"
>cuma ilmu mistis nunggu durian runtuh dari kahyangan. Di tahun 2000 ini,
>"pola pikir" seperti itu ya diketawai banyak orang. Hasilnya pasti Gatot.
>Gagal Total, seperti kenyataan yang membuat nangis banyak orang itu.
>
>Yang harus dikerjakan bukan menghalalkan segala cara. Apalagi berbuat
>haram menonjolkan otot dan memamerkan kebolehan mengocor darah.
>Anak SMA saya kira sudah mulai tahu . Simply, to negotiate. Berunding
>bersama. Aktif , bukan cuma menunggu diujung ruang kaya Siti Nurbaya
>menunggu digoda jejaka. Saya tidak percaya orang PDIP tidak tahu hal itu.
>Tapi PDIP tidak melakukan itu. Saya curiga kejadian yang dilihat banyak
>orang tersebut adalah "perintah" Mbak Mega. ( maaf banyak lho. sekarang
>sudah bukan waktunya untuk nyek2an ( ledek2an). Saya cuma berusaha
>berpikir rasionil saja, untuk keperluan diskusi).
>
>Kalah dan Jadi bulan-bulanan. Lebih sehat kalau anda berhenti pada kata
>'kalah". Nanti dikira ngambeg lho ! Kalah total kan tidak, PDIP berhasil
>mendapat Wapres ( nilainya tujuh menteri) walaupun sedikit tidak indah
>( baca laporan WAM soal kebangkrutan : with smile).
>
>Yap kemudian menulis :
>"..Saya perlu bertanya arti kata modern, urut dan indah bagi PAN, PBB
>atau PK yang seingat saya dalam meraup massa diantaranya jelas jelas
>menjanjikan memperjuangkan Amien Rais, Yusril Ihza .... Tidak satupun
>dari Partai-partai itu mencalonkan Gus Dur.... hanya PBB yang masih
>konsisten maju dengan Prof Yusril, tetapi itupun menarik diri ...menerima
>sumpah Gus Dur untuk tidak akan mundur dari pencapresan. Jadi
>pencapresan Yusril lebih didasari ketidak percayaan atas keseriusan
>Gus Dur..daripada memenuhi janji kampanye. Apakah ini yang dimaksud
>modern, urut dan indah?......."
>
>Arti kata modern berhubungan dengan yang diatas. Mereka tidak meng-
>gunakan "ilmu batin" dan mistik. Mereka memakai beberapa perangkat
>seperti kemampuan negosiasi, mereka menggunakan setiap potensi organi-
>sasi, tidak terborgol kaku diam oleh pucuk pimpinan saja.
>Yang lain yang amat penting ,tidak menganggap figur presiden setingkat
>nabi , sehingga layak ngocor darah atawa revolusi. Ngotot, saya kira
>bukanlah hal modern.Bila ditingkat negosiasi tidak ada harapan, cari
>yang lain. Negeri ini menyimpan ratusan orang layak presiden bila kita
>sepakat pakai otak. Partai Keadilan yang banyak S2 & S3-nya , dengan
>humble mencalonkan seorang ustat kampung sederhana. Bukan seorang
>Bintang gemerlap. Mereka tahu betul pasti kalah. Tujuannya cuma
>pesan gampang , tapi tidak sederhana : Banyak orang layak Presiden di
>negeri ini.
>
>Ada lagi yang saya anggap modern. Yang penting bukan alat , tapi tujuan
>dan cara mencapai tujuan. Konsisten dengan calon memang tindakan heroik
>Tapi amat kekanak-kanakan. Itu adalah konsisten kepada alat. Dengan
>modern , partai2 yang anda sebut seperti PAN, PBB, dan PK mengganti
>calon, tapi tetap berusaha mendapat kepastian negeri ini dikelola sedekat
>mungkin dengan ideal mereka. Mereka dengan gigih berunding , kalau perlu
>meminta janji, meminta sumpah, dan mengukur visi calon lain yang bakal
>disetujuinya. Bukan dagang sapi seperti yang dipahami sebagian orang
>tradisionil. Itu namanya Negosiasi. Itulah demokrasi : tidak mesti
>mendapatkan semua yang dimaui.
>
>Kiprah PBB, Yusril dan Mardjono menurut saya adalah salah satu yang
>terindah dalam SU MPR. Langkah mereka setajam pisau silet. Sama sekali
>tidak memberikan ruang nakal pada lawan. Mereka mau Gus Dur tidak mau
>Mega. Mereka bukan lagi anak bangsa jaman dulu yang gampang dibodohi
>oleh Londo Eropa. Mereka berbuat hal yang halal dan cerdas. Bagi saya
>sekali lagi, amat mengagumkan. Seperti Kasparov!
>
>Keindahan dalam politik adalah kecerdasan kombinasi langkah halal untuk
>mencapai tujuan. Urut yang saya maksud adalah kefasihan dalam pengung-
>kapan. Transparan. Bukan cuma diam yang membingungkan dan mengun-
>dang teka-teki. Bisa dikatain bloon!. Urut bisa pula berarti sadar
>tahapan.
>Umpamanya : setelah pemilu, ada sidang MPR. Setelah menang pemilu,
>mesti menang pula ditahap berikut. Kemudian selain presiden apa...
