Pak Irwan, Bang Rachmad, dan rekan-rekan Referensiers ysh, ikutan
rembug.

Sekitar 12 tahunan yang lalu, saya pernah ditugaskan untuk memantau
penyiapan kebijakan Pantura Jakarta, dan berkenalan dengan Pak Budiharjo
Sukmadi, Ketua Bappeda waktu itu. Memang pembahasan cukup intensif
selama 3 bulanan, berlangsung di Ancol di depan Dufan itu. Ternyata
secara simultan pada saat itu juga disiapkan kebijakan busway untuk
Jakarta. Saya menilai kedua kebijakan itu adalah pemikiran yang cerdas
dari Pak Budiharjo, dan juga Pak Hari Sidharta.

Pertama, reklamasi Pantura Jakarta hingga batas kedalaman 8 m dbpl akan
menambah luas daratan sekitar 3.600 Ha, atau 1/10 luas Jakarta sekarang
ini. Saya mengesampingkan aspek lingkungan sementara waktu. Namun
'investor' kelihatannya telah tersedia, walau hanya 2-3 orang saja.
Dengan kata lain, Pemda tidak keluar duit. Yang jadi pertanyaan saya
waktu itu, darimana tanah diperoleh untuk mengurug luasan seperti itu ?

Kedua, rupanya secara simultan dilahirkan kebijakan busway; yang secara
biaya memang mahal. Namun sepertinya tanah galian akan digunakan untuk
urugan reklamasi itu.

Saya kira ini klop, dan ternyata setelah itu terjadi resesi ekonomi yang
mengubur berbagai rencana itu.

Mengenai kapasitas angkut, keunggulan sistem, dll pernah saya sampai
terdahulu <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4289> . Saya
kira Pak Irwan sangat mendalami sistem Jepang. Dulu yang pernah saya
ketahui, kedalaman subway di Jepang antara 25-40 m, saya kira cukup
untuk masih di bawah dari basement terdalam dari bangunan di Tokyo.
Apalagi bila lintasan itu berada di bawah jaringan jalan, bisa cukup
10-15 m saja. Saya kira ini tantangan pengetahuan baru bagi civil
engineers.

Permasalahannya hanya menyangkut 'budaya
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/3593> ' kita saja yang
kurang menggali aspek bawah tanah. Saya teringat film "Letters from Iwo
Jima", ketika 'ruang bawah tanah' adalah benteng terakhir yang dapat
kita pertahankan untuk kehidupan.

