Pak Aby ysh, Pembatan neraca penggunaan lahan dari sektor ekonomi bagus, apalagi kalau pengandil lain (stake holder) turut berpartisipasi, sehingga aspek sosial setempat terakomodasi didalamnya. Semoga pendekatan ini mengakomodasi bukan saja neraca yang dimensi antropogenik saja namun juga yang ekologik sehingga neraca ekonomi lingkungannya menjamin keberlanjutannya dalam jangka panjang.
Salam, Abimanyu 2008/9/24 hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> > Milisters ysh, > > On September 21, 2008 3:41 AM "risfano" [EMAIL PROTECTED] wrote: > > ** > > *"……**Atau seperti neraca keuangan, perimbangan: Assets vs Liabilities. > Apa bisa diperluas menjadi: peruntukan yang komersial (untuk cari dana), > dan peruntukan yang disubsidi (untuk golongan ekonomi lemah)?** ** > Begitukah?**....".* > > > > Commerce dan subsidi dalam ruang saya pikir amat sangat bisa dipasangkan……. > > Ketika tahun lalu pak Risman dan pak Eka serta satu konsultan membuat > semacam proyek perintisan Land Readjustment lahan "dari rakyat-oleh > rakyat-untuk rakyat" dibagian selatan kota Kupang, NTT dan saya > diperkenankan ikut melihat dan memberikan masukan utk design blockplannya……. > Kita waktu itu sepakat bahwa dengan satu rumusan tertentu…. Bisa > direncanakan beberapa kapling komersial…. Dimana hasil penjualannya bisa > dipakai untuk biaya pengembangan bbrp bagian prasarana utama kawasan itu… > seperti tentang biaya pemetaan, biaya sertifikasilahan, atau pengaspalan > ruas jalan-jalan utama blok, pembuatan sewerage system…dsb… > > Proyeksi Greater Makassar juga sangat mungkin mengembangkan unsur kapling > mini murah untuk sikecil (sebagai bagian dari perintisan model urban > transmigration…. Yang hasilnya bisa ditunjukkan kepada Depnakertrans.. agar > mereka jangan hanya terus2an mengembangkan agrarian migration of poor farmer > saja)…. . hasil subsidi silang dari pengembangan/ penjualan kapling2 > perumahan menengah dan besar…. Sebagai bagian dari proyeksi migrasi kerah > putih……yang ini juga hasil serta dampak ganda dari proyeksi filialisasi > industri memimpin dari primate city………… > > > > Salam, > > aby > > --- On *Sun, 9/21/08, risfano <[EMAIL PROTECTED]>* wrote: > > From: risfano <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [referensi] Re: neraca ruang > To: [email protected] > Date: Sunday, September 21, 2008, 10:04 PM > > > Bang Eka dan rekans ysh, > > Neraca lahan = neraca ruang? > Kalau lahan, tanah, apakah tidak lebih konkret. Kalau 'ruang' sepertinya > kan intangible. Orang memiliki atau membeli x ha lahan, bukan ruang kan? > Nilai lahan/tanah, land value, land rent. > Sementara kalau ruang konotasinya lebih abstract, konsep, "peruntukan" > atas sebidang lahan/tanah. > > Bukan begitu? Jadi yang mana yang ada kita bahas? > > Salam, > Risfan Munir > > --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com <referensi%40yahoogroups.com>, "ekadj08" > <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > > Pak Risfan ysh, > > > > Sepertinya bapak telah membuka pintu kepada pemikiran neraca yang > lebih > > implementatif. Sebenarnya ada contoh yang lebih populer dan dikenal > > selama ini, yaitu: neraca air. Manajemen sumber daya air berlandas > pada > > beberapa prinsip, di antaranya bagaimana bila air itu ditahan selama > > mungkin di daratan, tersimpan (stock) di hulu, dan didistribusikan > > penggunaannya secara efisien, apakah melalui pipa, saluran, bendungan, > > dst. Jenis penggunaannya pun beragam, mulai dari penggunaan domestik > > rumah tangga, pertanian, perikanan, industri, dst. Jadi pengelolaan > > sumber daya air memerlukan manajemen mulai dari hulu hingga ke hilir. > > Untuk itu dibutuhkan neraca, yang mengimbangkan penyediaan dan > > penggunaan, supaya pemanfaatannya menjadi sustain. Namun permasalahan > > kita selama ini hanya bermain di tataran teoritik dan filosofik, belum > > sampai kepada perhitungan yang lebih terukur. Atau kalaupun ada, belum > > populer. > > > > > > > >

