Pak Bin ysh.

Terima kasih pak atas infonya. Mengenai metoda reklamasi ini saya kira
sama dengan yang diusulkan dulu, yang hulunya mungkin adalah sistem
polder di Belanda. Memang pada waktu itu disebutkan pada tahap awal akan
diambil tanah dari sebelah utara Banten, namun perkiraan saya terlalu
costly dan jauh. Praduga yang paling mungkin adalah tanah dari proyek
subway itulah. Saya juga jadi kepikiran melihat tanah galian proyek BKT
sekarang dibuang kemana? Massanya kan besar juga.

Pada waktu itu saya melihat Pak Wayan, Izhar, dll yang turut merancang
'kota baru' itu. Kalau dilihat untuk pelabuhan Tanjung Priok memang akan
dipertahankan, sehingga posisinya berada dalam 'teluk buatan'. Termasuk
revitalisasi pelabuhan Sunda Kelapa. Rancangannya memang akan menjadikan
Jakarta sebagai 'water front city' yang sebenar-benarnya.

Walaupun kelihatannya gagal, tapi secara diam-diam beberapa pengembang
mengambil issue ini dalam skala kecil, sehingga lahirlah Pantai Mutiara,
Pantai Indah Kapuk, dll, termasuk reklamasi di pantai Ancol sendiri.
Saya waktu itu mengajak Mas Hendro Sangkoyo ketemu Pak Budiharjo, dan
memang telah mengingatkan aspek-aspek lingkungan.

Tapi faktor terbesar gagalnya reklamasi Pantura itu saya dengar pada
awal-awal tahun 2000, yaitu ketika Perum Jatiluhur dan PAM Jaya
mengingatkan tidak ada supply air bersih yang cukup untuk menunjang
'kota baru' itu. Dengan kata lain Jakarta physically sebenarnya telah
berada dalam ambang batas pertumbuhan (growth management).

Mengenai reklamasi pelabuhan, saya sebenarnya telah melihat kasus
pelabuhan Tokyo. Waktu itu kami sempat diajak jalan oleh Higashi Kenji,
pernah jadi LO di CK, dan mendapatkan penjelasan yang cukup. Kasus Tokyo
menunjukkan 'kawasan sekitar pelabuhan' adalah intensif untuk aktivitas
ekonomi, terutama industri, sehingga butuh lahan dengan cara reklamasi.
Saat ini 'produk reklamasi' memang telah memenuhi Teluk Edo, dan akan
kian meningkat terus di masa depan. Satu pelajaran mungkin: kawasan
industri harus dekat dengan pelabuhan. Adapun reklamasi itu tidak bisa
dihindarkan, walaupun di kawasan rawan gempa dan tsunami yang pernah
terkenal dengan The Great Kanto Earthquake, seperti di Teluk Edo itu.
Dan prioritas adalah untuk non-hunian. Ketika saya tanyakan tantangan
dan ancaman itu, Kenji hanya mengangkat kedua bahunya sambil membalikkan
kedua telapak tangannya. Saya kira China juga berpikir yang sama dengan
Jepang.

