Lagi - lagi negara tidak hadir, seolah2 dilakukan pembiaran :(
Wassalam Hanif / 42 / BKS ---- Original message ---- >Date: Wed, 7 Oct 2015 20:01:09 -0700 >From: [email protected] (on behalf of "Fashridjal M. Noor" ><[email protected]>) >Subject: Re: [R@ntau-Net] Re: Asok pakek manjala ka Bukittinggi >To: [email protected] > > DAMPAK KABUT ASAP > Supermarket Singapura tarik produk Indonesia > Rabu, 07 Oktober 2015 > > SINGAPURA. Jaringan supermarket terbesar Singapura > NTUC FairPrice mengatakan, pihaknya akan menarik > tisu toilet dan produk lain yang diproduksi oleh > Asia Pulp & Paper dari rak mereka. Langkah ini > dilakukan setelah perusahaan tersebut termasuk salah > satu pihak yang bertanggungjawab atas terjadinya > kebakaran hutan di Indonesia. > > Berdasarkan pernyataan resminya, NTUC FairPrice akan > menarik seluruh produk kertas dari APP pada Rabu > (7/10), pukul 17.00 waktu setempat menyusul adanya > pelarangan sementara oleh Badan Lingkungan Singapura > atas penggunaan sertifikat Green Label pada produk > tersebut. Sejumlah produk yang akan ditarik antara > lain Paseo, Nice, dan Jolly. > > "Kami berinisiatif menggelar pertemuan dengan > sejumlah pihak terkait daftar produk yang > berkontribusi menyebabkan asap yang disebut oleh > pihak berwenang," jelas Seah Kian Peng, chief > executive officer NTUC FairPrice. > > Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup > Singapura menjelaskan, pihaknya sudah mengirimkan > pemberitahuan ke APP yang berbasis di Singapura > mengenai kebijakan yang diambil anak usaha APP yang > menyebabkan kebakaran hutan di Indonesia. > > Pihak APP sendiri berjanji akan memberikan informasi > yang dibutuhkan sekaligus mengundang pemerintah > Singapura untuk melihat sendiri operasional > perusahaan di Indonesia. > > "Kami menanggapi masalah kebakaran hutan ini dengan > sangat serius. Kami sudah bekerjasama dengan > sejumlah suplier dan pemerintah untuk mengatasi > kebakaran hutan di daerah operasional kami," > demikian pernyataan APP. > > Editor : Barratut Taqiyyah > Sumber : Bloomberg > > On Oct 8, 2015 7:35 AM, "Fitrianto" > <[email protected]> wrote: > > > http://news.okezone.com/read/2015/09/10/340/1212037/proyek-abadi-penanggulangan-kabut-asap > > PEKANBARU - Kabut asap yang timbul akibat > kebakaran hutan dan lahan merupakan bencana paling > menakutkan bagi warga Riau. Karena dampaknya > sangat menyengsarakan mereka, baik dari sisi > kesehatan, ekonomi, juga pendidikan. > > Sudah 18 tahun bencana kabut asap terjadi di Bumi > Lancang Kuning -julukan provinsi Riau-. Setiap > tahunnya bisa terjadi satu sampai dua kali periode > kebakaran dan penanganan per periodenya bisa > memakan waktu satu sampai dua bulan. > > Lalu, mengapa bencana kebakaran hutan dan lahan > terus terjadi, dan kenapa sampai saat ini tidak > ada gambaran bahwa Riau akan merdeka dari kabut > asap? > > Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran > (FITRA) Riau menyebutkan bahwa permasalahan > kebakaran hutan dan lahan tidak pernah selesai > karena hal tersebut merupakan proyek besar tahunan > pemerintah. > > Di mana setiap tahun, ratusan miliar rupiah > dihamburkan untuk menanggulangi kebakaran hutan > dan lahan di Riau. Dana ratusan miliar yang > bersumber dari APBN yang digelontorkan ke dana > penanggulangan bencana disinyalir dikorupsi. > > > http://jakartaglobe.beritasatu.com/opinion/erik-meijaard-get-facts-right-indonesias-haze-problem/ > > I find it remarkable that after several decades of > forest and peatland fires and associated haze > problems, governmental and non-governmental > organizations are still barking up the wrong tree > in the fire and haze blaming game. > > In a recent Jakarta Globe article, President Joko > Widodo talks tough on fires and haze, blaming > "disobedient plantation companies for setting the > fires to clear land for planting." Similarly, the > article quotes environmental activists who point > to plantation companies for being the biggest > cause of fires and haze. > > Dear oh dear, does anyone ever read the studies > about causes of forest fire and haze in Indonesia? > Apparently not. Or maybe people do, but they > prefer to ignore the facts and reiterate the more > convenient fictions. > > Small-scale farmers > > So I say it again, just in case there is someone > out there willing to listen. Studies of fire and > haze in Kalimantan and Sumatra firmly point > towards small-scale farmers and other > under-the-radar, mid-scale land-owners, rather > than large companies as the main cause of fires > and haze. > > A study published in August 2015 in the journal > Environmental Research Letters clearly shows that > on Sumatra 59 percent of fire emissions originate > from outside timber and oil-palm concession > boundaries. These non-concession-related fires > generated 62 percent of smoke exposure in > equatorial Southeast Asia (primarily Singapore and > Malaysia). > > In Kalimantan, non-concession fires play an even > bigger role. Fires outside concessions generated > 73 percent of all emissions and 76 percent of > smoke affecting equatorial Southeast Asia. > > ....... > > Btw, upah jadi tukang baka lahan tu sekitar > 750ribu perhektar tuk 3 urang. > > Wassalam > > fitr > > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
