Ooooo .........  Oooh .........  O  Oh......  O   oh.......
Swiiiiit ............   sejak kapan kau jadi anaak buahnya muskitawati ?


--- In [email protected], "Bukan Pedanda" <bukan.pedanda@...> wrote:
>
> 
> 
> Agama Islam itu agama najis, Abbas Amin, agama yang merendahkan dan menindas 
> perempuan..
> 
> Agama nista yang menjijikkan.
> 
> Perempuan Islam itu didunia hakekatnya cuman sekedar pelengkap penderita 
> laki-laki, sekedar lobang buat dientoin suaminya dan di akhiratpun perempuan 
> diriwayatkakn banyakan masuk neraka. 
> 
> Kalau ada perempuan Islam yang masuak sorgan juga cuma bisa melongo abadi, 
> karena disaingi 72 bidadari perawan abadi...
> 
> Dan nabi bandit Muhamamd yang diriwayatkan bertabiat nista lagi menjijikkan 
> serta tukang entotin bocah cilik berumut 9 tahun yang juga kepala gerombolan 
> perampok dan penyamun serta  pemimpin pembantaian orang Yahudi di Yathrib 
> diriwayatkan bilang otak perempuan itu lemah...
> 
> Agama Islam itu adalah agama najis Abbas Amin. 
> 
> Agama yang menjijikkan.
> 
> Dan cuman disusun orang Arab primitif untuk penduduk Makkah dan daerah 
> sekitarnya yagn bisa berbahasa Arab.
> 
> Dan bukan untuk anda, Abbas Amin.
> 
> Bukan untuk berbagai suku bangsa yang ada di Indonesia yagn punya bahasanya 
> sendiri-sendiri.
> 
> Dan anda tahu semua ini, karena kafir disini telah sejak bertahun-tahun 
> menjelaskan semuanya.
> 
> 
> --- In [email protected], "Abbas" <abas_amin08@> wrote:
> >
> > Biasaaa .........  namanya juga IBLIS ! dalam setiap kesempatan ingin 
> > memfitnah Islam; ingin menghancurkan Islam.
> > Yang tak ada hubungan apapun; sengaja di COCOK2an supaya ada hubungan. 
> > UJUNGNYA nembak ISLAM !
> > Inilah perbuatan IBLIS memang.
> > 
> > 
> > --- In [email protected], Musik hari Ini <musikhariini@> wrote:
> > >
> > > Apa yang mesti diwaspadain jelas tokoh Kartini ini diciptakan Oleh 
> > > penjajah Belanda
> > > Dalam
> > >  sebuah tulisan ada pendapat bahwa Kartini 
> > > sengaja dimajukan oleh orang-orang Belanda sebagai tokoh kunci pejuang 
> > > emansipasi perempuan.tokoh sosialisme, H.H. van Kol, 
> > > dan penganjur politik etis, C.Th. van Deventer, adalah orang-orang yang 
> > > berada di belakang layar. Satu lagi tokoh kolonial yang turut berperan 
> > > adalah Snouck Hurgronje. Banyak disebut, pakar Islam dan penasihat 
> > > pemerintah Hindia Belanda ini mendorong J.H. Abendanon untuk 
> > > “memperhatikan” Kartini.
> > > 
> > > Contohnya saja, pada dekade 1980-an, guru besar Universitas Indonesia, 
> > > Prof. Dr. Harsya W. Bachtiar dalam tulisannya “Kartini dan Peranan 
> > > Wanita dalam Masyarakat Kita” di buku Satu Abad Kartini mengemukakan 
> > > bahwa kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di 
> > > Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak menciptakan sendiri 
> > > lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya. 
> > > Intinya, ia menggugat pengkultusan Kartini sebagai pahlawan nasional 
> > > Indonesia. Lalu, pada 9 April 2009, sejarawan Persis, Tiar Anwar 
> > > Bachtiar juga mengungkapkan hal senada. Dalam artikelnya “Mengapa Harus 
> > > Kartini?” 