Demikian pak, dan terimakasih. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], [EMAIL PROTECTED] wrote:
>
> Pak Eka, Mengenai tanah urugan, kita tim DKI , KLH dan PU, Setkab dll
tahun 2007 pernah mengunjungi china untuk melihat proses reklamasi.
Sebagian besar reklamasi di China utk tujuan pengembangan pelabuhan.
Pada intinya kawasan reklamasi dibuat cover dam dulu, kemudian diisi
dengan lumpur laut yang diambil berdekatan dengan kawasan reklamasi,
sekaligus memperdalam alur kapal laut menuju pelabuhan,kemudian
dipadatkan dengan berat sendiri serta mengeluarkan air dengan pipa2
vertikal. Masalah lingkungan tidak begitu signifikan dengan metoda ini.
Menurut saya metoda dari China cocok utk diterapkan di Indonesia.
>
> --- On Sun, 10/26/08, ekadj08 [EMAIL PROTECTED] wrote:
>
> From: ekadj08 [EMAIL PROTECTED]
> Subject: [referensi] Re: MRT Kenapa Harus Jepang ?
> To: [email protected]
> Date: Sunday, October 26, 2008, 12:09 PM
>
>
>
>
>
>
>
> Pak Irwan, Bang Rachmad, dan rekan-rekan Referensiers ysh, ikutan
rembug.
> Sekitar 12 tahunan yang lalu, saya pernah ditugaskan untuk memantau
penyiapan kebijakan Pantura Jakarta, dan berkenalan dengan Pak Budiharjo
Sukmadi, Ketua Bappeda waktu itu. Memang pembahasan cukup intensif
selama 3 bulanan, berlangsung di Ancol di depan Dufan itu. Ternyata
secara simultan pada saat itu juga disiapkan kebijakan busway untuk
Jakarta. Saya menilai kedua kebijakan itu adalah pemikiran yang cerdas
dari Pak Budiharjo, dan juga Pak Hari Sidharta.
> Pertama, reklamasi Pantura Jakarta hingga batas kedalaman 8 m dbpl
akan menambah luas daratan sekitar 3.600 Ha, atau 1/10 luas Jakarta
sekarang ini. Saya mengesampingkan aspek lingkungan sementara waktu.
Namun 'investor' kelihatannya telah tersedia, walau hanya 2-3 orang
saja. Dengan kata lain, Pemda tidak keluar duit. Yang jadi pertanyaan
saya waktu itu, darimana tanah diperoleh untuk mengurug luasan seperti
itu ?
> Kedua, rupanya secara simultan dilahirkan kebijakan busway; yang
secara biaya memang mahal. Namun sepertinya tanah galian akan digunakan
untuk urugan reklamasi itu.
> Saya kira ini klop, dan ternyata setelah itu terjadi resesi ekonomi
yang mengubur berbagai rencana itu.
> Mengenai kapasitas angkut, keunggulan sistem, dll pernah saya sampai
terdahulu. Saya kira Pak Irwan sangat mendalami sistem Jepang. Dulu yang
pernah saya ketahui, kedalaman subway di Jepang antara 25-40 m, saya
kira cukup untuk masih di bawah dari basement terdalam dari bangunan di
Tokyo. Apalagi bila lintasan itu berada di bawah jaringan jalan, bisa
cukup 10-15 m saja. Saya kira ini tantangan pengetahuan baru bagi civil
engineers.
> Permasalahannya hanya menyangkut 'budaya' kita saja yang kurang
menggali aspek bawah tanah. Saya teringat film "Letters from Iwo Jima",
ketika 'ruang bawah tanah' adalah benteng terakhir yang dapat kita
pertahankan untuk kehidupan.
> Salam,
> -ekadj
>
> --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, Irwan Prasetyo pras@ wrote:
> >
> > Ysh Bpk, Ibu dan Rekan-rekan
> >
> > Saya termasuk kelompok orang yang tidak mendukung subway pada saat
ini.
> > Apa kita memang harus ikut-ikutan punya subway seperti negara lain?
> >
> > Negara-negara itu kan punya situasi masing-masing yang membuatnya
sesuai
> > dengan penggunaan subway.
> >
> > Jepang berjualan subway karena memang ada interest disitu. Biayanya
> > sepuluh kali lebih tinggi, teknis pelaksanaannya rumit.
> >
> > Untuk underground Jakarta apa ada data lengkap tentang drainage,
saluran
> > air dan lain lain? Nanti nabrak-nabrak.
> >
> > Kalau untuk menghindari intersection bolehlah dengan membuat
terowongan,
> > tapi tidak untuk sepanjang route.
> >
> > Saya pernah lihat pembangunan subway di Tokyo, bornya sebesar rumah
dan
> > ditanam puluhan meter ke dalam. Sangat rumit.
> >
> > Saya setuju dengan pengembangan Kereta Api, Busway, Monorail yang
jauh
> > lebih murah.
> >
> > Belum lagi kemampuan operasional dan pemeliharaannya, apa kita sudah
> > terbukti terlatih untuk operasi busway? masih jauh.
> >
> > Kalau belum sanggup beli dan pelihara Mercy, beli Kijang dulu aja
lah,
> > tidak usah maksa.
> >
> > Kelompok kita ini menyuarakannya kemana ya biar vokal?
> >
> > Lalu tentang Aceh, dulu itu ada Jalur Kereta Aceh Medan, sekarang
malah
