Nasib Para Nelayan yang Terlupakan. -- MakNgah Dari Haluan kito baco pulo: Tangkapan Nelayan Kian Menyusut [image: PDF] <http://www.harianhaluan.com/index.php/feature/44094-tangkapan-nelayan-kian-menyusut?format=pdf> [image: Cetak] <http://www.harianhaluan.com/index.php/feature/44094-tangkapan-nelayan-kian-menyusut?tmpl=component&print=1&layout=default&page=> [image: Surel] <http://www.harianhaluan.com/index.php/component/mailto/?tmpl=component&link=1b1c31c31acb6f1514b740eb14e61c9e495c2044> Sabtu, 10 Oktober 2015 02:22
*MELAUT DI SAAT KABUT (2/HABIS)* Sebagaimana diungkapkan Man, pada kondisi normal tangkapan ikan nelayan tradisional bisa mencapai 50-100kg sekali melaut. *Jelas* hasil sebanyak itu sangat menguntungkan. Namun kondisi kabut asap seperti sekarang, menyulitkan nelayan dalam mendeteksi perairan berikan banyak, sehingga hasil tangkapan menyusut drastis, hanya 10-20kg saja sekali melaut. “Itu pun sulit mendapatkannya. Modal melaut yang kami keluarkan sama, tapi hasil yang kami dapatkan tidak seberapa. Belum lagi kalau tersesat, hilang pedoman karena laut tertutup kabut, modal akan bertambah lagi, padahal ikan yang didapat segitu juga,” ucap Man lagi. Baik Man, Riko, Icil dan beberapa nelayan lain yang du duk -duduk di kedai kopi, mengaku tidak punya pilihan lain selain tetap melaut, meskipun sebenarnya kondisi tidak memungkinkan untuk menjalankannya. “Kalau tidak melaut, mau kerja apa lagi, kebutuhan rumah tangga tetap harus dibeli. Karena kabut ini, kami yang sudah susah malah bertambah susah. Pemerintah sepertinya santai saja soal kabut asap ini, tak dipikirkannya kehidupan rakyat kecil seperti kehidupan kami para nelayan,” lantang Icil. “Kalau di zaman presiden yang lama, kabut asap tak selama ini, kabarnya disewa kapal terbang Amerika untuk memadamkan api di hutan yang dibakar itu. Tapi, sekarang presidennya tidak tanggap,” sambung Riko, mengeluhkan kinerja Presiden Joko Widodo dalam mengatasi kabut asap. *Nelayan Lupa Diberi Masker* Selain membatasi jarak pandang, kabut asap karena pembakaran hutan di beberapa provinsi di Sumatera dan Kalimantan juga berdampak kepada kesehatan masyarakat Sumbar yang terkena sapuan kabut asap tersebut. Berdasarkan pengukuran Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di GAW Kototabang pada Kamis (8/10), kualitas udara di sebagian besar wilayah Sumbar masuk dalam kategori tidak sehat. Semestinya, saat nelayan terpaksa untuk tetap melaut di tengah kepungan kabut, masker adalah salah satu pelindung agar nelayan tidak menghirup langsung kabut asap yang dapat mengganggung kondisi kesehatan, terutama sekali melindungi diri dari kemungkinan terkena Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). “Tidak ada kami yang pakai masker di tengah laut. Paling kalau ada yang menutup mulut, kami menggunakan baju yang terpasang di badan saja, dengan mengikatkannya di wajah,” kata Riko. Bukannya tak mampu membeli masker yang tak terlalu mahal, hanya saja, para nelayan mengaku tak sampai berfikir untuk membelinya karena merasa tak terlalu penting. Selain itu, di tengah kondisi tangkapan yang kian susut, uang sangatlah berarti untuk memenuhi kebutuhan pokok lainnya. Nelayan-nelayan di kedai kopi itu kemudian mengeluh, terkait aktifitas bagi-bagi masker yang sering dilakukan pemerintah, swasta, komunitas dan lembaga lainnya. Aktifitas bagi-bagi masker itu sering dilakukan di tengah kota, di jalan-jalan utama untuk pengendara sepeda motor yang kadang-kadang enggan memakainya. Sedangkan untuk nelayan, khususnya nelayan Benpur, belum ada yang sedia membagi masker secara gratis. “Aneh, apakah mereka lupa kalau di Padang ini ada nelayan, atau apakah mereka tak peduli. Apa salahnya kalau nelayan yang diberi masker gratis, kami lihat masker dibagi-bagi terus di tepi jalan, padahal banyak pengendara yang enggan memakainya. Kami ‘kan butuh juga,” jelas Riko lagi. Bukan perkara masker saja, nelayan tradisional selama ini memang selalu merasa terpinggirkan dari pikiran pemerintah. Mulai dari harga bahan bakar minyak (BBM) yang tak bersahabat bagi mereka, hingga perhatian pada kondisi kesehatan nelayan yang sangat-sangat rendah. “Boleh dikatakan, tidak ada perhatian yang kami dapatkan,” ujar Icil menutup pembicaraan. *(*)* Laporan: *JULI ISHAQ PUTRA* On Saturday, October 10, 2015 at 4:00:13 AM UTC-7, Fitr Tanjuang wrote: > > Beberapa yg sudah dilakukan