Solusi sederhana, yang namanya MRT tidak harus berada di dalam tanah. Di singapore yang ada didalam tanah cuma yang di kota, sedikit keluar kota suda elevated MRT nya :-)
Di Jakarta ada banyak jalur kereta yang nggak dipelihara bahkan ditinggali gubuk liar. Dan mungkin juga bisa kita pikirkan kalau di atas jalur busway kita gelar rel kemudian dipikirkan di persimpangannya saja sudah jadi MRT :-) Salam RM --- In [email protected], [EMAIL PROTECTED] wrote: > > Sebagai bahan perbandingan buat pemikiran kita, Saya 3 tahun lalu pernah ikut seminar transportasi, dan pembicaranya pada waktu itu sangat kompeten di bidangnya (jabatannya Eselon I ). Beliau menyampaikan bahwa kita tahun 1980 an pernah menyiapkan rencana pembangunan kereta bawah tanah di Jakarta, dan sudah menyusun FS, dan lain2 nya, rencananya dibiayai Loan sangat lunak dari Jepang. Sebetulnya ini sinergi, kita tdk punya kemampuan teknologi pembangunan terowongan dan duit, Jepang punya teknologi pembangunan terowongan dan duit, kita memang terpaksa tergantung pengadaannya oleh pihak Jepang dan harganya barangkali 2-3 kali lebih mahal, tapi kan dikompensasi dengan pinjaman yang sangat lunak, dan yang penting efektif. Pada saat terakhir, dengan kurang mempertimbangkan persiapan dan efort yg telah dilakukan, secara tiba2 keputusan politik kita menyatakan kegiatan dibatalkan dan pembangunan subway tsb akan ditangani oleh bangsa Indonesia sendiri, keputusan > yg mencengangkan pihak Jepang. Selanjutnya anda ketahui, Subway tdk pernah terbangun, dan sekarang kalaupun ingin dibangun harganya sdh tdk terjangkau masyarakat dan tidak cost recovery lagi. Seharusnya beberapa tahun ini kita sudah menikmati punya subway, bila kita pada waktu itu bisa mengukur diri kita sendiri. Bukan bermaksud mengatakan bangsa kita tidak punya kemampuan, tapi kita ukurlah kemampuan kita dan kita optimalisasikan mana yang terbaik bagi bangsa kita. Semangat nasionalis yang tinggi tanpa dibarengi dengan pertimbangan yang matang tentang apa yang terbaik bagi bangsa Indonesia, hasil akhirnya kita akan gigit jari. Ini bukan kontra thd penulis terdahulu, ini sekedar sisi lain yang mungkin perlu juga dipikirkan. > > --- On Thu, 10/23/08, Rachmad M <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > From: Rachmad M <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [referensi] MRT Kenapa Harus Jepang ? > To: [email protected] > Date: Thursday, October 23, 2008, 8:04 AM > > > > > > > > > > > > Kita ini seperti bangsa yang tidak mengenali negeri kita sendiri. Hanya > > untuk mengoptimalkan kereta api atau angkutan masa kita harus panggil > > dan bayar orang Jepang. Sebarapa bodohkah insinyur-insinyur kita ? > > > > Berkali saya tuliskan bahwa hentikan seluruh kereta luar kota sampai > > Bekasi. Rel dalam kota didedikasikan untuk angkutan dalam kota dan itu > > saja panjangnya sudah 200 km lari. Cepat perbaiki setasiunnya yang > > modern jangan biarkan stasiun peninggalan Belanda seperti di Palmerah > > tetap teronggok disana, geser ke tempat yang lebih strategis. > > Perbaharui semua gerbong-gerbongnya dan ber AC, Optimalkna kinerja anak > > bangsa yang di KS, Yang di INKA, yang di PT. KAI yang di LEN, yang di > > Semen Gresik untuk mempersiapkan segala keperluan ini. Ini semua > > hanyalah masalah tukar-menukar barang dan jasa secara internal. > > > > http://rachmad. kuyasipil. net/?p=282 > > > > Salam > > > > RM >

