Bapak-Bapak,

Jakarta lagi nih yang dibenahi sampai MRT. ;-)
Ini bisa jadi alasan yang bagus sekali bagi GAM dan Hasan Tiro. :-)

Salam,
Andri

On 10/23/08, Rachmad M <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Solusi sederhana, yang namanya MRT tidak harus berada di dalam tanah.
> Di singapore yang ada didalam tanah cuma yang di kota, sedikit keluar
> kota suda elevated MRT nya :-)
>
> Di Jakarta ada banyak jalur kereta yang nggak dipelihara bahkan
> ditinggali gubuk liar. Dan mungkin juga bisa kita pikirkan kalau di
> atas jalur busway kita gelar rel kemudian dipikirkan di
> persimpangannya saja sudah jadi MRT :-)
>
>
> Salam
>
> RM
>
>
>
> --- In [email protected], [EMAIL PROTECTED] wrote:
>>
>> Sebagai bahan perbandingan buat pemikiran kita, Saya 3 tahun lalu
> pernah ikut seminar transportasi, dan pembicaranya pada waktu itu
> sangat kompeten di bidangnya (jabatannya Eselon I ). Beliau
> menyampaikan bahwa kita tahun 1980 an pernah menyiapkan rencana
> pembangunan kereta bawah tanah di Jakarta, dan sudah menyusun FS, dan
> lain2 nya, rencananya dibiayai Loan sangat lunak dari Jepang.
> Sebetulnya ini sinergi, kita tdk punya kemampuan teknologi
> pembangunan terowongan dan duit, Jepang punya teknologi pembangunan
> terowongan dan duit, kita memang terpaksa tergantung pengadaannya
> oleh pihak Jepang dan harganya barangkali 2-3 kali lebih mahal, tapi
> kan dikompensasi dengan pinjaman yang sangat lunak, dan yang penting
> efektif. Pada saat terakhir, dengan kurang mempertimbangkan persiapan
> dan efort yg telah dilakukan, secara tiba2 keputusan politik kita
> menyatakan kegiatan dibatalkan dan pembangunan subway tsb akan
> ditangani oleh bangsa Indonesia sendiri, keputusan
>>  yg mencengangkan pihak Jepang. Selanjutnya anda ketahui, Subway
> tdk pernah terbangun, dan sekarang kalaupun ingin dibangun harganya
> sdh tdk terjangkau masyarakat dan tidak cost recovery lagi.
> Seharusnya beberapa tahun ini kita sudah menikmati punya subway, bila
> kita pada waktu itu bisa mengukur diri kita sendiri. Bukan bermaksud
> mengatakan bangsa kita tidak punya kemampuan, tapi kita ukurlah
> kemampuan kita dan kita optimalisasikan mana yang terbaik bagi bangsa
> kita. Semangat nasionalis yang tinggi tanpa dibarengi dengan
> pertimbangan yang matang tentang apa yang terbaik bagi bangsa
> Indonesia, hasil akhirnya kita akan gigit jari. Ini bukan kontra thd
> penulis terdahulu, ini sekedar sisi lain yang mungkin perlu juga
> dipikirkan.
>>
>> --- On Thu, 10/23/08, Rachmad M <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>> From: Rachmad M <[EMAIL PROTECTED]>
>> Subject: [referensi] MRT Kenapa Harus Jepang ?
>> To: [email protected]
>> Date: Thursday, October 23, 2008, 8:04 AM
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>             Kita ini seperti bangsa yang tidak mengenali negeri
> kita sendiri. Hanya
>>
>> untuk mengoptimalkan kereta api atau angkutan masa kita harus
> panggil
>>
>> dan bayar orang Jepang. Sebarapa bodohkah insinyur-insinyur kita ?
>>
>>
>>
>> Berkali saya tuliskan bahwa hentikan seluruh kereta luar kota sampai
>>
>> Bekasi. Rel dalam kota didedikasikan untuk angkutan dalam kota dan
> itu
>>
>> saja panjangnya sudah 200 km lari. Cepat perbaiki setasiunnya yang
>>
>> modern jangan biarkan stasiun peninggalan Belanda seperti di
> Palmerah
>>
>> tetap teronggok disana, geser ke tempat yang lebih strategis.
>>
>> Perbaharui semua gerbong-gerbongnya dan ber AC, Optimalkna kinerja
> anak
>>
>> bangsa yang di KS, Yang di INKA, yang di PT. KAI yang di LEN, yang
> di
>>
>> Semen Gresik untuk mempersiapkan segala keperluan ini. Ini semua
>>
>> hanyalah masalah tukar-menukar barang dan jasa secara internal.
>>
>>
>>
>> http://rachmad. kuyasipil. net/?p=282
>>
>>
>>
>> Salam
>>
>>
>>
>> RM
>>
>
>
>

Kirim email ke