Biasaaa ......... namanya juga IBLIS ! dalam setiap kesempatan ingin memfitnah Islam; ingin menghancurkan Islam. Yang tak ada hubungan apapun; sengaja di COCOK2an supaya ada hubungan. UJUNGNYA nembak ISLAM ! Inilah perbuatan IBLIS memang.
--- In [email protected], Musik hari Ini <musikhariini@...> wrote: > > Apa yang mesti diwaspadain jelas tokoh Kartini ini diciptakan Oleh penjajah > Belanda > Dalam > sebuah tulisan ada pendapat bahwa Kartini > sengaja dimajukan oleh orang-orang Belanda sebagai tokoh kunci pejuang > emansipasi perempuan.tokoh sosialisme, H.H. van Kol, > dan penganjur politik etis, C.Th. van Deventer, adalah orang-orang yang > berada di belakang layar. Satu lagi tokoh kolonial yang turut berperan > adalah Snouck Hurgronje. Banyak disebut, pakar Islam dan penasihat > pemerintah Hindia Belanda ini mendorong J.H. Abendanon untuk > âmemperhatikanâ Kartini. > > Contohnya saja, pada dekade 1980-an, guru besar Universitas Indonesia, > Prof. Dr. Harsya W. Bachtiar dalam tulisannya âKartini dan Peranan > Wanita dalam Masyarakat Kitaâ di buku Satu Abad Kartini mengemukakan > bahwa kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di > Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak menciptakan sendiri > lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya. > Intinya, ia menggugat pengkultusan Kartini sebagai pahlawan nasional > Indonesia. Lalu, pada 9 April 2009, sejarawan Persis, Tiar Anwar > Bachtiar juga mengungkapkan hal senada. Dalam artikelnya âMengapa Harus > Kartini?â > > Lalu di manakah posisi tokoh perempuan lainnya saat itu? Ke mana > nama-nama seperti Tjoet Tjak Dhien, Dewi Sartika, Christina Marta > Tiahahu, Rohana Kudus, RAA Lasminigrat, Malahayati, dan para pejuang > perempuan lainnya yang hidup semasa Kartini? Bukankah praktik perjuangan > mereka lebih nyata dibandingkan Kartini? Tjoet Tjak Dhien (1848-1908) > hingga akhir hayatnya tetap melawan Belanda. Dewi Sartika (1884-1947) > berhasil mendirikan sekolah di Bandung dan luar Bandung pada 1910, meski > awalnya permohonannya kepada pemerintah ditolak lantaran ayahnya tidak > loyal kepada pemerintah. Rohana Kudus (1884-1972) juga mendirikan > beberapa sekolah di kampung halamannya, Padang. Ia juga merupakan > wartawati pertama di Indonesia. Selain itu, Rohana adalah penentang > keras poligami. âPoligami itu harus dilarang. Poligami itu merugikan > perempuan!â tulis Rohana di Soenting Melajoe (1912). RAA Lasminingrat > (1843-1948) asal Garut merupakan pengarang yang luar biasa. Bukunya > pernah dicetak sebanyak 6.015 eksemplar pada 1875. Ia konsentrasi pada > kemajuan pendidikan perempuan Sunda. Ia berhasil mendirikan sekolah > Keutamaan Istri di ruang gamelan Pendopo Kabupaten Garut pada 1907. Saat Dewi > Sartika kesulitan mendapat ijin mendirikan sekolah, Lasminingrat > turut mendukung dengan cara membujuk bupati Bandung. Yang miris, RAA > Lasminingrat dan Rohana Kudus hingga kini belum diangkat sebagai > Pahlawan Nasional, dan perjuangannya nyaris luput dari perhatian publik. > > Selama ini, umum memahami kalau yang disebut > pahlawan adalah mereka yang menentang kekuasaan kolonial. > > Tapi Kartini pada > pemikirannya, tak ada upaya tentang perlawanan itu. Kartini bahkan > cendrung toleran terhadap Belanda. Kartini sepertinya cuma > berbicara sebatas ruang lingkup Jawa saja, tidak pernah menyinggung suku > bangsa lain di Indonesia > > Pertanyaannya kemudian, apakah tokoh-tokoh ini sengaja ditenggelamkan? > Ada dugaan kalau Snouck sengaja mendorong nama Kartini sebagai semacam > âtamengâ bagi nama-nama tokoh perempuan lain yang lebih progresif pada > masa itu. Ia membentuk penokohan Kartini yang seorang muslim dan Jawa > sebagai ikon perjuangan perempuan di tanah Hindia Belanda. Ia berusaha > menutupi perjuangan perempuan lain yang