Salam,

-ekadj


--- In [email protected], Irwan Prasetyo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Ysh Bpk, Ibu dan Rekan-rekan
>
> Saya termasuk kelompok orang yang tidak mendukung subway pada saat
ini.
> Apa kita memang harus ikut-ikutan punya subway seperti negara lain?
>
> Negara-negara itu kan punya situasi masing-masing yang membuatnya
sesuai
> dengan penggunaan subway.
>
> Jepang berjualan subway karena memang ada interest disitu. Biayanya
> sepuluh kali lebih tinggi, teknis pelaksanaannya rumit.
>
> Untuk underground Jakarta apa ada data lengkap tentang drainage,
saluran
> air dan lain lain? Nanti nabrak-nabrak.
>
> Kalau untuk menghindari intersection bolehlah dengan membuat
terowongan,
> tapi tidak untuk sepanjang route.
>
> Saya pernah lihat pembangunan subway di Tokyo, bornya sebesar rumah
dan
> ditanam puluhan meter ke dalam. Sangat rumit.
>
> Saya setuju dengan pengembangan Kereta Api, Busway, Monorail yang jauh
> lebih murah.
>
> Belum lagi kemampuan operasional dan pemeliharaannya, apa kita sudah
> terbukti terlatih untuk operasi busway? masih jauh.
>
> Kalau belum sanggup beli dan pelihara Mercy, beli Kijang dulu aja lah,
> tidak usah maksa.
>
> Kelompok kita ini menyuarakannya kemana ya biar vokal?
>
> Lalu tentang Aceh, dulu itu ada Jalur Kereta Aceh Medan, sekarang
malah
> dimatikan, bagaimana itu?
>
> Demikian disampaikan, terimakasih.
>
> Irwan Prasetyo
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> >
> > Solusi sederhana, yang namanya MRT tidak harus berada di dalam
> tanah.
> > Di singapore yang ada didalam tanah cuma yang di kota, sedikit
> keluar
> > kota suda elevated MRT nya :-)
> >
> > Di Jakarta ada banyak jalur kereta yang nggak dipelihara bahkan
> > ditinggali gubuk liar. Dan mungkin juga bisa kita pikirkan kalau di
> > atas jalur busway kita gelar rel kemudian dipikirkan di
> > persimpangannya saja sudah jadi MRT :-)
> >
> > Salam
> >
> > RM
> >
> > --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, w_bintarto@ .. wrote:
> > >
> > > Sebagai bahan perbandingan buat pemikiran kita, Saya 3 tahun lalu
> > pernah ikut seminar transportasi, dan pembicaranya pada waktu itu
> > sangat kompeten di bidangnya (jabatannya Eselon I ). Beliau
> > menyampaikan bahwa kita tahun 1980 an pernah menyiapkan rencana
> > pembangunan kereta bawah tanah di Jakarta, dan sudah menyusun FS,
> dan
> > lain2 nya, rencananya dibiayai Loan sangat lunak dari Jepang.
> > Sebetulnya ini sinergi, kita tdk punya kemampuan teknologi
> > pembangunan terowongan dan duit, Jepang punya teknologi pembangunan
> > terowongan dan duit, kita memang terpaksa tergantung pengadaannya
> > oleh pihak Jepang dan harganya barangkali 2-3 kali lebih mahal,
> tapi
> > kan dikompensasi dengan pinjaman yang sangat lunak, dan yang
> penting
> > efektif. Pada saat terakhir, dengan kurang mempertimbangkan
> persiapan
> > dan efort yg telah dilakukan, secara tiba2 keputusan politik kita
> > menyatakan kegiatan dibatalkan dan pembangunan subway tsb akan
> > ditangani oleh bangsa Indonesia sendiri, keputusan
> > > yg mencengangkan pihak Jepang. Selanjutnya anda ketahui, Subway
> > tdk pernah terbangun, dan sekarang kalaupun ingin dibangun harganya
> > sdh tdk terjangkau masyarakat dan tidak cost recovery lagi.
> > Seharusnya beberapa tahun ini kita sudah menikmati punya subway,
> bila
> > kita pada waktu itu bisa mengukur diri kita sendiri. Bukan
> bermaksud
> > mengatakan bangsa kita tidak punya kemampuan, tapi kita ukurlah
> > kemampuan kita dan kita optimalisasikan mana yang terbaik bagi
> bangsa
> > kita. Semangat nasionalis yang tinggi tanpa dibarengi dengan
> > pertimbangan yang matang tentang apa yang terbaik bagi bangsa
> > Indonesia, hasil akhirnya kita akan gigit jari. Ini bukan kontra
> thd
> > penulis terdahulu, ini sekedar sisi lain yang mungkin perlu juga
> > dipikirkan.
> > >
> > > --- On Thu, 10/23/08, Rachmad M <rachmadm@ .> wrote:
> > > From: Rachmad M <rachmadm@ .>
> > > Subject: [referensi] MRT Kenapa Harus Jepang ?
> > > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
> > > Date: Thursday, October 23, 2008, 8:04 AM
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > Kita ini seperti bangsa yang tidak mengenali negeri
> > kita sendiri. Hanya
> > >
> > > untuk mengoptimalkan kereta api atau angkutan masa kita harus
> > panggil
> > >
> > > dan bayar orang Jepang. Sebarapa bodohkah insinyur-insinyur kita ?
> > >
> > >
> > >
> > > Berkali saya tuliskan bahwa hentikan seluruh kereta luar kota
> sampai
> > >
> > > Bekasi. Rel dalam kota didedikasikan untuk angkutan dalam kota
> dan
> > itu
> > >
> > > saja panjangnya sudah 200 km lari. Cepat perbaiki setasiunnya yang
> > >
> > > modern jangan biarkan stasiun peninggalan Belanda seperti di
> > Palmerah
> > >
> > > tetap teronggok disana, geser ke tempat yang lebih strategis.
> > >
> > > Perbaharui semua gerbong-gerbongnya dan ber AC, Optimalkna
> kinerja
> > anak
> > >
> > > bangsa yang di KS, Yang di INKA, yang di PT. KAI yang di LEN,
> yang
> > di
> > >
> > > Semen Gresik untuk mempersiapkan segala keperluan ini. Ini semua
> > >
> > > hanyalah masalah tukar-menukar barang dan jasa secara internal.
> > >
> > >
> > >
> > > http://rachmad. kuyasipil. net/?p=282
> > >
> > >
> > >
> > > Salam
> > >
> > >
> > >
> > > RM
> > >
> >
>


Kirim email ke