pemerintah. > > http://www.bbc.com/news/world-asia-34265922 > > What causes South East Asia's haze? > > - 16 September 2015 > - From the section Asia <http://www.bbc.com/news/world/asia> > > Image copyright Antara Foto / Reuters Image caption The haze has sparked > protests in Indonesia including the town of Palembang in South Sumatra > > Forest fires in Indonesia have resulted in a smoky haze that is blanketing > the region and affecting neighbouring Malaysia and Singapore. > > Both the haze and the controversy around it have intensified in recent > years. But what causes it, and what makes it such a contentious issue? > What's causing the haze? > > Every year Indonesia sees agriculture fires in Riau province in East > Sumatra, South Sumatra, and parts of Kalimantan on Indonesian Borneo. > Image copyright NASA EOSDIS Image caption Nasa satellite data shows > multiple fires in mid-September 2015 in the eastern part of Sumatra island > and the southern part of Kalimantan island of Indonesia > > The fires are said to be caused by corporations as well as small-scale > farmers who use the illegal slash-and-burn method to clear vegetation for > palm oil, pulp and paper plantations. > > The fires often spin out of control and spread into protected forested > areas. > > The problem has accelerated in recent years as more land has been cleared > for expanding plantations for the lucrative trade. > > The burnt land also becomes drier, which makes it more likely to catch > fire the next time there are slash-and-burn clearings. > Why is it an issue? > > The haze gets blown north and westwards across affected Indonesian > provinces, as well as towards Malaysia and Singapore, causing a significant > deterioration in air quality. > Image copyright AP Image caption The haze has blanketed many parts of > Malaysia including the centre of government Putrajaya... Image copyright > Reuters Image caption ...and the whole of Singapore, affecting key > tourist attractions like Gardens by the Bay > > It can be a health hazard, and at its peak it has prompted school > closures, flight cancellations and virtual shutdowns of towns and cities. > > Singapore and Indonesia use the Pollutants Standards Index (PSI) > <http://www.haze.gov.sg/faq> to measure air quality, while Malaysia uses > the similar Air Pollutants Index (API). > <http://apims.doe.gov.my/v2/information.php> On both indices, a reading > that is above 100 is classified as unhealthy and anything above 300 is > hazardous. > > Indonesia recently declared a state of emergency in Riau province - one of > its towns, Pekanbaru, saw a PSI reading of 984. > > Malaysia declared a state of emergency in 2013, when a southern district > saw readings of more than 750 API. > What makes it so dangerous? > > Besides irritating the respiratory tract and the eyes, pollutants in the > haze can cause serious long-term damage to health. > Image copyright Reuters Image caption Face masks have become a common > sight in the region > > The indices used to measure air quality in the region usually measure > particulate matter (PM10), fine particulate matter (PM2.5), sulphur > dioxide, carbon monoxide, nitrogen dioxide and ozone. > > PM2.5 is considered the most dangerous as it can enter deeper into the > lungs. It has been associated with causing respiratory illnesses and lung > damage. > Image copyright Reuters Image caption Authorities in Singapore have > encouraged residents to use special masks that can filter out PM2.5 What > is being done to stop it? > > *Indonesia has been dumping millions of litres of water in affected areas > and has sent in the army to help firefighters put out the fires.* > > Indonesia and Malaysia have also conducted cloud-seeding to induce rain, > while Singapore has pledged assistance to help put out fires. > Image copyright EPA Image caption Helicopters in Indonesia have been > water bombing areas with fires > > Indonesia has for years promised to step up enforcement. *Under President > Joko Widodo, it has named 10 corporations as suspects, and said it is > investigating more than 100 individuals.