In a message dated 5/25/99 2:36:44 AM Eastern Daylight Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:

> Yw: Exactly. Maksud saya pemilihan khusus adalah itu.
>      Oleh rakyat, tapi bukan 200 juta seluruhnya, tapi
>      segmen tertentu (yg memang sedang nyari wakil).
>      Jelas bukan presiden. Presiden tukang cap. Walopun
>      tentunya, bisa aja, presiden bijak dalam milih
>      yg 200 itu.

Irwan:
Nah, yg terjadi sekarang itu ngga begitu bung Yusuf.
Makanya saya pertanyakan dalam posting terdahulu.
Kesalahan kita waktu jaman orba itu khan membiarkan
terjadinya pengangkatan 600 orang dari 1000 orang
anggota MPR/DPR. Ya jelas aja, ngga usah pakai pemilu
pun, Soeharto pasti kepilih lagi. Ini khan ngga bener.
Jaman masih mahasiswa di Jakarta dulu (1991/92),
kami sudah melayangkan protes akan hal ini. Tapi
kelihatannya gagal. Wong dulu protesnya masih pakai
cara "sopan2" ngga seperti sekarang yg berani maju
hanya bertamengkan semangat.


>  >-----------------awal kutipan-------------
>  >Coba lihat lagi mengenai pemilu khususnya mengenai susunan
>  >anggota MPR/DPR kelak.
>  >Akan ada 700 anggota MPR/DPR.
>  >38 jatah ABRI/TNI (pengangkatan)
>  >200 jatah utusan golongan dan utusan daerah (pengangkatan).
>
>  Yw: Yg 38 itu, logisnya satu suara (kalo voting).
>      Tapi kalo pembahasan/musyawarah, ya bisa macem-macem
>      (karena misah-misah di berbagai komisi).
>      Sekarang kita fokuskan saja dalam mengambil keputusan
>      memilih presiden. Okay?

Irwan:
Fakta lapangan 38 anggota ABRI/TNI itu memiliki 38 suara.

Yusuf:
>      Apakah yg 38 (Tni) akan tampil bersikukuh memperjuangkan
>      BJ. Habibie? Atau Wiranto? Di jaman seperti ini?
>
>      If you think so, please think again more deeply.
>      Salah satu interest Tni adalah memperbaiki citra.
>      Iya, kan? Dan utk itu, dalam posisi demikian mereka
>      akan, insya Allah, memilih strategi tut wuri handayani.
>      Karena handayani itu orangnya memang cantik.
>      Eh, tapi itu handayani yg lain lagi, ding. ;-)

Irwan:
Seberapa jauh anda yakin akan hal ini?
Wong masalah Trisakti dan Semanggi aja ngga berani
diteruskan sampai tuntas. Bagaimana pula dengan
kasus Aceh, yg tampaknya bukan makin kalem malah
makin rame, apa ini usaha2 TNI yg sedang mencoba
memperbaiki citra tersebut? Saya ragukan.

Setelah pemilu nanti, saya perkirakan akan terjadi
tarik2an suara dengan adu tawar2an. Bukannya
tidak mungkin nanti agar TNI mendukung salah
satu kekuatan, maka akan ditawarkan jabatan, mungkin
wapres. Golkar dengan keuntungannya meraih "suara dukungan"
sebanyak sekitar 238 tanpa melalui pemilu itu jelas merupakan
partai yg berpeluang besar menjadi mayoritas dalam MPR mendatang
apalagi ditambah dengan partai2 yg memang dibuat untuk
mendukung Golkar atau memang menantikan uang politik.


Yusuf:
>      Yg 200, mungkin pro Habibie (atau mungkin pro
>      status quo whatever that is), tapi JELAS
>      bukan orang gila. Alias yg 200 itu semuanya orang
>      waras. Bisa mikir nggak ketang dikit. Iya nggak?
>
>      Tingkah laku mereka di dewan/majelis, 'dilihat'
>      oleh rakyat; dan kalo terlalu 'nyleneh', mungkin
>      bisa 'habis' di jalanan. Apa mereka mau?
>      Mereka bukan martir (most of them), yg siap
>      mati demi status quo. Saya yakin ini.
>
>      Apalagi orde baru menciptakan cara voting terbuka
>      (berdiri, etc). Gampang ditandai... siapa milih
>      apa... Jadinya cara voting ciptaan orde baru itu
>      'makan tuan'.

Irwan:
Apakah sudah disepakati voting mendatang akan dilakukan
secara terbuka? Khan bisa saja dilakukan secara tertutup.
Kalau ngga salah isu yg saya dengar akan dilakukan secara
tertutup.

Yusuf:
>      Habibie pun, tdk akan secara vulgar memilih
>      200 orang yg semuanya jelas-jelas pro dia, dan
>      siap mati utk membela dia. Iya nggak?

Irwan:
Kalau saya jadi Habibie, saya ngga akan berspekulasi
demikian. Saya akan pilih orang2 yg kelak akan memilih
saya. Tinggal cari orang2 yg pandai beraktif saja yg pura2
tidak mendukung saya tapi nanti dalam voting tertutup
tersebut akan memilih saya. Tentunya iming2 uang akan
terus berlangsung.


>  Yw: Golkar 10%. I doubt. Less than 5% will be more
>      likely. Katakanlah 20 kursi doang udah untung.
>      (Peluangnya 75%, I'll say utk dapet less than 5%).

Irwan:
Saya tidak tahu kondisi lapangan. Dalam kondisi seperti
sekarang, apa saja bisa terjadi. Saya cenderung tidak
mau mengambil resiko. Karenanya akan jauh lebih aman
bila jumlah pengangkatan yg 238 itu dihapuskan.
Bukankah akan lebih gampang mengalahkan kekuatan
pro status quo bila sistem pengangkatan itu dihapuskan?
Kalau memang ya, kenapa kita harus berspekulasi
dengan suara 238 tersebut?

Irwan:
>  >Asumsikan akan terjadi pemungutan suara dalam
>  >pemilihan presiden dimana pengumpul suara terbanyak
>  >akan terpilih. Dengan kata lain dibutuhkan 351 suara
>  >untuk bisa menjadi presiden periode mendatang.
>  >Dengan skenario di atas maka Golkar hanya membutuhkan
>  >suara tambahan sekitar 67 suara saja.
>
>  Yw: Gile bener... Ini jauh dari fakta.
>      Koordinasi di Indonesia saat ini adalah
>      hal paling kalang kabut... Iya nggak?
>      Di sisi sana itu banyak 'tokoh'. Andaikan
>      berhasillah 351 orang pro 'orang lama'...
>      Kan orang lama itu banyak, Pak. Andai
>      tampil calon:

Irwan:
Saat ini saya sudah sulit untuk bisa percaya dengan
tokoh2 tersebut. Sebentar bilang A, sebentar lagi
bilang B. Sebentar dukung A, sebentar lagi dukung B.
Bisa berubah2 seperti arah angin saja.

Yusuf:
>      1. Habibie
>      2. Wiranto
>      3. Rudini
>      4. Tri Sutrisno
>      5. Nurkolis Majid
>      6. Mar'ie Muhamad
>      7. Amien Rais
>      8. Gus Dur
>      9. Mega
>
>      Terus voting... Kalo sampe 351 orang itu
>      semuanya milih Habibie... saya yakin itu
>      bukan terjadi di Indonesia.

Irwan:
Bisa saja demikian, tapi ujung2nya suara Habibie
yg akan paling banyak di antara yg lainnya.
Wong antara Amien Rais, Megawati, Gus Dur,
dan dari wakil2 lainnya kebanyakan
pada milih calonnya masing2 koq. Jadi, tugas
menggolkan Habibie akan jauh lebih ringan.
Bukan begitu bung Yusuf?

Yusuf:
>      Apa anda yakin kekuatan status quo sekompak
>      itu? Andaikan mereka sekompak itu,
>      Mereka tdk akan lengser at the first place...
>      Perpecahan di dalam itu luar biasa. (I suspect)

Irwan:
Apa yg kelihatan dari luar belum tentu sama
dengan di dalam. Mungkin ada satu dua suara yg membelot,
tapi saya ragukan jumlahnya akan banyak.

Irwan:
>  >Ke-67 suara ini bisa didapat Golkar dari:
>  >1.Setiap tambahan hasil pemilu yg lebih dari 10% yg didapat Golkar.


>  Yw: 10% aja belum tentu dapet,...

Irwan:
Apakah anda sudah mendengar adanya bundelan
kertas suara yg hilang?
Saya juga sudah mendengar bahwa dengan bermodal
fotokopi KTP saja dan tanpa yg bersangkutan hadir,
sudah bisa mendaftar ikut pemilu.
Tampaknya cara2 lama kemungkinan besar akan
dilakukan kembali.

Irwan:
>  >2.Koalisi dengan partai2 lain, termasuk partai gurem, dengan
>  >  iming2 uang atau pun jabatan.
>
>  Yw: Dapet 1 milyar, tapi beberapa waktu kemudian keluarga/orang-
>      kesayangannya bisa mati di jalanan? Rumahnya dibakar, dlsb?
>      Kebanyakan orang rasanya lebih milih slamet. Karena
>      si slamet itu memang imut-imut orangnya. Eh, itu tentunya
>      slamet yg lain lagi. ;-)

Irwan:
Seperti yg saya katakan, lain luar bisa lain dalamnya.
Bila voting pemilihan presiden dilakukan secara tertutup,
tampaknya peluang Habibie akan semakin besar.
Berdasarkan pengalaman, tampaknya tidak terlalu sulit
buat Golkar untuk menggolkan aturan voting dalam
MPR menjadi voting tertutup. Wong yg dulu aja
bisa tiba2 microphone menghilang koq dari meja
untuk menghindari interupsi.


Irwan:
>  >3.Pembelian suara yg disinyalir oleh bung Efron sudah disiapkan
>  >  dana sampai triliunan rupiah.
>
>  Yw: Mana uangnya? Dan di jaman apa-apa bocor seperti sekarang,
>      apakah mungkin gerakan sebesar itu tdk ketahuan?
>      Menutup mulut orang 10, emangnya gampang? (Not to mention
>      67 or 351). Kekuatan riil sekarang ada di jalanan
>      (mahasiswa etc). Mereka sampe tahu, trik vulgar seperti
>      itu, nggak ada gunanya menang di senayan...

Irwan:
Lha, kalau yg akan dapat duit berlimpah itu dijamin aman,
apa ngga mungkin mereka mau menerimanya?
Dari mana duitnya? Saya duga akan datang dari Soeharto dan
keluarga. Mereka tentu berusaha untuk melindungi hartanya
agar ngga diganggu gugat. Dan tampaknya saya perhatikan
Soeharto masih tetap memilih Habibie yg tampaknya masih
bisa dikendalikan. Buktinya? Lihat saja pengadilan Soeharto
itu berjalan seperti sandiwara. Pembicaraan antara Habibie
dengan Andi Ghalib jelas2 menunjukkan ketidakseriusan
mereka mengusut perkara Soeharto. Belum lagi ulah
Andi Ghalib yg terkesan lebih sebagai pembela Soeharto
ketimbang penuntutnya.
Kalau saya jadi Soeharto, kekayaan yg 15 milyar dolar AS itu
tidak akan menjadi masalah bila berkurang sekitar 1 milyar dolar
asalkan sisa hartanya terjamin selamat. Satu milyar dolar AS
itu khan sama dengan 8 triliun rupiah. Jadi apa yg sempat
dilontarkan oleh bung Efron, tampaknya cukup besar kemungkinan
terjadinya.

Irwan:
>  >Menurut saya, mereka
>  >justru sangat menginginkan pemilu sekarang bisa berlangsung
>  >dengan jurdil agar bisa melegitimasikan kekuasaannya.
>  >Sehingga kelak mereka bisa berkoar bahwa pemerintahan mereka
>  >adalah pemerintahan yg diingini rakyat, yg protes2 itu adalah
>  >yg tidak didukung oleh rakyat.
>  >Saya koq jadi kebayang akan ada revolusi rakyat bila hal ini
>  >yg terjadi.
>
>  Yw: Insya Allah tidak akan terjadi. (Peluangnya utk tidak
>      terjadi, menurut saya 99%).

Irwan:
Saya harap pun demikian, bung Yusuf. Hanya saja saya lebih
senang memilih jalur aman dengan membatalkan kebijakan
yg memberikan kesempatan pengangkatan atas 200 + 38 orang tsb.
Saya tidak berharap terjadi ramai2 di tanah air, tapi saya
juga tidak berharap kekuatan Golkar cs kembali memimpin
negeri kita.

jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

Kirim email ke