jelas-jelas antikolonialisme dan > menentang pemerintah penjajah. Dengan kata lain, Belanda tak ingin > generasi perempuan selanjutnya kenal dan mengagumi tokoh-tokoh perempuan yang > lebih intens menentang kolonialisme. Apakah pemerintah kolonial > sengaja membatasi pemberitaan tentang perjuangan-perjuangan mereka dulu? > Entahlah, tapi jika kita berkaca pada minimnya catatan sejarah tentang > mereka, kita patut menduga demikian. Mungkin inilah yang dinamakan: > cerita orang-orang âkalahâ karena sudah memberontak, kalau tidak mau > âkalahâ, jangan memberontak. > > Betul Kartini menyadari. betapa tertinggalnya pendidikan kaum perempuan di > negerinya. Ia juga berencana mengikuti Sekolah Guru di Belanda. Beasiswa dari > Pemerintah Belanda pun telah berhasil diperolehnya. Tapi, ia mesti > menguburnya dalam-dalam keinginannya itu, karena tidak mendapat ijin > dari ayahnya. Ada yang unik setelah Kartini gagal pergi ke Belanda. > Beasiswa yang didapatnya ini lalu ia alihkan kepada Agus Salim, tokoh > pergerakan nasional asal Sumatra Barat. Kartini tahu, Agus Salim yang > usianya lebih muda 5 tahun di bawah dia, merupakan pemuda yang cerdas. > Pada 1903, Agus Salim lulus dari HBS (Hogere Burgerschool) dalam usia 19 > tahun sebagai lulusan terbaik di tiga kota, Jakarta, Surabaya, dan > Semarang. Dengan prestasi ini, Agus Salim berharap pemerintah > mengabulkan permintaan beasiswanya untuk melanjutkan sekolah ke Belanda. Tapi > permintaan itu ditolak. Saat Pemerintah Belanda menyetujui maksud > Kartini, Agus Salim justru menolaknya. Ia beranggapan bahwa pemberian > beasiswa tersebut atas dasar ârasa kasihanâ, bukan kecerdasannya. Agus > Salim juga tersinggung dengan pemerintah kolonial yang diskriminatif. > > Sedangkan sahabat nya Rosa Manuela > Abendanon-Mandri. Ia merupakan istri dari J.H. Abendanon, seorang > pejabat Belanda yang dikirim ke Hindia Belanda untuk menjalankan > kebijakan politik etis. J.H. Abendanon dalam perjalanan karirnya > diangkat menjadi menjadi Direktur Pengajaran, Ibadah, dan Kerajinan > Hindia Belanda. Dengan Rosa Abendanon inilah Kartini aktif mencurahkan > isi hatinya lewat surat. Keluarga Abendanon sendiri tinggal di Batavia. > > Penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar nasional untuk > memaknai perjuangannya dalam melepaskan belenggu kaum perempuan, seperti > pendidikan dan persamaan hak, menimbulkan pertanyaan tentang mengapa > hanya Kartini yang dipilih sebagai tokoh sentral. Hal ini bisa sedikit > terungkap jika kita lihat asal muasalnya. Nama Kartini sendiri muncul > setelah J.H. Abendanon mengumpulkan surat-suratnya, dan dibukukan dengan > judul Door Duisternis tot Licht (Dari Kegelapan Menuju Cahaya). Buku > yang mengalami enam kali cetak ini diterbitkan pada 1911 atau tujuh > tahun setelah Kartini wafat. Sebelum J.H. Abendanon menerbitkan buku > ini, namanya hampir tidak dikenal oleh orang-orang Indonesia di luar > lingkungan Kartini sendiri. > > Dalam bahasa Inggris, surat-surat Kartini diterjemahkan oleh Agnes L > Symmers, dengan judul Letters of a Javanese Princess. Pada 1922, edisi > bahasa Melayunya terbit dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang; Boeah > Pikiran. Buku ini diterbitkan oleh Balai Pustaka. Armijn Pane, tokoh > Pujangga Baru, tercatat sebagai salah seorang penerjemahnya. Selain itu, > surat-surat Kartini juga diterjemahkan dalam bahasa Jawa, Sunda, dan > Arab. Tepat dua tahun setelah penerbitan Door Duisternis tot Licht, > dibangun sejumlah sekolah di Jawa Tengah atas inisiatif pengumpulan dana oleh > sahabatnya, Hilda de Booy-Boissevain. Setahun kemudian, 27 Juni > 1913, berdiri Komite Kartini Fonds yang dipimpin tokoh pemrakarsa > politik etis, C.Th. van Deventer. Lalu yayasan ini berhasil mendirikan > Sekolah Kartini di berbagai kota, seperti