Uda Ekadj dan rekan referenciers ysh,

1. Soal pengertian "akses", ya seperti yang Uda sampaikan, ada 
pengertian "kemudahan menjangkau secara fisik", bukan cuma jarak 
meter, tapi adanya jalan dan angkutan ke sana, dan ongkos angkutnya. 
Namun "akses" juga dalam pengertian kemudahan untuk memperoleh 
pelayanan tersebut. Ada universitas/pabrik dan permukiman di 
sekitarnya, tidak semua warga permukiman itu bisa menikmatinya. 
Banyak faktor non-fisik/spatial bekerja disitu. Ya ini seperti 
diskusi dulu.

2. Soal "ideologi/paradigma pembangunan" (comment Uda ke Bang 
Nuzul), sayangnya itu tidak bisa dihindari, karena "paradigma 
pengembangan wilayah" adalah turunan dari "ideologi pembangunan" 
itu. Tanggapan teman-teman atas laporan WB yl jelas ada yang "pro 
konsentrasi pembangunan di kota (besar)", ada yang hati-hati 
kepada "urban bias" (ingat "Urban Bias: Why Poor Stay Poor"), ada 
yang percaya pada "balance development". Kata rekan Abimanyu, masing-
masing ada komunitas-komunitasnya (community of practice).

3. Soal problematika keuangan daerah, selain dari Bang Nuzul, BTS, 
bisa juga baca Kompas kemarin:

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/02/00134453/susahnya.belanja
kan.anggaran

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/02/00150414/keuangan.daerah.
didera.banyak.masalah

