Ngga sederhana gitulah Mas. Saya pernah panel dgn Emil Salim, memberi contoh 
bhw kenapa kho kita ngga bisa nyontoh Singapura, semua rencana bisa terlaksana 
dan pembangunan bisa teratur. Saya langsung dicut oleh Emil Salim, Bung ngga 
bisalah menyontohkan Singapure, Singapure sangat berbeda dengan kita, apa bener 
singapure itu negara yang demokratis, tidak Bung. Semua bisa berjalan, krn 
semua bisa dikendalikan, tanah bukan milik rakyat, milik negara!  2 tahun yang 
lalu Indonesia mencanangkan 1000 km jalan Tol, sampai sekarang kasarnya 1 
jengkalpun belum terwujud, karena ini Negara Indonesia yang sangat demokratis, 
barangkali paling demokratis di dunia?  Barangkali bisa jadi catatan kata  Pak 
Bin, pembangunan SubWay saat ini semakin tdk terjangkau, sosial costnya semakin 
tinggi. Tapi bukan berarti tdk bisa membangun SubWay, paling engga kita 
memerlukan effort yg besar ut melaksnakan ini.  Salam hangat.

--- On Thu, 10/23/08, Rachmad M <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Rachmad M <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [referensi] Re: MRT Kenapa Harus Jepang ?
To: [email protected]
Date: Thursday, October 23, 2008, 12:14 AM






Solusi sederhana, yang namanya MRT tidak harus berada di dalam tanah. 
Di singapore yang ada didalam tanah cuma yang di kota, sedikit keluar 
kota suda elevated MRT nya :-)

Di Jakarta ada banyak jalur kereta yang nggak dipelihara bahkan 
ditinggali gubuk liar. Dan mungkin juga bisa kita pikirkan kalau di 
atas jalur busway kita gelar rel kemudian dipikirkan di 
persimpangannya saja sudah jadi MRT :-)

Salam

RM

--- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, [EMAIL PROTECTED] .. wrote:
>
> Sebagai bahan perbandingan buat pemikiran kita, Saya 3 tahun lalu 
pernah ikut seminar transportasi, dan pembicaranya pada waktu itu 
sangat kompeten di bidangnya (jabatannya Eselon I ). Beliau 
menyampaikan bahwa kita tahun 1980 an pernah menyiapkan rencana 
pembangunan kereta bawah tanah di Jakarta, dan sudah menyusun FS, dan 
lain2 nya, rencananya dibiayai Loan sangat lunak dari Jepang. 
Sebetulnya ini sinergi, kita tdk punya kemampuan teknologi 
pembangunan terowongan dan duit, Jepang punya teknologi pembangunan 
terowongan dan duit, kita memang terpaksa tergantung pengadaannya 
oleh pihak Jepang dan harganya barangkali 2-3 kali lebih mahal, tapi 
kan dikompensasi dengan pinjaman yang sangat lunak, dan yang penting 
efektif. Pada saat terakhir, dengan kurang mempertimbangkan persiapan 
dan efort yg telah dilakukan, secara tiba2 keputusan politik kita 
menyatakan kegiatan dibatalkan dan pembangunan subway tsb akan 
ditangani oleh bangsa Indonesia sendiri, keputusan
> yg mencengangkan pihak Jepang. Selanjutnya anda ketahui, Subway 
tdk pernah terbangun, dan sekarang kalaupun ingin dibangun harganya 
sdh tdk terjangkau masyarakat dan tidak cost recovery lagi. 
Seharusnya beberapa tahun ini kita sudah menikmati punya subway, bila 
kita pada waktu itu bisa mengukur diri kita sendiri. Bukan bermaksud 
mengatakan bangsa kita tidak punya kemampuan, tapi kita ukurlah 
kemampuan kita dan kita optimalisasikan mana yang terbaik bagi bangsa 
kita. Semangat nasionalis yang tinggi tanpa dibarengi dengan 
pertimbangan yang matang tentang apa yang terbaik bagi bangsa 
Indonesia, hasil akhirnya kita akan gigit jari. Ini bukan kontra thd 
penulis terdahulu, ini sekedar sisi lain yang mungkin perlu juga 
dipikirkan.
> 
> --- On Thu, 10/23/08, Rachmad M <[EMAIL PROTECTED] .> wrote:
> From: Rachmad M <[EMAIL PROTECTED] .>
> Subject: [referensi] MRT Kenapa Harus Jepang ?
> To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
> Date: Thursday, October 23, 2008, 8:04 AM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Kita ini seperti bangsa yang tidak mengenali negeri 
kita sendiri. Hanya
> 
> untuk mengoptimalkan kereta api atau angkutan masa kita harus 
panggil
> 
> dan bayar orang Jepang. Sebarapa bodohkah insinyur-insinyur kita ?
> 
> 
> 
> Berkali saya tuliskan bahwa hentikan seluruh kereta luar kota sampai
> 
> Bekasi. Rel dalam kota didedikasikan untuk angkutan dalam kota dan 
itu
> 
> saja panjangnya sudah 200 km lari. Cepat perbaiki setasiunnya yang
> 
> modern jangan biarkan stasiun peninggalan Belanda seperti di 
Palmerah
> 
> tetap teronggok disana, geser ke tempat yang lebih strategis.
> 
> Perbaharui semua gerbong-gerbongnya dan ber AC, Optimalkna kinerja 
anak
> 
> bangsa yang di KS, Yang di INKA, yang di PT. KAI yang di LEN, yang 
di
> 
> Semen Gresik untuk mempersiapkan segala keperluan ini. Ini semua
> 
> hanyalah masalah tukar-menukar barang dan jasa secara internal.
> 
> 
> 
> http://rachmad. kuyasipil. net/?p=282
> 
> 
> 
> Salam
> 
> 
> 
> RM
>

 














      

Kirim email ke