Mas Koko, Pak BTS dan referensiers pemantau pemilu semua...,
 
Walau PDIP dan Golkar sama-sama memperoleh suara sebesar 15an % (popular vote), 
bisa jadi jumlah kursi DPR-nya akan sangat berbeda.
 
Ini diakibatkan oleh adanya perbedaan lokasi (wah lokasi lagi nig yang jadi 
suatu hal yang penting....) dari pemilih-pemilih mereka. Mengacu ke pengalaman 
di pemilu sebelumnya (Pemilu th 2004), pemilih PDIP dan Golkar memiliki 
perbedaan lokasi yg cukup mencolok. Pemilih PDIP, seperti halnya pemilih PKB, 
terkonsentrasi pada beberapa wilayah/propinsi tertentu. Pemilih PDIP sebagian 
besar terkonsentrasi di Jawa dan Bali, sedangkan pemilih Golkar lebih tersebar 
di banyak propinsi termasuk di luar jawa. 
 
Dengan penentuan jumlah kursi yang dilakukan dengan membagi jumlah suara 
(popular vote) dibagi dengan Bilangan Pembagi (BP) yang berbeda untuk setiap 
propinsi, besar kemungkinan jumlah perolehan kursi Golkar akan lebih besar 
daripada jumlah perolehan kursi PDIP. Ini diakibatkan oleh jauh lebih besarnya 
nilai BP dari propinsi-propinsi di Jawa dan Bali daripada nilai BP dari 
propinsi-propinsi di luar Jawa dan Bali. Bahasa pasarnya, kursi DPR di Jawa dan 
Bali lebih mahal daripada kursi DPR dari luar Jawa dan Bali. 
 
Kalau sudah begitu, akan lebih baik bagi Partai Demokrat (PD) untuk kembali 
berkoalisi dengan Golkar, karena selain sudah ada pengalaman 5 tahun, yang 
tinggal diperbaiki dengan suatau "kesepakatan tertulis", seperti yg dikehendaki 
oleh SBY, kekuatan kursi DPR dari kedua partai tersebut bisa mencapai lebih 
dari 45% kursi DPR, dari sumbangan perolehan kursi PD yang akan mencapai 
sekitar 25% dan sumbangan perolehan kursi Golkar yang akan mencapai sekitar 
20%. 
 
Kalau memang terjadi seperti ini, maka berarti koalisi PD-Golkar hanya tinggal 
membutuhkan sedkit persen kursi DPR dari Partai Ketiga dalam koalisi. Besar 
kemungkinan, Partai Ketiga ini bukan PDIP. Besar kemungkinan partai ketiga ini 
adalah PKS atau koalisi kecil PKS, PAN dan PPP. Tapi bukan hal yang tidak 
mungkin malah Gerinda dan Hanura yang bakalan merapat ke PG-Golkar 
(Wiranto-Prabowo saja sudah mulai lirik-lirik mata.....). 
 
Kalau Gerinda-Hanura juga ikut merapat ke PD, buat saya akan bagus... Karena 
bisa jadi hanya akan terdapat dua pasang calon presiden-dan-wakil dalam PilPres 
mendatang... Jadi nggak banyak biaya terbuang untuk pemilu-pemilu yang cukup 
melelahkan ini, he... he... he...
 
Mungkin itu komentar saya yang pura-pura jadi analis politik (maklum, saya 
nggak pernah belajar ilmu politik, he... he.. he...). 
 
Salam untuk semua, 
mari kita saksikan apa yg akan dilakukan oleh para politisi kita pasca pemilu 
ini..
Apakah mereka tetap mengedepankan nafsu berkuasanya atau mereka akan 
mengedepankan kepentingan masyarakat dan bangsa yang sdang berada di ambang 
krisis sebagai dampak ikutan dari krisis ekonomi di negara-negara maju pada 
aktivitas industri dan aktivitas ekonomi lainnya di negara kita.....
 
Tabik dan salam hormat untuk semuanya..
 