> > > 
> > > Lalu di manakah posisi tokoh perempuan lainnya saat itu? Ke mana 
> > > nama-nama seperti Tjoet Tjak Dhien, Dewi Sartika, Christina Marta 
> > > Tiahahu, Rohana Kudus, RAA Lasminigrat, Malahayati, dan para pejuang 
> > > perempuan lainnya yang hidup semasa Kartini? Bukankah praktik perjuangan 
> > > mereka lebih nyata dibandingkan Kartini? Tjoet Tjak Dhien (1848-1908) 
> > > hingga akhir hayatnya tetap melawan Belanda. Dewi Sartika (1884-1947) 
> > > berhasil mendirikan sekolah di Bandung dan luar Bandung pada 1910, meski 
> > > awalnya permohonannya kepada pemerintah ditolak lantaran ayahnya tidak 
> > > loyal kepada pemerintah. Rohana Kudus (1884-1972) juga mendirikan 
> > > beberapa sekolah di kampung halamannya, Padang. Ia juga merupakan 
> > > wartawati pertama di Indonesia. Selain itu, Rohana adalah penentang 
> > > keras poligami. “Poligami itu harus dilarang. Poligami itu merugikan 
> > > perempuan!” tulis Rohana di Soenting Melajoe (1912). RAA Lasminingrat 
> > > (1843-1948) asal Garut merupakan pengarang yang luar biasa. Bukunya 
> > > pernah dicetak sebanyak 6.015 eksemplar pada 1875. Ia konsentrasi pada 
> > > kemajuan pendidikan perempuan Sunda. Ia berhasil mendirikan sekolah 
> > > Keutamaan Istri di ruang gamelan Pendopo Kabupaten Garut pada 1907. Saat 
> > > Dewi Sartika kesulitan mendapat ijin mendirikan sekolah, Lasminingrat 
> > > turut mendukung dengan cara membujuk bupati Bandung. Yang miris, RAA 
> > > Lasminingrat dan Rohana Kudus hingga kini belum diangkat sebagai 
> > > Pahlawan Nasional, dan perjuangannya nyaris luput dari perhatian publik.
> > > 
> > > Selama ini, umum memahami kalau yang disebut 
> > > pahlawan adalah mereka yang menentang kekuasaan kolonial. 
> > > 
> > > Tapi Kartini pada 
> > > pemikirannya, tak ada upaya tentang perlawanan itu. Kartini bahkan 
> > > cendrung toleran terhadap Belanda. Kartini sepertinya cuma 
> > > berbicara sebatas ruang lingkup Jawa saja, tidak pernah menyinggung suku 
> > > bangsa lain di Indonesia
> > > 
> > > Pertanyaannya kemudian, apakah tokoh-tokoh ini sengaja ditenggelamkan? 
> > > Ada dugaan kalau Snouck sengaja mendorong nama Kartini sebagai semacam 
> > > “tameng” bagi nama-nama tokoh perempuan lain yang lebih progresif 
> > > pada 
> > > masa itu. Ia membentuk penokohan Kartini yang seorang muslim dan Jawa 
> > > sebagai ikon perjuangan perempuan di tanah Hindia Belanda. Ia berusaha 
> > > menutupi perjuangan perempuan lain yang jelas-jelas antikolonialisme dan 
> > > menentang pemerintah penjajah. Dengan kata lain, Belanda tak ingin 
> > > generasi perempuan selanjutnya kenal dan mengagumi tokoh-tokoh perempuan 
> > > yang lebih intens menentang kolonialisme. Apakah pemerintah kolonial 
> > > sengaja membatasi pemberitaan tentang perjuangan-perjuangan mereka dulu? 
> > > Entahlah, tapi jika kita berkaca pada minimnya catatan sejarah tentang 
> > > mereka, kita patut menduga demikian. Mungkin inilah yang dinamakan: 
> > > cerita orang-orang “kalah” karena sudah memberontak, kalau tidak mau 
> > > “kalah”, jangan memberontak.
> > > 
> > > Betul Kartini menyadari. betapa tertinggalnya pendidikan kaum perempuan 
> > > di 
> > > negerinya. Ia juga berencana mengikuti Sekolah Guru di Belanda. Beasiswa 
> > > dari Pemerintah Belanda pun telah berhasil diperolehnya. Tapi, ia mesti 
> > > menguburnya dalam-dalam keinginannya itu, karena tidak mendapat ijin 
> > > dari ayahnya. Ada yang unik setelah Kartini gagal pergi ke Belanda. 
> > > Beasiswa yang didapatnya ini lalu ia alihkan kepada Agus Salim, tokoh 
> > > pergerakan nasional asal Sumatra Barat. Kartini tahu, Agus Salim yang 
> > > usianya lebih muda 5 tahun di bawah dia, merupakan pemuda yang cerdas. 
> > > Pada 1903, Agus Salim lulus dari HBS (Hogere Burgerschool) dalam usia 19 
> > > tahun sebagai lulusan terbaik di tiga kota, Jakarta, Surabaya, dan 
> > > Semarang. Dengan prestasi ini, Agus Salim berharap pemerintah 
> > > mengabulkan permintaan beasiswanya untuk melanjutkan sekolah ke Belanda. 