* > > In 2002, all 10 South East Asian countries signed an agreement to combat > the issue through greater monitoring and encouragement of sustainable > development, but efforts have been limited. > Why has it been so difficult to stop? > > Indonesia has long struggled to police the vast rural expanse in Sumatra > and Kalimantan. > Image copyright Reuters > > But Indonesia and environment rights activists also say it is not entirely > to blame, as some of the corporations accused of illegal burning have > Malaysian and Singaporean investors. > > Singapore in 2014 passed a set of laws that allow it to prosecute > individuals and companies that contribute to the haze, but it remains > unclear how this law could be enforced. > > There have also been name-and-shame campaigns and calls to boycott the > products of the companies said to be contributing to the haze. > Image copyright AFP Image caption Dousing out a peat fire is difficult as > it can burn underground, and requires swamping the entire area with vast > amounts of water > > In the meantime Indonesian authorities continue to struggle to put out the > fires, many of which have flared up on flammable and dry peat-rich areas. > > A peat fire is difficult to put out as it can burn underground for months, > and requires a lot of water to extinguish. Fires can spread underground and > spring up in other places later. > > > 2015-10-10 1:34 GMT-04:00 Sjamsir Sjarif <[email protected] > <javascript:>>: > >> Dari Haluan kito baco pulo: >> >> Kabut Asap, 20 Anak dan Bayi Terjangkit ISPA >> <http://www.harianhaluan.com/index.php/berita/sumbar/44096-kabut-asap-20-anak-dan-bayi-terjangkit-ispa> >> [image: >> PDF] >> <http://www.harianhaluan.com/index.php/berita/sumbar/44096-kabut-asap-20-anak-dan-bayi-terjangkit-ispa?format=pdf> >> [image: >> Cetak] >> <http://www.harianhaluan.com/index.php/berita/sumbar/44096-kabut-asap-20-anak-dan-bayi-terjangkit-ispa?tmpl=component&print=1&layout=default&page=> >> [image: >> Surel] >> <http://www.harianhaluan.com/index.php/component/mailto/?tmpl=component&link=b95e623687356b2e7a94e2d72cacf60b773bf838> >> "Sabtu, >> 10 Oktober 2015 02:26 >> >> Imbas kabut asap mulai merusak kesehatan bayi dan anak. RS Ibnu Sina >> Bukittinggi saja menyebut sudah merawat 20 bayi dan anak karena menderita >> penyakit ISPA. >> >> *BUKITTINGGI, HALUAN* — Dampak udara yang tercemar akibat kabut asap >> dalam dua bulan terakhir mulai tampak. Sebanyak 20 anak dan bayi menderita >> penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) dan menjalani perawatan di >> RS Ibnu Sina Bukittinggi. >> >> Kepala Ruangan Anak RS. Ibnu Sina Bukittinggi, Afrida Sri Hartini >> menyebutkan selama bencana kabut asap melanda Bukittinggi dan daerah >> lainnya tercatat sebanyak 20 anak-anak dan bayi dirawat di RS Ibnu Sina >> akibat menderita penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas). >> >> Terakhir ada bayi asal Pekanbaru, Riau yang diungsikan orang tuanya ke >> Payakumbuh dan Bukittinggi. Bayi Feyza Anzilni dirawat di RS Ibnu Sina >> Bukittinggi menyusul sakit pada saluran pernafasannya. Bayi yang masih >> berusia dua bulan itu sempat mendapat pasokan oksigen setelah mendapat >> gangguan bernafasan. >> >> Ayah bayi mungil itu, Hengky (36), menyebutkan anaknya lahir di salah >> satu rumah sakit di Pekanbaru, 14 Agustus 2015 lalu. Saat itu, kondisi Kota >> Pekanbaru sudah mulai diselimuti asap dan tergolong tidak sehat. >> >> Khawatir akan anaknya mengalami masalah karena kabut asap itu, Hengky >> berinisiatif mengungsikan Feyza ke rumah mertuanya di Payakumbuh. Kediaman >> orang tua istrinya ini, Hengky berharap anaknya bisa menghirup udara yang >> lebih sehat. “Kami sekeluarga sangat khawatir dengan kesehatan putri kami >> ini, selama di Pekanbaru ia menghirup udara tidak sehat. Satu minggu >> setelah istri saya melahirkan, kami sekeluarga memutuskan untuk mengungsi >> ke Payakumbuh di rumah mertua saya,” kata Hengky kepada *Haluan* di RS. >> Ibnu Sina Bukittinggi, Jumat (9/10). >> >> Hengky menjelaskan, selama berada di Payakumbuh kondisi kabut asap tidak >> jauh berbeda dengan di Pekanbaru, setiap hari bayinya selalu menghirup >> udara yang tidak sehat dan lama kelamaan daya tahan putrinya menurun. >> >> Akhirnya, Jumat (2/10) Feyza mulai menunjukkan gejala berbeda karena >> udara sehat yang ia butuhkan tak kunjung didapat. Ia mulai terserang sakit >> influenza, batuk, demam dan suhu tubuhnya naik turun. Melihat kondisi anak >> keduanya selalu menanggis kemudian ia membawa berobat ke salah satu klinik >> di Payakumbuh. Namun kondisi Feyza tidak mengalami kemajuan dan akhirnya >> sambil berobat jalan ia membawa Feyza