>Kalau ada partai yang cuma terobsesi meng-Gol-kan Presiden saja apakah
>bisa dikatakan modern ? Alasannya amanat Kongres. Hayoh Toh !
>Apakah itu yang dinamakan Pakem Standard ? Nanti keliru dengan Parem
>( kocok) Standard? Ya ketinggalan, mas......
>Persis benar seperti yang anda ( Yap) katakan:
>"Seingat saya sejak PDIP konggres di Bali sampai berakhirnya Sidang Umum
>MPR
>omongan PDIP ya cuma itu, berusaha memenangi Pemilu dan memperjuangkan Mega
>menjadi Presiden. Dan ketika Capresnya ternyata kalah... Jadi bukan cuma
>simbol dong, tetapi memang sudah main transparan, sekalipun gagal."
>
>Anda nulis lagi :
>"Tentang ngamuknya pendukung Mega, saya dengar mereka merasa ada akrobat
>politik yang tidak wajar dalam proses persidangan SUMPR....lewat tengah
>malam pukul 02.10 setelah PPJ Presiden Habibie resmi ditolak MPR,..........
>Apakah gerangan kompetensi kelima tokoh yang bukan Golkar ini sowan ke
>Patra
>Kuningan bukan pada layaknya jam bertamu? Apakah dalam rangka modern, urut
>dan indah itu?..."
>
>Persis bung Yap. Kita jangan mengira sidang MPR adalah mainan anak
>bawah 17. Perundingan bisa alot , kejam, dan melelahkan. Jangan cuma
>terpaku pikiran ngeres dan porno saja. Perundingan seperti itulah yang
>diha-
>dapi para businessman ketika berhadapan dengan orang Korea, Jepang,
>atau Amerika !. Ini urusan super penting !
>
>Yap :
>"Dari posting seorang netter disini ada info bahwa Amien Rais menerima
>limpahan dana Bank Bali konon dari Habibie. Apa berita itu hanya sekedar
>fitnah atau masih ada hubungannya dengan modern, urut dan indah itu?"
>
>Ini termasuk sisi kejamnya. Fitnah, pembunuhan karakter, jegal-jegalan.
>Tapi kita semakin tahu dan biasa. Kitapun tahu cara memperlakukannya:
>anggap Kentut saja !.
>
>
>Yap menulis ;
>"Tentang perngamukan itu, dalam skala yang berbeda kita juga melihat
>represifnya pendukung Gus Dur, sehingga seorang Mi'ing...
>Padahal apa kata Gus Dur? "Mi'ing itu teman kita".
>Perngamukan juga terjadi dikelompok Iramasuka dan di Makassar..
>Boleh dong dibilang kekecewaan, apalagi ketersinggungan dapat menghasilkan
>perngamukan grass root pada kelompok manapun, bukan hanya PDIP."
>
>Ya nggak boleh, dong! Kita semua mesti menolak pengamukan2 yang
>terjadi meskipun kita bisa mengerti. Tradisi bola Eropa menghukum Club
>yang pendukungnya main Holliganisme. Pemilik Club tidak bisa pura-
>pura bloon : Itu bukan dari warga saya ! Kuno. mas ! Apalagi kalau
>kerusakan yang ditimbulkan milyar2an. Pemilik Club wajib ngajari
>pendukungnya berkelakuan beradab meski tersinggung. Disitu akan diukur
>kemampuan sang manager. Yang ini terang masuk kepada modern, urut,
>dan indah itu.....
>
>Anda menulis :
>"........ Amien Rais sampai menggebrak meja, sehingga beberapa kali
>susunan Kabinet diubah. Dan bahkan kabarnya Gus Dur dengan piawai
>menempatkan SB Yudhoyono....................
>Apakah sikap Amien Rais ini sifat konsekuen memperjuangkan bawahan atau
>karena merasa telah memperjuangkan terpilihnya Gus Dur ..................
>Apakah sikap Megawati ini termasuk sikap mengalah demi kepentingan yang
>lebih besar atau sikap lemah?......................
>Tentang Gus Dur sendiri, saya bisa membayangkan, beliau menghadapi
>'kekerasan' begitu dengan santai saja.......Survey membuktikan bahwa
>karena kebesaran Gus Dur-lah maka beliau di Capreskan........".
>
>Bung Yap, kita banyak mendapatkan berita burung. Sulit benar kita kalau
>diajak berspekulasi menilai orang. Manusia adalah makhluk Tuhan yang amat
>kompleks. Kitapun dari masing2 sumber telah mendapatkan keyakinan
>sendiri2. Saya umpamanya masih menilai Amin 8, Mega cuma 5. Bung
>Hihiik Yek mungkin menilai Amin cuma 2. Bung Gigih barangkali menilai
>Mega 10. Itulah guna pemilu. Memilih sesuai dengan keyakinan kita.
>Yang penting saya kira SU MPR yang lalu telah menyebabkan kita semua
>puas sebagian. Tidak total. Dari sini marilah kita beri kesempatan mereka2
>itu buat bekerja. Kita akan menilai mereka dari apa hasil riil mereka.
>
>Marilah kita berhenti meminyaki mata dan hati kita dalam melihat orang
>lain.
>
>Wassalam.
>Abdullah Hasan.
>
>
>
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!