> > dimatikan, bagaimana itu?
> >
> > Demikian disampaikan, terimakasih.
> >
> > Irwan Prasetyo
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > >
> > > Solusi sederhana, yang namanya MRT tidak harus berada di dalam
> > tanah.
> > > Di singapore yang ada didalam tanah cuma yang di kota, sedikit
> > keluar
> > > kota suda elevated MRT nya :-)
> > >
> > > Di Jakarta ada banyak jalur kereta yang nggak dipelihara bahkan
> > > ditinggali gubuk liar. Dan mungkin juga bisa kita pikirkan kalau
di
> > > atas jalur busway kita gelar rel kemudian dipikirkan di
> > > persimpangannya saja sudah jadi MRT :-)
> > >
> > > Salam
> > >
> > > RM
> > >
> > > --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, w_bintarto@ .. wrote:
> > > >
> > > > Sebagai bahan perbandingan buat pemikiran kita, Saya 3 tahun
lalu
> > > pernah ikut seminar transportasi, dan pembicaranya pada waktu itu
> > > sangat kompeten di bidangnya (jabatannya Eselon I ). Beliau
> > > menyampaikan bahwa kita tahun 1980 an pernah menyiapkan rencana
> > > pembangunan kereta bawah tanah di Jakarta, dan sudah menyusun FS,
> > dan
> > > lain2 nya, rencananya dibiayai Loan sangat lunak dari Jepang.
> > > Sebetulnya ini sinergi, kita tdk punya kemampuan teknologi
> > > pembangunan terowongan dan duit, Jepang punya teknologi
pembangunan
> > > terowongan dan duit, kita memang terpaksa tergantung pengadaannya
> > > oleh pihak Jepang dan harganya barangkali 2-3 kali lebih mahal,
> > tapi
> > > kan dikompensasi dengan pinjaman yang sangat lunak, dan yang
> > penting
> > > efektif. Pada saat terakhir, dengan kurang mempertimbangkan
> > persiapan
> > > dan efort yg telah dilakukan, secara tiba2 keputusan politik kita
> > > menyatakan kegiatan dibatalkan dan pembangunan subway tsb akan
> > > ditangani oleh bangsa Indonesia sendiri, keputusan
> > > > yg mencengangkan pihak Jepang. Selanjutnya anda ketahui, Subway
> > > tdk pernah terbangun, dan sekarang kalaupun ingin dibangun
harganya
> > > sdh tdk terjangkau masyarakat dan tidak cost recovery lagi.
> > > Seharusnya beberapa tahun ini kita sudah menikmati punya subway,
> > bila
> > > kita pada waktu itu bisa mengukur diri kita sendiri. Bukan
> > bermaksud
> > > mengatakan bangsa kita tidak punya kemampuan, tapi kita ukurlah
> > > kemampuan kita dan kita optimalisasikan mana yang terbaik bagi
> > bangsa
> > > kita. Semangat nasionalis yang tinggi tanpa dibarengi dengan
> > > pertimbangan yang matang tentang apa yang terbaik bagi bangsa
> > > Indonesia, hasil akhirnya kita akan gigit jari. Ini bukan kontra
> > thd
> > > penulis terdahulu, ini sekedar sisi lain yang mungkin perlu juga
> > > dipikirkan.
> > > >
> > > > --- On Thu, 10/23/08, Rachmad M <rachmadm@ .> wrote:
> > > > From: Rachmad M <rachmadm@ .>
> > > > Subject: [referensi] MRT Kenapa Harus Jepang ?
> > > > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
> > > > Date: Thursday, October 23, 2008, 8:04 AM
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > Kita ini seperti bangsa yang tidak mengenali negeri
> > > kita sendiri. Hanya
> > > >
> > > > untuk mengoptimalkan kereta api atau angkutan masa kita harus
> > > panggil
> > > >
> > > > dan bayar orang Jepang. Sebarapa bodohkah insinyur-insinyur kita
?
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > Berkali saya tuliskan bahwa hentikan seluruh kereta luar kota
> > sampai
> > > >
> > > > Bekasi. Rel dalam kota didedikasikan untuk angkutan dalam kota
> > dan
> > > itu
> > > >
> > > > saja panjangnya sudah 200 km lari. Cepat perbaiki setasiunnya
yang
> > > >
> > > > modern jangan biarkan stasiun peninggalan Belanda seperti di
> > > Palmerah
> > > >
> > > > tetap teronggok disana, geser ke tempat yang lebih strategis.
> > > >
> > > > Perbaharui semua gerbong-gerbongnya dan ber AC, Optimalkna
> > kinerja
> > > anak
> > > >
> > > > bangsa yang di KS, Yang di INKA, yang di PT. KAI yang di LEN,
> > yang
> > > di
> > > >
> > > > Semen Gresik untuk mempersiapkan segala keperluan ini. Ini semua
> > > >
> > > > hanyalah masalah tukar-menukar barang dan jasa secara internal.
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > http://rachmad. kuyasipil. net/?p=282
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > Salam
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > RM



Kirim email ke