Dari Haluan kito baco pulo: Kabut Asap, 20 Anak dan Bayi Terjangkit ISPA <http://www.harianhaluan.com/index.php/berita/sumbar/44096-kabut-asap-20-anak-dan-bayi-terjangkit-ispa> [image: PDF] <http://www.harianhaluan.com/index.php/berita/sumbar/44096-kabut-asap-20-anak-dan-bayi-terjangkit-ispa?format=pdf> [image: Cetak] <http://www.harianhaluan.com/index.php/berita/sumbar/44096-kabut-asap-20-anak-dan-bayi-terjangkit-ispa?tmpl=component&print=1&layout=default&page=> [image: Surel] <http://www.harianhaluan.com/index.php/component/mailto/?tmpl=component&link=b95e623687356b2e7a94e2d72cacf60b773bf838> "Sabtu, 10 Oktober 2015 02:26
Imbas kabut asap mulai merusak kesehatan bayi dan anak. RS Ibnu Sina Bukittinggi saja menyebut sudah merawat 20 bayi dan anak karena menderita penyakit ISPA. *BUKITTINGGI, HALUAN* — Dampak udara yang tercemar akibat kabut asap dalam dua bulan terakhir mulai tampak. Sebanyak 20 anak dan bayi menderita penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) dan menjalani perawatan di RS Ibnu Sina Bukittinggi. Kepala Ruangan Anak RS. Ibnu Sina Bukittinggi, Afrida Sri Hartini menyebutkan selama bencana kabut asap melanda Bukittinggi dan daerah lainnya tercatat sebanyak 20 anak-anak dan bayi dirawat di RS Ibnu Sina akibat menderita penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas). Terakhir ada bayi asal Pekanbaru, Riau yang diungsikan orang tuanya ke Payakumbuh dan Bukittinggi. Bayi Feyza Anzilni dirawat di RS Ibnu Sina Bukittinggi menyusul sakit pada saluran pernafasannya. Bayi yang masih berusia dua bulan itu sempat mendapat pasokan oksigen setelah mendapat gangguan bernafasan. Ayah bayi mungil itu, Hengky (36), menyebutkan anaknya lahir di salah satu rumah sakit di Pekanbaru, 14 Agustus 2015 lalu. Saat itu, kondisi Kota Pekanbaru sudah mulai diselimuti asap dan tergolong tidak sehat. Khawatir akan anaknya mengalami masalah karena kabut asap itu, Hengky berinisiatif mengungsikan Feyza ke rumah mertuanya di Payakumbuh. Kediaman orang tua istrinya ini, Hengky berharap anaknya bisa menghirup udara yang lebih sehat. “Kami sekeluarga sangat khawatir dengan kesehatan putri kami ini, selama di Pekanbaru ia menghirup udara tidak sehat. Satu minggu setelah istri saya melahirkan, kami sekeluarga memutuskan untuk mengungsi ke Payakumbuh di rumah mertua saya,” kata Hengky kepada *Haluan* di RS. Ibnu Sina Bukittinggi, Jumat (9/10). Hengky menjelaskan, selama berada di Payakumbuh kondisi kabut asap tidak jauh berbeda dengan di Pekanbaru, setiap hari bayinya selalu menghirup udara yang tidak sehat dan lama kelamaan daya tahan putrinya menurun. Akhirnya, Jumat (2/10) Feyza mulai menunjukkan gejala berbeda karena udara sehat yang ia butuhkan tak kunjung didapat. Ia mulai terserang sakit influenza, batuk, demam dan suhu tubuhnya naik turun. Melihat kondisi anak keduanya selalu menanggis kemudian ia membawa berobat ke salah satu klinik di Payakumbuh. Namun kondisi Feyza tidak mengalami kemajuan dan akhirnya sambil berobat jalan ia membawa Feyza ke Bukittinggi, di tempat orang tuanya untuk mengunggsi supaya terhindar dari kabut asap di Payakumbuh. Lagi-lagi, upaya Hengky tak berbuah manis. Di Bukittinggi kabut asap bukannya berkurang malah semakin bertambah dan akhirnya Feyza tidak tahan dengan keadaan itu. Ia mengalami sesak nafas hebat kata Hengky, sehingga setiap bernafas dadanya selalu berbunyi. Melihat kondisi tersebut Hengky Selasa (6/10) membawa putrinya ke RS Ibnu Sina Bukittinggi dan sampai hari ini (Jumat, red) Feyza masih menjalni perawatan di Ruangan Isolasi untuk memulihkan kondisinya. “Alhamdulillah keadaan putri saya sudah mulai agak membaik, selang oksigennya kemaren sudah dilepas,” ulasnya. Namun di sisi lain ia merasa khawatir dengan biaya pengobatan selama berada rumah sakit. Sebab bayinya tidak mempunyai kartu BPJS Kesehatan. Ia telah mencoba mendaftarkan bayinya sebagai peserta BPJS Kesehatan. Sayang, kartu BPJS tersebut bisa dipergunakan, menurut pegawai Kantor BPJS Kesehatan kartu itu bisa dimanfaatkan setelah 14 hari mendaftar. Ia berharap sekiranya pemerintah bisa membantu biaya pengobatan putrinya, sebab selama dua bulan ini ia tidak bisa mencari nafkah karena usahanya berjualan di Pekanbaru sudah ia tutup karena tidak tahan dengan kabut asap yang melanda Pekanbaru. Sebelumnya di Padang, salah satunya murid di SD 01 Alang Laweh, Parlen Lorenzo harus dilarikan ke rumah Puskesmas Seberang Padang karena mengeluh sesak nafas saat beraktifitas di sekolahnya, Kamis (8/10). “Pukul 08.30 WIB, tiba-tiba Parlen datang ke gurunya dengan keluhan susah bernafas. Oleh guru, ia dibawa ke ruangan UKS. Nah di ruangan tersebut ada sekitar setengah jam, dan kami menduga kalau Parlen ini takutnya kena ISPA. Lalu kami putuskan untuk mambawa ke Puskesmas Seberang Padang untuk diperiksa lebih lanjut,” ungkap Kepala Sekolah SD 01 Ribosnita yang didampingi oleh guru yang membawa Parlen ke Puskesmas Yurma Yunidar saat ditemui media. Dikatakan juga, ternyata dugaan para guru terbukti saat Parlen dibawa ke puskesmas dan hasil pemeriksaan dokter menyatakan kalau siswa tersebut positif ISPA dan langsung dilakukan penindakan. Ribosnita juga mengaku, belum ada himbauan baik itu dari pemko maupun Dinas Pendidikan untuk meliburkan aktivitas di sekolah, makanya ia tidak berani mengambil kebijakan untuk meliburkan siswa. Disisi lain, para siswa juga sedang melaksanakan ujian tengah semester yang sudah berjalan dari Senin kemarin hingga Sabtu depan, namun disisi lain ia khawatir dengan kondisi kesehatan para siswa. “Kita hanya mengurangi aktivitas di luar ruangan saja, seperti olehraga, kultum, dan pramuka untuk sementara ditiadakan dulu atau kami adakan diruangan saja,” ulasnya. Kepala Dinas Kota Padang Dr Eka Lusti dalam wawancara dengan *Haluan, *menyebutkan, bayi dan anak-anak memang rentan diserang penyakit akibat kabut asap. Karenanya, perlu perhatian agar mereka bisa jauh dari jangkauan asap, seperti mengurangi aktifitas di luar rumah atau menggunakan masker saat di berada di luar. *(h/mg-rin/ril)"* -- MakNgah -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