Semoga bermanfaat,

Salam,
Risfan Munir
www.ecoplano.blogspot.com



--- In [email protected], "ffekadj" <4ek...@...> wrote:
>
> 
> Pak Risfan ysh, saya kira maksud bapak mengenai kata kunci 'akses' 
(lack
> of accessibility) ini adalah kunci permasalahan dalam pengembangan
> wilayah. Sebelumnya kita sudah tentukan yaitu 'stabilisasi harga'. 
Hanya
> komponen 'jarak' dalam akses ini agak sedikit rancu pak, mohon 
diulang
> sedikit penjelasannya pak. Dulu
> <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/2167>   kita 
pernah
> ungkapkan justru warga yang tinggal dekat Kemayoran malah 'tidak 
akses'
> ke pusat informasi bisnis di Kemayoran. Malah saya menemukan di 
puncak
> pegunungan Jaya Wijaya yang dingin dan sepi itu ada sekolah 
pendidikan
> S2 dengan fasilitas sangat lengkap.
> 
> Demikian pak. Salam.
> 
> -ekadj
> 
> 
> --- In [email protected], "risfano" <risfano@> wrote:
> >
> > Uda HEkadj,
> >
> > Kata kunci lain peningkatan "akses" - yang bisa berarti jarak dan
> > kemudahan memperoleh.
> >
> > Salam,
> > Risfan Munir
> >
> > --- In [email protected], "ffekadj" 4ekadj@ wrote:
> > >
> > >
> > > Pak Nuzul ysh, terima kasih atas penjelasannya. Sebagai 
kelompok
> > yang
> > > masuk dalam 'mainstream pengembang wilayah' kita tentunya punya
> > ideologi
> > > yang lebih khas, seperti: memperpendek kesenjangan (gap) kaya-
> > miskin,
> > > pusat-pinggiran, agraris-industri, mampu-tidak mampu, dst. Atau
> > dalam
> > > bahasa yang lebih populer saat ini sering digunakan istilah
> > > 'affordability', atau kesempatan yang sama oleh segenap lapisan
> > > masyarakat. Kerangka kebijakan nasional seharusnya bekerja pada
> > landasan
> > > ini, sesuai amanat Konstitusi. Sehingga bila ada kebijakan 
publik
> > yang
> > > tidak relevan diterapkan di suatu wilayah, maka berarti masih 
ada
> > > 'ketimpangan'; dan seharusnya program-program nasional bekerja 
di
> > tempat
> > > itu.
> > >
> > > Saya ingin mengajukan 2 contoh: satu, seperti yang saya 
ungkapkan
> > adalah
> > > masalah harga BBM di Wamena, atau lebih tepat lagi 'Ibukota
> > Kabupaten'
> > > Wamena. Terlepas dari kendala geografis dll, bukankah 
seharusnya
> > harga
> > > BBM yang ditetapkan oleh Pemerintah juga berlaku di tempat
> > tersebut?
> > > Karena harga seperti itu juga dinikmati oleh berbagai daerah 
yang
> > jauh
> > > dari lokasi produksi. Bila kendala infrastruktur dan geografis
> > membatasi
> > > hal tersebut, mungkinkah kebijakan ekonomi dapat diarahkan 
untuk
> > > mengeliminasi hal tersebut, misalnya melalui mekanisme subsidi
> > > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1695> ?
> > >
> > > Dua, ayah saya selalu mengungkapkan dua titik keberhasilan Orde
> > Baru,
> > > yaitu : Jatiluhur dan Bulog. Untuk Bulog dianggap berhasil 
menjamin
> > > ketersediaan pangan nasional, sehingga pada era itu sangat 
sedikit
> > > terdengar kasus busung lapar dll. Namun rekomendasi IMF melalui
> > > structural adjustment programme-nya malah menghapuskan 
keberadaan
> > Bulog,
> > > sehingga saat ini pangan sebagai lapisan terbawah dari piramida
> > Maslow
> > > itu menjadi sangat tergantung dari kebijakan impor. Dengan kata
> > lain
> > > dalam contoh dua ini adalah : kita justru menghapus kebijakan 
yang
> > > proven menjamin ketersediaan pangan secara nasional ini, 
terlepas
> > bila
> > > institusinya dulu merupakan biang KKN dsb.
> > >
> > > Mohon pencerahan pak bila kebijakan saat ini melalui alokasi 
DAU,
> > DAK,
> > > dana Otsus, dlsb telah mampu mensubstitusi kebijakan terdahulu,
> > serta
> > > telah mampukah menjangkau aspek-aspek pengembangan wilayah ?
> > >
> > > Demikian dulu pak. Salam.
> > >
> > > -ekadj
> > >
> > >
> > > --- In [email protected], Nuzul Achjar <achjar@> wrote:
> > > >
> > > > Datuk, Mamak, Uda Eka: "Persoalan ini sebenarnya masalah 
ekonomi
> > > nasional,
> > > > yang hingga saat ini belum tersedia teorinya dan juga
> > kebijakannya"...
> > > >
> > > > NA: Fenomena tentang tingginya harga serta implikasi 
kebijakan
> > yang
> > > datuk
> > > > sebutkan itu mungkin dapat dijelaskan melalui ilustrasi
> > sederhana.
> > > Point
> > > > utama ilustrasi ini: solusi yang ditawarkan 
tergantung "paham",
> > > "ideologi
> > > > ekonomi" dan atau "ideologi politik" yang dianut. Tentu 
banyak
> > teori
> > > dan
> > > > argumentasi dibalik paham-paham ataupun ideologi.
> > > >
> > > > Mengenai soal harga makanan yang begitu tinggi seperti contoh
> > yang
> > > diberikan
> > > > pak Eka, penganut paham neoliberal akan mengatakan bahwa 
tidak
> > > perlulah
> > > > campur tangan pemerintah terlalu besar. Harga makanan di 
Tobelo
> > pasti
> > > akan
> > > > turun melalui mekanisme yang diatur oleh "invisible hand" nya
> > Adam
> > > Smith.
> > > >
> > > > Kalau harga makanan di warung Tobelo masih tetap tinggi 
juga, ya
> > > prasyarat
> > > > agar "invisible hand" dapat bekerja belum dipenuhi, antara 
lain
> > masih
> > > > terhambatnya mobilitas faktor-faktor produksi. Bagaimana mau
> > murah,
> > > lha
> > > > nggak ada akses pelabuhan yang memadai, jalannya rusak berat,
> > nggak
> > > ada
> > > > warung lain yang buka agar dapat bersaing dengan warung
> > sebelumnya.
> > > Mungkin
> > > > sederhanyanya kira-kira gitu barangkali
> > > > .
> > > >
> > > > Penganut paham "institusional" akan berpendapat lain, wah
> > tingginya
> > > harga
> > > > itu kan karena masyarakatnya sudah "nggak bener", tukang 
tipu,
> > > camatnya
> > > > korup, banyak pungli, sehingga "transaction cost" nya tinggi.
> > Walaupun
> > > > sumber alamnya melimpah, tetap saja daerahnya terkebelakang.
> > Biar Kata
> > > > jalannya udah bagus, tetap saja harga di warung mahal.
> > > >
> > > > Pendekatan welfare state mungkin akan memberikan arah: karena
> > > kegagalan
> > > > pasar, pemerintah harus disediakan infrastruktur agar makin
> > banyak
> > > warung
> > > > yang buka. Pajak perlu dinaikkan, siapkan kebijakan public
> > service
> > > > obligation (PSO). Pemerintah memberi subsidi untuk kompensasi
> > biaya,
> > > tidak
> > > > secara universal sama (seperti USO), tetapi tergantung dari
> > kemampuan
> > > > masyarakatnya (willingness to pay).
> > > > Penganut paham sosialis yang sangat sentralistik mungkin lain
> > lagi
> > > > ceritanya. Harga di Warung di Tobelo itu adalah akibat dari
> > penguasaan
> > > oleh
> > > > private sector, oleh karena itu warung itu harus dikuasai 
oleh
> > negara,
> > > > minimal harganya harus diatur oleh negara.
> > > > Wassalam,
> > > >
> > > > Nuzul Achjar
> > >
> >
>


Kirim email ke