ke Bukittinggi, di tempat orang >> tuanya untuk mengunggsi supaya terhindar dari kabut asap di Payakumbuh. >> >> Lagi-lagi, upaya Hengky tak berbuah manis. Di Bukittinggi kabut asap >> bukannya berkurang malah semakin bertambah dan akhirnya Feyza tidak tahan >> dengan keadaan itu. Ia mengalami sesak nafas hebat kata Hengky, sehingga >> setiap bernafas dadanya selalu berbunyi. Melihat kondisi tersebut Hengky >> Selasa (6/10) membawa putrinya ke RS Ibnu Sina Bukittinggi dan sampai hari >> ini (Jumat, red) Feyza masih menjalni perawatan di Ruangan Isolasi untuk >> memulihkan kondisinya. >> >> “Alhamdulillah keadaan putri saya sudah mulai agak membaik, selang >> oksigennya kemaren sudah dilepas,” ulasnya. Namun di sisi lain ia merasa >> khawatir dengan biaya pengobatan selama berada rumah sakit. Sebab bayinya >> tidak mempunyai kartu BPJS Kesehatan. Ia telah mencoba mendaftarkan >> bayinya sebagai peserta BPJS Kesehatan. >> >> Sayang, kartu BPJS tersebut bisa dipergunakan, menurut pegawai Kantor >> BPJS Kesehatan kartu itu bisa dimanfaatkan setelah 14 hari mendaftar. Ia >> berharap sekiranya pemerintah bisa membantu biaya pengobatan putrinya, >> sebab selama dua bulan ini ia tidak bisa mencari nafkah karena usahanya >> berjualan di Pekanbaru sudah ia tutup karena tidak tahan dengan kabut asap >> yang melanda Pekanbaru. >> >> Sebelumnya di Padang, salah satunya murid di SD 01 Alang Laweh, Parlen >> Lorenzo harus dilarikan ke rumah Puskesmas Seberang Padang karena >> mengeluh sesak nafas saat beraktifitas di sekolahnya, Kamis (8/10). >> >> “Pukul 08.30 WIB, tiba-tiba Parlen datang ke gurunya dengan keluhan susah >> bernafas. Oleh guru, ia dibawa ke ruangan UKS. Nah di ruangan tersebut ada >> sekitar setengah jam, dan kami menduga kalau Parlen ini takutnya kena >> ISPA. Lalu kami putuskan untuk mambawa ke Puskesmas Seberang Padang untuk >> diperiksa lebih lanjut,” ungkap Kepala Sekolah SD 01 Ribosnita yang >> didampingi oleh guru yang membawa Parlen ke Puskesmas Yurma Yunidar saat >> ditemui media. >> >> Dikatakan juga, ternyata dugaan para guru terbukti saat Parlen dibawa ke >> puskesmas dan hasil pemeriksaan dokter menyatakan kalau siswa tersebut >> positif ISPA dan langsung dilakukan penindakan. >> >> Ribosnita juga mengaku, belum ada himbauan baik itu dari pemko maupun >> Dinas Pendidikan untuk meliburkan aktivitas di sekolah, makanya ia tidak >> berani mengambil kebijakan untuk meliburkan siswa. Disisi lain, para siswa >> juga sedang melaksanakan ujian tengah semester yang sudah berjalan dari >> Senin kemarin hingga Sabtu depan, namun disisi lain ia khawatir dengan >> kondisi kesehatan para siswa. >> >> “Kita hanya mengurangi aktivitas di luar ruangan saja, seperti olehraga, >> kultum, dan pramuka untuk sementara ditiadakan dulu atau kami adakan >> diruangan saja,” ulasnya. >> >> Kepala Dinas Kota Padang Dr Eka Lusti dalam wawancara dengan *Haluan, >> *menyebutkan, >> bayi dan anak-anak memang rentan diserang penyakit akibat kabut asap. >> Karenanya, perlu perhatian agar mereka bisa jauh dari jangkauan asap, >> seperti mengurangi aktifitas di luar rumah atau menggunakan masker saat di >> berada di luar. *(h/mg-rin/ril)"* >> >> -- MakNgah >> >> >> -- >> . >> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat >> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ >> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. >> =========================================================== >> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: >> * DILARANG: >> 1. Email besar dari 200KB; >> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; >> 3. Email One Liner. >> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta >> mengirimkan biodata! >> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting >> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply >> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & >> mengganti subjeknya. >> =========================================================== >> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: >> http://groups.google.com/group/RantauNet/ >> --- >> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google >> Grup. >> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, >> kirim email ke [email protected] <javascript:>. >> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. >> > > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
