http://news.okezone.com/read/2015/09/10/340/1212037/proyek-abadi-penanggulangan-kabut-asap
*PEKANBARU *- Kabut asap yang timbul akibat kebakaran hutan dan lahan merupakan bencana paling menakutkan bagi warga Riau. Karena dampaknya sangat menyengsarakan mereka, baik dari sisi kesehatan, ekonomi, juga pendidikan. Sudah 18 tahun bencana kabut asap terjadi di Bumi Lancang Kuning -julukan provinsi Riau-. Setiap tahunnya bisa terjadi satu sampai dua kali periode kebakaran dan penanganan per periodenya bisa memakan waktu satu sampai dua bulan. Lalu, mengapa bencana kebakaran hutan dan lahan terus terjadi, dan kenapa sampai saat ini tidak ada gambaran bahwa Riau akan merdeka dari kabut asap? Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Riau menyebutkan bahwa permasalahan kebakaran hutan dan lahan tidak pernah selesai karena hal tersebut merupakan proyek besar tahunan pemerintah. Di mana setiap tahun, ratusan miliar rupiah dihamburkan untuk menanggulangi kebakaran hutan dan lahan di Riau. Dana ratusan miliar yang bersumber dari APBN yang digelontorkan ke dana penanggulangan bencana disinyalir dikorupsi. http://jakartaglobe.beritasatu.com/opinion/erik-meijaard-get-facts-right-indonesias-haze-problem/ I find it remarkable that after several decades of forest and peatland fires and associated haze problems, governmental and non-governmental organizations are still barking up the wrong tree in the fire and haze blaming game. In a recent Jakarta Globe article, President Joko Widodo talks tough on fires and haze, blaming "disobedient plantation companies for setting the fires to clear land for planting." Similarly, the article quotes environmental activists who point to plantation companies for being the biggest cause of fires and haze. Dear oh dear, does anyone ever read the studies about causes of forest fire and haze in Indonesia? Apparently not. Or maybe people do, but they prefer to ignore the facts and reiterate the more convenient fictions. *Small-scale farmers* So I say it again, just in case there is someone out there willing to listen. Studies of fire and haze in Kalimantan and Sumatra firmly point towards small-scale farmers and other under-the-radar, mid-scale land-owners, rather than large companies as the main cause of fires and haze. A study published in August 2015 in the journal Environmental Research Letters <http://iopscience.iop.org/article/10.1088/1748-9326/10/8/085005> clearly shows that on Sumatra 59 percent of fire emissions originate from outside timber and oil-palm concession boundaries. These non-concession-related fires generated 62 percent of smoke exposure in equatorial Southeast Asia (primarily Singapore and Malaysia). In Kalimantan, non-concession fires play an even bigger role. Fires outside concessions generated 73 percent of all emissions and 76 percent of smoke affecting equatorial Southeast Asia. ....... Btw, upah jadi tukang baka lahan tu sekitar 750ribu perhektar tuk 3 urang. Wassalam fitr 2015-10-07 15:54 GMT-04:00 Fitrianto <[email protected]>: > Raminyo di medsos,mak Ngah. > Baa juo lai, lah belasan tahun barulang2 kejadiannyo, indak juo barubah > prilaku masyarakat, pengusaha jo penguasa doh.... > > Padang pun lah kanai juo. > Kalaupun adoh hujan hilang sabanta, sudah tu datang baliak dek kiriman > asoknyo indak putuih2. > > Wassalam > fitr > > 2015-10-07 14:49 GMT-04:00 Sjamsir Sjarif <[email protected]>: > >> Sajak MakNgah postiangkan *Masalah Asok Taba* di Kampuang Awak ko, >> tampaknyo indak sorang juo Rang Lapau nan paduli bakomentar doh. Tampaknyo >> MakNgah sorang sajo nan nyinyia mamostiang maagaki kesehatan Rang Kampuang >> dek Ulah Tangan-tangan Jahil Manusia nan mahunggun rimbo gadang sasuko >> hatinyo sajo. >> >> Bialah tambah ciek lai barito kok ka disabuik tambah nyinyia juo. >> >> -- MakNgah >> >> Dari Singgalangkito baco: >> >> ASAP SUDAH BERBAHAYA Mulai Besok Sekolah di Solsel Diliburkan >> >> in Headline <http://hariansinggalang.co.id/category/headline/>, Solok >> Selatan <http://hariansinggalang.co.id/category/daerah/solok-selatan/>, >> Sumbar <http://hariansinggalang.co.id/category/daerah/> 1 jam ago >> >> >> >> *PADANG ARO – * Asap kebakaran hutan kiriman dari provinsi tetangga >> semakin menebal di Solok Selatan. >> >> Kepala Dinas Pendidikan Solok Selatan Fidel Effendi, kepada *Singgalang*, >> Rabu (7/10) mengatakan, mulai besok seluruh aktivitas sekolah diliburkan. >> >> “Asap sudah berbahaya bagi kesehatan kita terutama anak-anak. Atas >> keputusan Pj Bupati Erizal, seluruh sekolah di tiap tingkatan mulai PAUD, >> TK, sampai SMA diliburkan termasuk madrasah,” kata Fidel. >> >> Sementara itu, Kadis Kesehatan Novirman, Sekretaris BPBD Sumardianto dan >> Kakan Lingkungan Hidup Solsel Hapison, mengatakan, bakal melakukan rembuk >> dengan Sekdakab Solsel Yulian Efi terkait semakin menebalnya asap >> akhir-akhir ini. Rembuk juga akan melibatkan Kadis Pendidikan Fidel Efendi. >> >> Novirman mengakui, hasil pandangan mata, asap sudah mengkhawatirkan. >> “Dari hasil rembuk itu nanti, jika udara tiak sehat lagi kami akan >> membentuk posko kabut asap di setiap puskesmas dan RSUD,” katanya. >> Novirman juga akan meminta kesiagaan seluruh petugas kesehatan. >> >> Hapison, menambahkan, kondisi asap saat ini dibanding dengan kondisi asap >> hasil uji labor Balai Kesehatan Laboratorium Provinsi Sumbar pada 9 >> september lalu mencapai 321 PM10 yaitu kategori tidak sehat. Asap sekarang >> cukup tebal dibanding dengan hasil uji labor dulu itu. Sedangkan >> Sumardianto, dari BPBD akan membagikan masker dan pemantauan lansung >> kondisi masyarakat.(afrizal a) >> >> >> On Tuesday, September 1, 2015 at 7:13:51 PM UTC-7, Sjamsir Sjarif wrote: >>> >>> Asok Taba sampai manjela ka daeah Bukittinggi. >>> Baco: >>> >>> >>> http://daerah.sindonews.com/read/1038115/174/kabut-asap-di-bukittinggi-makin-pekat-1440752924 >>> >>> -- Makngah >>> Sjamsir Sjarif >>> >>> -- >> . >> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat >> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ >> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. >> =========================================================== >> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: >> * DILARANG: >> 1. Email besar dari 200KB; >> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; >> 3. Email One Liner. >> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta >> mengirimkan biodata! >> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting >> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply >> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & >> mengganti subjeknya. >> =========================================================== >> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: >> http://groups.google.com/group/RantauNet/ >> --- >> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google >> Grup. >> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, >> kirim email ke [email protected]. >> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. >> > > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
