...
>Irwan:
>Dan menurut saya mereka juga harus dipilih oleh rakyat.
Yw: Exactly. Maksud saya pemilihan khusus adalah itu.
Oleh rakyat, tapi bukan 200 juta seluruhnya, tapi
segmen tertentu (yg memang sedang nyari wakil).
Jelas bukan presiden. Presiden tukang cap. Walopun
tentunya, bisa aja, presiden bijak dalam milih
yg 200 itu.
...
>Bila main sistem pengangkatan tampaknya pemilu sekarang
>ini mengandung bahaya besar berjayanya pro status quo....:(
>Saya kutipkan penjelasan saya dalam posting sebelumnya
>dibawah subyek forkot.
Yw: Tidak juga. Di bawah saya komentari, deh.
>-----------------awal kutipan-------------
>Coba lihat lagi mengenai pemilu khususnya mengenai susunan
>anggota MPR/DPR kelak.
>Akan ada 700 anggota MPR/DPR.
>38 jatah ABRI/TNI (pengangkatan)
>200 jatah utusan golongan dan utusan daerah (pengangkatan).
Yw: Yg 38 itu, logisnya satu suara (kalo voting).
Tapi kalo pembahasan/musyawarah, ya bisa macem-macem
(karena misah-misah di berbagai komisi).
Sekarang kita fokuskan saja dalam mengambil keputusan
memilih presiden. Okay?
Apakah yg 38 (Tni) akan tampil bersikukuh memperjuangkan
BJ. Habibie? Atau Wiranto? Di jaman seperti ini?
If you think so, please think again more deeply.
Salah satu interest Tni adalah memperbaiki citra.
Iya, kan? Dan utk itu, dalam posisi demikian mereka
akan, insya Allah, memilih strategi tut wuri handayani.
Karena handayani itu orangnya memang cantik.
Eh, tapi itu handayani yg lain lagi, ding. ;-)
Sampe mana tadi?
Nah, dg cara handayani itu, siapapun yg menang (jadi
presiden), Tni akan ikut menang! (In one way or
another).
Yg 200, mungkin pro Habibie (atau mungkin pro
status quo whatever that is), tapi JELAS
bukan orang gila. Alias yg 200 itu semuanya orang
waras. Bisa mikir nggak ketang dikit. Iya nggak?
Tingkah laku mereka di dewan/majelis, 'dilihat'
oleh rakyat; dan kalo terlalu 'nyleneh', mungkin
bisa 'habis' di jalanan. Apa mereka mau?
Mereka bukan martir (most of them), yg siap
mati demi status quo. Saya yakin ini.
Apalagi orde baru menciptakan cara voting terbuka
(berdiri, etc). Gampang ditandai... siapa milih
apa... Jadinya cara voting ciptaan orde baru itu
'makan tuan'.
Habibie pun, tdk akan secara vulgar memilih
200 orang yg semuanya jelas-jelas pro dia, dan
siap mati utk membela dia. Iya nggak?
>Yang diperebutkan dalam pemilu berarti ada 462 kursi.
>Asumsikan Golkar dengan segala cara hanya mampu
>mendapatkan 10% saja dari 462, katakanlah 46 kursi.
Yw: Golkar 10%. I doubt. Less than 5% will be more
likely. Katakanlah 20 kursi doang udah untung.
(Peluangnya 75%, I'll say utk dapet less than 5%).
>Maka dengan modal 238 dari hasil pengangkatan maka
>jumlah suara yg akan menggolkan calon Golkar menjadi
>284.
Yw: Ini tidak lebih dari mitos.
>Asumsikan akan terjadi pemungutan suara dalam
>pemilihan presiden dimana pengumpul suara terbanyak
>akan terpilih. Dengan kata lain dibutuhkan 351 suara
>untuk bisa menjadi presiden periode mendatang.
>Dengan skenario di atas maka Golkar hanya membutuhkan
>suara tambahan sekitar 67 suara saja.
Yw: Gile bener... Ini jauh dari fakta.
Koordinasi di Indonesia saat ini adalah
hal paling kalang kabut... Iya nggak?
Di sisi sana itu banyak 'tokoh'. Andaikan
berhasillah 351 orang pro 'orang lama'...
Kan orang lama itu banyak, Pak. Andai
tampil calon:
1. Habibie
2. Wiranto
3. Rudini
4. Tri Sutrisno
5. Nurkolis Majid
6. Mar'ie Muhamad
7. Amien Rais
8. Gus Dur
9. Mega
Terus voting... Kalo sampe 351 orang itu
semuanya milih Habibie... saya yakin itu
bukan terjadi di Indonesia.
Apa anda yakin kekuatan status quo sekompak
itu? Andaikan mereka sekompak itu,
Mereka tdk akan lengser at the first place...
Perpecahan di dalam itu luar biasa. (I suspect)
>Ke-67 suara ini bisa didapat Golkar dari:
>1.Setiap tambahan hasil pemilu yg lebih dari 10% yg didapat Golkar.
Yw: 10% aja belum tentu dapet,...
>2.Koalisi dengan partai2 lain, termasuk partai gurem, dengan
> iming2 uang atau pun jabatan.
Yw: Dapet 1 milyar, tapi beberapa waktu kemudian keluarga/orang-
kesayangannya bisa mati di jalanan? Rumahnya dibakar, dlsb?
Kebanyakan orang rasanya lebih milih slamet. Karena
si slamet itu memang imut-imut orangnya. Eh, itu tentunya
slamet yg lain lagi. ;-)
>3.Pembelian suara yg disinyalir oleh bung Efron sudah disiapkan
> dana sampai triliunan rupiah.
Yw: Mana uangnya? Dan di jaman apa-apa bocor seperti sekarang,
apakah mungkin gerakan sebesar itu tdk ketahuan?
Menutup mulut orang 10, emangnya gampang? (Not to mention
67 or 351). Kekuatan riil sekarang ada di jalanan
(mahasiswa etc). Mereka sampe tahu, trik vulgar seperti
itu, nggak ada gunanya menang di senayan...
>--------akhir kutipan------
>
>Saya tidak tahu seberapa besar resiko ini sudah diperhitungkan
>oleh kelompok Megawati, Gus Dur, Amien Rais.
>Karenanya saya perhatikan Golkar santai2 saja ngga begitu
>takut menghadapi pemilu sekarang karena tampaknya
>mereka sudah memiliki kartu trufnya.
Yw: Mereka (setahu saya), yakin bahwa ada 40% di dewan/
majelis yg akan seiya-sekata dg mereka... Tapi
keyakinan mereka itu bisa kosong... Apa pemersatunya?
Apakah uang? Apakah bisa greedy people bersatu dg
basis uang?
>Menurut saya, mereka
>justru sangat menginginkan pemilu sekarang bisa berlangsung
>dengan jurdil agar bisa melegitimasikan kekuasaannya.
>Sehingga kelak mereka bisa berkoar bahwa pemerintahan mereka
>adalah pemerintahan yg diingini rakyat, yg protes2 itu adalah
>yg tidak didukung oleh rakyat.
>Saya koq jadi kebayang akan ada revolusi rakyat bila hal ini
>yg terjadi.
Yw: Insya Allah tidak akan terjadi. (Peluangnya utk tidak
terjadi, menurut saya 99%).
...