> > > Tapi permintaan itu ditolak. Saat Pemerintah Belanda menyetujui maksud 
> > > Kartini, Agus Salim justru menolaknya. Ia beranggapan bahwa pemberian 
> > > beasiswa tersebut atas dasar “rasa kasihan”, bukan kecerdasannya. 
> > > Agus 
> > > Salim juga tersinggung dengan pemerintah kolonial yang diskriminatif.
> > > 
> > > Sedangkan sahabat nya Rosa Manuela 
> > > Abendanon-Mandri. Ia merupakan istri dari J.H. Abendanon, seorang 
> > > pejabat Belanda yang dikirim ke Hindia Belanda untuk menjalankan 
> > > kebijakan politik etis. J.H. Abendanon dalam perjalanan karirnya 
> > > diangkat menjadi menjadi Direktur Pengajaran, Ibadah, dan Kerajinan 
> > > Hindia Belanda. Dengan Rosa Abendanon inilah Kartini aktif mencurahkan 
> > > isi hatinya lewat surat. Keluarga Abendanon sendiri tinggal di Batavia.
> > > 
> > > Penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar nasional untuk 
> > > memaknai perjuangannya dalam melepaskan belenggu kaum perempuan, seperti 
> > > pendidikan dan persamaan hak, menimbulkan pertanyaan tentang mengapa 
> > > hanya Kartini yang dipilih sebagai tokoh sentral. Hal ini bisa sedikit 
> > > terungkap jika kita lihat asal muasalnya. Nama Kartini sendiri muncul 
> > > setelah J.H. Abendanon mengumpulkan surat-suratnya, dan dibukukan dengan 
> > > judul Door Duisternis tot Licht (Dari Kegelapan Menuju Cahaya). Buku 
> > > yang mengalami enam kali cetak ini diterbitkan pada 1911 atau tujuh 
> > > tahun setelah Kartini wafat. Sebelum J.H. Abendanon menerbitkan buku 
> > > ini, namanya hampir tidak dikenal oleh orang-orang Indonesia di luar 
> > > lingkungan Kartini sendiri.
> > > 
> > > Dalam bahasa Inggris, surat-surat Kartini diterjemahkan oleh Agnes L 
> > > Symmers, dengan judul Letters of a Javanese Princess. Pada 1922, edisi 
> > > bahasa Melayunya terbit dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang; Boeah 
> > > Pikiran. Buku ini diterbitkan oleh Balai Pustaka. Armijn Pane, tokoh 
> > > Pujangga Baru, tercatat sebagai salah seorang penerjemahnya. Selain itu, 
> > > surat-surat Kartini juga diterjemahkan dalam bahasa Jawa, Sunda, dan 
> > > Arab. Tepat dua tahun setelah penerbitan Door Duisternis tot Licht, 
> > > dibangun sejumlah sekolah di Jawa Tengah atas inisiatif pengumpulan dana 
> > > oleh sahabatnya, Hilda de Booy-Boissevain. Setahun kemudian, 27 Juni 
> > > 1913, berdiri Komite Kartini Fonds yang dipimpin tokoh pemrakarsa 
> > > politik etis, C.Th. van Deventer. Lalu yayasan ini berhasil mendirikan 
> > > Sekolah Kartini di berbagai kota, seperti Surabaya, Yogyakarta Malang 
> > > Madiun, Cirebon, dan daerah lainnya. Besarnya perhatian terhadap 
> > > Kartini, disebabkan karena orang-orang Belanda ini kagum dengan 
> > > pemikiran-pemikiran Kartini, yang mereka sebut, melampaui jamannya.
> > > 
> > > Dari beberapa informasi, kita dapat menyimpulkan empat kontroversi 
> > > mengenai 
> > > sosok Kartini yang menjadikannya “lemah”. Pertama, ada dugaan bahwa 
> > > pemikiran Kartini yang tertuang dalam surat-suratnya terlebih dahulu 
> > > direkayasa J.H. Abendanon. Beberapa kalangan meragukan, karena hingga 
> > > saat ini naskah asli surat-surat Kartini tidak diketahui keberadaannya. 
