Ysh Bpk, Ibu dan Rekan-rekan Saya termasuk kelompok orang yang tidak mendukung subway pada saat ini. Apa kita memang harus ikut-ikutan punya subway seperti negara lain?
Negara-negara itu kan punya situasi masing-masing yang membuatnya sesuai dengan penggunaan subway. Jepang berjualan subway karena memang ada interest disitu. Biayanya sepuluh kali lebih tinggi, teknis pelaksanaannya rumit. Untuk underground Jakarta apa ada data lengkap tentang drainage, saluran air dan lain lain? Nanti nabrak-nabrak. Kalau untuk menghindari intersection bolehlah dengan membuat terowongan, tapi tidak untuk sepanjang route. Saya pernah lihat pembangunan subway di Tokyo, bornya sebesar rumah dan ditanam puluhan meter ke dalam. Sangat rumit. Saya setuju dengan pengembangan Kereta Api, Busway, Monorail yang jauh lebih murah. Belum lagi kemampuan operasional dan pemeliharaannya, apa kita sudah terbukti terlatih untuk operasi busway? masih jauh. Kalau belum sanggup beli dan pelihara Mercy, beli Kijang dulu aja lah, tidak usah maksa. Kelompok kita ini menyuarakannya kemana ya biar vokal? Lalu tentang Aceh, dulu itu ada Jalur Kereta Aceh Medan, sekarang malah dimatikan, bagaimana itu? Demikian disampaikan, terimakasih. Irwan Prasetyo > > Solusi sederhana, yang namanya MRT tidak harus berada di dalam tanah. > Di singapore yang ada didalam tanah cuma yang di kota, sedikit keluar > kota suda elevated MRT nya :-) > > Di Jakarta ada banyak jalur kereta yang nggak dipelihara bahkan > ditinggali gubuk liar. Dan mungkin juga bisa kita pikirkan kalau di > atas jalur busway kita gelar rel kemudian dipikirkan di > persimpangannya saja sudah jadi MRT :-) > > Salam > > RM > > --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, w_bintarto@ .. wrote: > > > > Sebagai bahan perbandingan buat pemikiran kita, Saya 3 tahun lalu > pernah ikut seminar transportasi, dan pembicaranya pada waktu itu > sangat kompeten di bidangnya (jabatannya Eselon I ). Beliau > menyampaikan bahwa kita tahun 1980 an pernah menyiapkan rencana > pembangunan kereta bawah tanah di Jakarta, dan sudah menyusun FS, dan > lain2 nya, rencananya dibiayai Loan sangat lunak dari Jepang. > Sebetulnya ini sinergi, kita tdk punya kemampuan teknologi > pembangunan terowongan dan duit, Jepang punya teknologi pembangunan > terowongan dan duit, kita memang terpaksa tergantung pengadaannya > oleh pihak Jepang dan harganya barangkali 2-3 kali lebih mahal, tapi > kan dikompensasi dengan pinjaman yang sangat lunak, dan yang penting > efektif. Pada saat terakhir, dengan kurang mempertimbangkan persiapan > dan efort yg telah dilakukan, secara tiba2 keputusan politik kita > menyatakan kegiatan dibatalkan dan pembangunan subway tsb akan > ditangani oleh bangsa Indonesia sendiri, keputusan > > yg mencengangkan pihak Jepang. Selanjutnya anda ketahui, Subway > tdk pernah terbangun, dan sekarang kalaupun ingin dibangun harganya > sdh tdk terjangkau masyarakat dan tidak cost recovery lagi. > Seharusnya beberapa tahun ini kita sudah menikmati punya subway, bila > kita pada waktu itu bisa mengukur diri kita sendiri. Bukan bermaksud > mengatakan bangsa kita tidak punya kemampuan, tapi kita ukurlah > kemampuan kita dan kita optimalisasikan mana yang terbaik bagi bangsa > kita. Semangat nasionalis yang tinggi tanpa dibarengi dengan > pertimbangan yang matang tentang apa yang terbaik bagi bangsa > Indonesia, hasil akhirnya kita akan gigit jari. Ini bukan kontra thd > penulis terdahulu, ini sekedar sisi lain yang mungkin perlu juga > dipikirkan. > > > > --- On Thu, 10/23/08, Rachmad M <rachmadm@ .> wrote: > > From: Rachmad M <rachmadm@ .> > > Subject: [referensi] MRT Kenapa Harus Jepang ? > > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com > > Date: Thursday, October 23, 2008, 8:04 AM > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Kita ini seperti bangsa yang tidak mengenali negeri > kita sendiri. Hanya > > > > untuk mengoptimalkan kereta api atau angkutan masa kita harus > panggil > > > > dan bayar orang Jepang. Sebarapa bodohkah insinyur-insinyur kita ? > > > > > > > > Berkali saya tuliskan bahwa hentikan seluruh kereta luar kota sampai > > > > Bekasi. Rel dalam kota didedikasikan untuk angkutan dalam kota dan > itu > > > > saja panjangnya sudah 200 km lari. Cepat perbaiki setasiunnya yang > > > > modern jangan biarkan stasiun peninggalan Belanda seperti di > Palmerah > > > > tetap teronggok disana, geser ke tempat yang lebih strategis. > > > > Perbaharui semua gerbong-gerbongnya dan ber AC, Optimalkna kinerja > anak > > > > bangsa yang di KS, Yang di INKA, yang di PT. KAI yang di LEN, yang > di > > > > Semen Gresik untuk mempersiapkan segala keperluan ini. Ini semua > > > > hanyalah masalah tukar-menukar barang dan jasa secara internal. > > > > > > > > http://rachmad. kuyasipil. net/?p=282 > > > > > > > > Salam > > > > > > > > RM > > >