Fadjar Undip
 
 


--- On Sun, 4/12/09, Harya Setyaka <[email protected]> wrote:


From: Harya Setyaka <[email protected]>
Subject: [referensi] outlook 2009-2014...
To: [email protected]
Date: Sunday, April 12, 2009, 4:27 PM













Mengamati hasil sementara perhitungan suara:

PDIP dan Golkar itu beda-2 tipis.. bisa dibilang juara 2 bersama.. di kisaran 
14% suara masing-2.
Langkah mereka akan sangat menentukan peta koalisi lainnya. 
Demokrat tentunya layak percaya diri.. dan punya 'upper hand' dalam membangun 
koalisi.

Lain hal-nya dengan Golkar-PDIP. . gampang-2 susah..
kalau mereka mau berkuasa, maka paling logis mereka berkoalisi.. artinya 
berkuasa tapi berbagi.
tapi sulitnya menentukan siapa Presiden & siapa WaPres..
Megawati sepertinya bukan orang yg mampu berpikir logis.. lebih didorong 
syahwat kekuasaan..
kalau JK rela jadi ban serep lagi; maka sangat rentan ditinggalkan oleh 
Golkar.. (yg merasa 'senior')

Golkar itu partai yg tidak ber-ideologi. .. mereka penyembah duit dan kuasa.
Bukan kepribadian Golkar sebagai oposisi.. posisi oposisi hanya mungkin 
dilakukan oleh partai-2 yg berideologi.

Golkar juga terdiri dari faksi-2.. itu jelas.. PilPres 2004 dan hasil kongres 
membuktikan itu.
Posisi JK sekarang sangat berat. Dia ditantang untuk berani mencalonkan diri 
sebagai Presiden; padahal sebenarnya JK juga tahu kelemahannya sendiri.. 
makanya dia takut konvensi.
Kalau gagal berkuasa; alias bertangan hampa, maka dia akan ditendang Golkar 
sebagaimana Golkar menedang Akbar Tanjung.

Satu-2nya cara PDIP dan Golkar untuk menumbangkan SBY adalah berkoalisi secara 
solid&konsisten!
namun 'solid dan konsisten' itu bukan domain syahwat kuasa.. itu domain 
fundamentalisme. 
kalau saja PDIP dan GOlkar mengumumkan bahwa mereka berkoalisi, namun SBY 
berhasil menggaet satu atau dua faksi Golkar dengan iming-2 jabatan menteri.. 
maka dapat dipastikan SBY kembali menang. 

Sedangkan kalau PDIP gagal meraih mitra koalisi yg cukup substansial; maka dia 
akan jadi oposisi kembali selama 5 tahun mendatang. Yaah si Taufik Kiemas puasa 
lagi deeh... hehe.. atau alih profesi jadi orang baik-2..

Partai Demokrat juga perlu hati-2 membangun koalisi dan juga perlu segera 
mengagendakan program kaderisasi yg solid.
SBY hanya bisa menjabat 1 kali lagi.. apabila dalam 5 tahun tidak ada kader yg 
bisa menjadi magnet suara.. maka PD akan bernasib seperti PNI (dan partai-2 cap 
banteng lainnya) pasca Soekarno.. redup.

Kalau Demokrat koalisi dengan PKS, yg kader-2nya lebih solid dan merata, maka 
pemilu 2014 bisa jadi PKS melesat..

PKS-PAN-PKB menurut saya hanya akan mulai melangkah pada saat air sudah mulai 
jernih.. 
Wait and see dulu terhadap PDIP dan Golkar.. Ekspektasi mereka juga tentunya 
sudah termoderasi hasil yg pas-pas-an.. 
cukup lah dapat 2-3 kursi menteri..

Gerindra dan Hanura... hehehe.... mereka sekarang perlu peras otak dan peras 
dompet (bahkan peras cukong?) utk bayar hutang dana pemilu... 
sekaligus mencari sumber dana utk memelihara kader-2 yg sudah di-rekruit. 
namun perlu di-applaus juga lho.. mereka adalah best new-comer... 
lolos sebagai peserta pemilu 2014; prestasi yg cukup baik. 
Semoga mampu menjaga konsistensi prestasi; menghindari nasib partai-2 seperti 
PBB, PDK, dll.. yg pada 2004 mampu memperoleh suara diatas 2,5% (lolos otomatis 
ke 2009), namun sekarang tersungkur dan tersingkir.

Salam,
-K-




















      

Kirim email ke