> > > Kita hanya disuguhkan naskah surat yang sudah dalam bentuk buku. Tidak 
> > > ada koreksi lagi terhadap naskah aslinya. Beberapa yang lainnya 
> > > bertanya, bagaimana mungkin seorang gadis usia belasan dapat menulis 
> > > kalimat seindah surat-surat itu? Mungkinkah J.H. Abendanon memanfaatkan 
> > > surat-surat Kartini demi kepentingan politik etis yang sedang gencar 
> > > dikampanyekan pada masa itu? Mengingat ia adalah salah seorang pejabat 
> > > yang ditugaskan Belanda untuk menjalankan politik etis dan kedudukannya 
> > > sebagai Direktur Kebudayaan, Ibadah, dan Kerajinan Hindia Belanda.
> > > 
> > > Kedua,
> > >  Kartini tidak secara teguh berdiri pada pendiriannya. Ia dianggap 
> > > kurang konsisten memperjuangkan pemikirannya pada nasib perempuan Jawa. 
> > > Di surat-suratnya, ia mengkritik, mengeluhkan, dan menggugat tradisi 
> > > Jawa dan Islam yang banyak mengekang perempuan, seperti dilarang sekolah
> > >  tinggi, dipingit, dan dipoligami. Namun, kenyataannya berbanding 
> > > terbalik dengan pemikirannya. Nyatanya ia menerima dinikahkan dengan 
> > > seorang bupati Rembang yang sudah memiliki tiga orang istri. Perubahan 
> > > sikapnya terhadap pernikahan juga terjadi setelah pernikahan ini. Ia 
> > > terkesan menjadi “lembek”. Kartini menganggap, pernikahan akan 
> > > membawa 
> > > keuntungan dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi perempuan 
> > > pribumi. Ketiga, tidak ada bukti yang menegaskan perlawanan Kartini 
> > > terhadap penjajah Belanda. 
> > > 
> > > 
> > > Pemerintah Indonesia sendiri akhirnya menetapkan hari lahir Kartini, 21 
> > > April, sebagai hari besar nasional dengan nama Hari Kartini melalui 
> > > Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 108 Tahun 1964 tertanggal 2 
> > > Mei 1964. Pada tanggal tersebut, Kartini juga ditetapkan sebagai 
> > > Pahlawan Nasional. Saya curiga, jangan-jangan penetapan Hari Kartini ini 
> > > lahir dari ide pribadi Soekarno dalam membangkitkan spirit kaum 
> > > perempuan untuk turut berpartisipasi dalam pembangunan yang sedang 
> > > gencar-gencarnya di tahun 1960-an. Kemungkinan besar Soekarno memilih 
> > > Kartini karena pemikiran-pemikirannya lebih terdokumentasi dibandingkan 
> > > dengan tokoh perempuan lain. Dan, ini bersinggungan lagi pada usaha 
> > > orang-orang Belanda memunculkan Kartini lewat buku kumpulan 
> > > surat-suratnya, Door Duisternis tot Licht.
> > > 
> > > Penetapan Hari Kartini
> > >  cenderung mengkultuskan Kartini sebagai seorang pejuang perempuan. 
> > > Padahal, masih banyak sosok perempuan lain yang lebih dari Kartini. 
> > > Tulisan ini bukan ditujukan untuk menggugat sosok Kartini sebagai 
> > > seorang Pahlawan Nasional. Tapi lebih kepada wacana kritis untuk 
> > > mengangkat sejarah yang sedikit “terselubung”. Terlepas dari semua 
> > > itu, 
> > > kita mesti mengakui jasa-jasa Kartini sebagai seorang pejuang perempuan.
> > >  Namun, jika kita berkaca pada perjalanan sejarahnya, kita juga perlu 
> > > untuk mempertanyakan satu hal: jangan-jangan Kartini memang bagian dari 
> > > proyek kolonial? Bisa jadi begitu!
> > > 
> > > (Disadur bebas dari beberapa sumber)
> > > 
> > > 
> > > ________________________________
> > >  From: muskitawati <muskitawati@>
> > > To: [email protected] 
> > > Sent: Sunday, April 22, 2012 2:07 PM
> > > Subject: [proletar] Waspada, Islam Memalsukan Ajaran RA Kartini  !!!
> > >  
> > > 
> > >   
> > > Waspada, Islam Memalsukan Ajaran RA Kartini  !!!
> > > 
> > > Cita2 Kartini bertentangan dan berlawanan dengan tujuan ajaran Islam 
> > > dalam memaksakan tegaknya Syariah Islam !!!
> > > 
> > > Satu point penting yang tidak bisa dipalsukan adalah tujuan dan cita2 RA 
> > > Kartini adalah membebaskan wanita bangsanya dari tradisi agama Islam yang 
> > > menjajah dan mendiskriminasi wanita.