Surabaya, Yogyakarta Malang > Madiun, Cirebon, dan daerah lainnya. Besarnya perhatian terhadap > Kartini, disebabkan karena orang-orang Belanda ini kagum dengan > pemikiran-pemikiran Kartini, yang mereka sebut, melampaui jamannya. > > Dari beberapa informasi, kita dapat menyimpulkan empat kontroversi mengenai > sosok Kartini yang menjadikannya âlemahâ. Pertama, ada dugaan bahwa > pemikiran Kartini yang tertuang dalam surat-suratnya terlebih dahulu > direkayasa J.H. Abendanon. Beberapa kalangan meragukan, karena hingga > saat ini naskah asli surat-surat Kartini tidak diketahui keberadaannya. > Kita hanya disuguhkan naskah surat yang sudah dalam bentuk buku. Tidak > ada koreksi lagi terhadap naskah aslinya. Beberapa yang lainnya > bertanya, bagaimana mungkin seorang gadis usia belasan dapat menulis > kalimat seindah surat-surat itu? Mungkinkah J.H. Abendanon memanfaatkan > surat-surat Kartini demi kepentingan politik etis yang sedang gencar > dikampanyekan pada masa itu? Mengingat ia adalah salah seorang pejabat > yang ditugaskan Belanda untuk menjalankan politik etis dan kedudukannya > sebagai Direktur Kebudayaan, Ibadah, dan Kerajinan Hindia Belanda. > > Kedua, > Kartini tidak secara teguh berdiri pada pendiriannya. Ia dianggap > kurang konsisten memperjuangkan pemikirannya pada nasib perempuan Jawa. > Di surat-suratnya, ia mengkritik, mengeluhkan, dan menggugat tradisi > Jawa dan Islam yang banyak mengekang perempuan, seperti dilarang sekolah > tinggi, dipingit, dan dipoligami. Namun, kenyataannya berbanding > terbalik dengan pemikirannya. Nyatanya ia menerima dinikahkan dengan > seorang bupati Rembang yang sudah memiliki tiga orang istri. Perubahan > sikapnya terhadap pernikahan juga terjadi setelah pernikahan ini. Ia > terkesan menjadi âlembekâ. Kartini menganggap, pernikahan akan membawa > keuntungan dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi perempuan > pribumi. Ketiga, tidak ada bukti yang menegaskan perlawanan Kartini > terhadap penjajah Belanda. > > > Pemerintah Indonesia sendiri akhirnya menetapkan hari lahir Kartini, 21 > April, sebagai hari besar nasional dengan nama Hari Kartini melalui > Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 108 Tahun 1964 tertanggal 2 > Mei 1964. Pada tanggal tersebut, Kartini juga ditetapkan sebagai > Pahlawan Nasional. Saya curiga, jangan-jangan penetapan Hari Kartini ini > lahir dari ide pribadi Soekarno dalam membangkitkan spirit kaum > perempuan untuk turut berpartisipasi dalam pembangunan yang sedang > gencar-gencarnya di tahun 1960-an. Kemungkinan besar Soekarno memilih > Kartini karena pemikiran-pemikirannya lebih terdokumentasi dibandingkan > dengan tokoh perempuan lain. Dan, ini bersinggungan lagi pada usaha > orang-orang Belanda memunculkan Kartini lewat buku kumpulan > surat-suratnya, Door Duisternis tot Licht. > > Penetapan Hari Kartini > cenderung mengkultuskan Kartini sebagai seorang pejuang perempuan. > Padahal, masih banyak sosok perempuan lain yang lebih dari Kartini. > Tulisan ini bukan ditujukan untuk menggugat sosok Kartini sebagai > seorang Pahlawan Nasional. Tapi lebih kepada wacana kritis untuk > mengangkat sejarah yang sedikit âterselubungâ. Terlepas dari semua itu, > kita mesti mengakui jasa-jasa Kartini sebagai seorang pejuang perempuan. > Namun, jika kita berkaca pada perjalanan sejarahnya, kita juga perlu > untuk mempertanyakan satu hal: jangan-jangan Kartini memang bagian dari > proyek kolonial? Bisa jadi begitu! > > (Disadur bebas dari beberapa sumber) > > > ________________________________ > From: muskitawati <muskitawati@...> > To: [email protected] > Sent: Sunday, April 22, 2012 2:07 PM > Subject: [proletar] Waspada, Islam Memalsukan Ajaran RA Kartini !!! > > >  > Waspada, Islam Memalsukan Ajaran RA Kartini !!! > > Cita2 Kartini bertentangan dan berlawanan dengan tujuan ajaran Islam dalam > memaksakan tegaknya Syariah Islam !!! > > Satu point penting yang tidak bisa dipalsukan adalah tujuan dan cita2 RA > Kartini adalah membebaskan wanita bangsanya dari tradisi agama Islam yang > menjajah dan mendiskriminasi wanita. > > Begitu besarnya pengaruh ajaran RA Kartini terhadap bangsa ini telah > mendorong kelompok2 Islam merasa perlu dan penting untuk menambah, merubah, > dan memalsu ajaran RA Kartini ini agar bisa disejalankan dengan ajaran agama > Islam. > > Kalo anda baca tulisan ibu kita Kartini dalam bukunya habis gelap terbitlah > terang, beliau menyatakan pemikirannya yang begitu gemilang sehingga > dinobatkan oleh Bung Karno sebagai teladan wanita Indonesia, sebagai pahlawan > wanita bangsa Indonesia, sebagai pahlawan yang membebaskan wanita Indonesia > dari penjara diskriminasi wanita Islam untuk meraih hak kesetaraan gender > bagi semua wanita di Indonesia: > > --------------------------- > http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/04/21/m2tzam-perjalanan-spiritual-seorang-ra-kartini > > Kartini berkata: Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan > jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella? > > RA Kartini melanjutkan curhat-nya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 > Agustus 1902 yang dikirim ke Ny Abendanon. > > Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu > dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Alquran, belajar menghafal > perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya. > --------------------------- > > Kesimpulan pemikiran Kartini sangat jelas, bahwa janganlah kita melakukan > hal2 yang sama sekali tidak ada manfaatnya, buang2 waktu baca alQuran > hanyalah sia2, biarpun pandai menghafal alQuran ternyata tidak berguna untuk > bisa mendapat lapangan kerja, tidak berguna untuk bisa membuat mobil, membuat > pesawat terbang. > > Kartini menunjuk kesetaraan gender berarti wanita dan laki2 bebas memilih > lapangan kerja yang dirasa mampu bersaing baik terhadap laki2 maupun sesama > wanita. > > Lebih lanjut bisa dijelaskan, bahwa bagi Kartini lebih baik menjadi orang > yang baik daripada menjadi orang beragama, daripada menjadi muslimin yang > mengerti ajaran dan arti AlQuran dengan kewajibannya untuk berjihad membantai > sesama muslimin, sesama bangsanya, dan membantai mereka yang menolak > menyembah Allah. > > Jadi koran Republika yang berdakwah untuk Islamisasi menambahkan dan > memalsukan isi pemikiran ibu kita Kartini yang dikatakannya bahwa menjelang > sebelum ajalnya menjemput beliau diberitahukan arti dari isi AlQuran sehingga > kemudian beliau berbalik menjadi tertarik kepada Islam dan mencemohkan > teman2nya di Eropah. > > http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/12/04/22/m2tq3f-inilah-hakikat-sebenarnya-dari-emansipasi-kartini > > Jelas apa yang ditambahkan dan dipalsukan oleh Republika se-mata2 untuk > memoles pemikiran Kartini menjadi se-olah2 pemikiran Islam, bahkan koran > Republika menyatakan judul buku yang ditulis Kartini: "Habis Gelap Terbitlah > Terang" berasal dari AlQuran Ayat 257 Surat Al Baqarah: "minadz-dzulumati > ilannur" dalam Ayat Alquran, kata ini hakikatnya bermakna "dari gelap menuju > cahaya". > > Jadi penambahan, pemalsuan dan pemutar balikkan ajaran RA Kartini telah > dilakukan kelompok2 Islam di Indonesia dengan tujuan kembali memenjarakan > wanita atau perempuan Indonesia kedalam masa lalu kebiadaban dizaman nabi > Muhammad !!! > > Saya mohon para pembaca mewaspadai pemalsuan yang dilakukan kelompok2 Islam > di Indonesia ini yang telah menodai ajaran mulia cita2 ibu kita Kartini dalam > membebaskan wanita bangsanya. > > Ny. Muslim binti Muskitawati. > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