> > > 
> > > Begitu besarnya pengaruh ajaran RA Kartini terhadap bangsa ini telah 
> > > mendorong kelompok2 Islam merasa perlu dan penting untuk menambah, 
> > > merubah, dan memalsu ajaran RA Kartini ini agar bisa disejalankan dengan 
> > > ajaran agama Islam.
> > > 
> > > Kalo anda baca tulisan ibu kita Kartini dalam bukunya habis gelap 
> > > terbitlah terang, beliau menyatakan pemikirannya yang begitu gemilang 
> > > sehingga dinobatkan oleh Bung Karno sebagai teladan wanita Indonesia, 
> > > sebagai pahlawan wanita bangsa Indonesia, sebagai pahlawan yang 
> > > membebaskan wanita Indonesia dari penjara diskriminasi wanita Islam untuk 
> > > meraih hak kesetaraan gender bagi semua wanita di Indonesia:
> > > 
> > > ---------------------------
> > > http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/04/21/m2tzam-perjalanan-spiritual-seorang-ra-kartini
> > > 
> > > Kartini berkata: Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa 
> > > asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?
> > > 
> > > RA Kartini melanjutkan curhat-nya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 
> > > 15 Agustus 1902 yang dikirim ke Ny Abendanon.
> > > 
> > > Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa 
> > > perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Alquran, belajar 
> > > menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku 
> > > mengerti artinya.
> > > ---------------------------
> > > 
> > > Kesimpulan pemikiran Kartini sangat jelas, bahwa janganlah kita melakukan 
> > > hal2 yang sama sekali tidak ada manfaatnya, buang2 waktu baca alQuran 
> > > hanyalah sia2, biarpun pandai menghafal alQuran ternyata tidak berguna 
> > > untuk bisa mendapat lapangan kerja, tidak berguna untuk bisa membuat 
> > > mobil, membuat pesawat terbang.
> > > 
> > > Kartini menunjuk kesetaraan gender berarti wanita dan laki2 bebas memilih 
> > > lapangan kerja yang dirasa mampu bersaing baik terhadap laki2 maupun 
> > > sesama wanita.
> > > 
> > > Lebih lanjut bisa dijelaskan, bahwa bagi Kartini lebih baik menjadi orang 
> > > yang baik daripada menjadi orang beragama, daripada menjadi muslimin yang 
> > > mengerti ajaran dan arti AlQuran dengan kewajibannya untuk berjihad 
> > > membantai sesama muslimin, sesama bangsanya, dan membantai mereka yang 
> > > menolak menyembah Allah.
> > > 
> > > Jadi koran Republika yang berdakwah untuk Islamisasi menambahkan dan 
> > > memalsukan isi pemikiran ibu kita Kartini yang dikatakannya bahwa 
> > > menjelang sebelum ajalnya menjemput beliau diberitahukan arti dari isi 
> > > AlQuran sehingga kemudian beliau berbalik menjadi tertarik kepada Islam 
> > > dan mencemohkan teman2nya di Eropah.
> > > 
> > > http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/12/04/22/m2tq3f-inilah-hakikat-sebenarnya-dari-emansipasi-kartini
> > > 
> > > Jelas apa yang ditambahkan dan dipalsukan oleh Republika se-mata2 untuk 
> > > memoles pemikiran Kartini menjadi se-olah2 pemikiran Islam, bahkan koran 
> > > Republika menyatakan judul buku yang ditulis Kartini: "Habis Gelap 
> > > Terbitlah Terang" berasal dari AlQuran Ayat 257 Surat Al Baqarah: 
> > > "minadz-dzulumati ilannur" dalam Ayat Alquran, kata ini hakikatnya 
> > > bermakna "dari gelap menuju cahaya".
> > > 
> > > Jadi penambahan, pemalsuan dan pemutar balikkan ajaran RA Kartini telah 
> > > dilakukan kelompok2 Islam di Indonesia dengan tujuan kembali memenjarakan 
> > > wanita atau perempuan Indonesia kedalam masa lalu kebiadaban dizaman nabi 
> > > Muhammad !!!
> > > 
> > > Saya mohon para pembaca mewaspadai pemalsuan yang dilakukan kelompok2 
> > > Islam di Indonesia ini yang telah menodai ajaran mulia cita2 ibu kita 
> > > Kartini dalam membebaskan wanita bangsanya.
> > > 
> > > Ny. Muslim binti Muskitawati.
> > > 
> > > 
> > >  
> > > 
> > > [Non-text portions of this message have been removed]
> > >
> >
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke