Rekan Harya Setyaka siempunya judul posting ysh,
 
Pak Risfan M menulis :
 
“.......Sekali lagi, yang milih rakyat biasa. Dan, siapa sih yang bisa menolak 
untuk milih seorang Wrekudoro (Bima) yang tinggi besar cakep itu. Bukankah raja 
di dongeng-dongeng ya seperti itu. Kita juga bisa menduga, yang bikin PD banyak 
dipilih juga dia.”.........


Saya pikir mas....... kalau Prabowo mau membiasakan diri  sejak sekarang 
memakai sepatu dengan hak tinggi 17cm..... dan tak lupa pelihara sedikit 
kumis......  beliau bisa  berpenampilan seperti Bratasena  (Wrekudoro or Bima 
kala  masih jomblo) juga ........ dan ibu2 bukan tak mungkin nanti akan banyak 
yg keder mau pilih SBY atau Prabowo.........
 
Salam,

--- On Sun, 4/12/09, Harya Setyaka <[email protected]> wrote:

From: Harya Setyaka <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] outlook 2009-2014...
To: [email protected]
Date: Sunday, April 12, 2009, 6:16 PM









Heheh.. betul,
ada beda antara harapan dan analisis faktual.. 

JK dalam posisi yg serba salah; kans terbaiknya untuk kembali ke panggung 
politik adalah sebagai wapresnya SBY.
SBY tentu punya catatan tersendiri terhadap 5 tahun berkoalisi dengan Golkar. 
Dia tentu memendam opini mengenai langkah kader-2 Golkar; mulai dari apel 
bersama Surya Paloh - Taufik Kiemas, move kader-2 untuk minta jatah tambahan 
kursi menteri.
pada 2004, Golkar seakan-2 merasa punya legitimasi utk mendikte koalisi.. 
meskipun capresnya saat itu, Wiranto, gagal total di PilPres 2004. Sekarang 
roda sudah berputar.
Dulu SBY menang PilPres karena modal citra.. namun sekarang mesin politik 
Partai Demokrat sudah lebih efektif., jadi modal nya utk menang PilPres 2004 
dan pemerintahan kuat di DPR sudah berlipat.

Pak Fajar, mengenai Sutiyoso dan Busway-nya perlu dicatat bahwa Sutiyoso hanya 
mengukir prestasi pada masa jabatan kedua; ketika karir gubernurnya sudah 
mentok..
Utk busway sy acungkan jempol atas keberaniannya, political will nya.. 
untk kenekatannya di Monorail, sy tidak bisa acungi jempol; masa belum 
financial closing udah mulai konstruksi.. ancur bgt.

salam,
-K-





2009/4/13 Risfan M <risf...@yahoo. com>

Mas Fajar,

Ada keinginan, ada analisis fakta. Kenyataannya pressiden dipilih langsung oleh 
rakyat.
Yang diperlukan SBY dari Pemilu legislatif kan tiket (20 persen) bagi PD, 
dengan itu dia bisa nyalon.

Sekali lagi, yang milih rakyat biasa. Dan, siapa sih yang bisa menolak untuk 
milih seorang Wrekudoro (Bima) yang tinggi besar cakep itu. Bukankah raja di 
dongeng-dongeng ya seperti itu. Kita juga bisa menduga, yang bikin PD banyak 
dipilih juga dia.

Jadi, koalisi-koalisi itu kok aneh. Wong yang milih rakyat. Dengan tiket (PD) 
di kantong + fakta elektabilitas tertinggi, bola ditangan SBY.
Koalisi minimal dengan 3 partai Islam yang sekarang mendampingi (PKS, PAN, PKB) 
sebetulnya sudah aman.

Tentu PG yang persoalan. Mau ikut SBY atau Mega. Kalau menurut karakternya PG 
bukanlah berbakat oposan. Bisa jadi akan ada tarik menarik di dalam PG, antara 
yang mau ikut Mega vs ikut SBY. Lha kalau sama-sama jadi Cawapres, kan logisnya 
mending ikut  incumbent toh. (Lanjutkan! He he he...).
Kata orang Semarang: nganggo teklek kecemplung kalen, timbang golek aluwung 
balen (daripada nyari pasangan lagi, mending kembali ke pasangan lama).

Sekali lagi, yang milih rakyat biasa. Intelektual boleh punya analisis, tapi 
jumlah mereka berapa, berapa pula yang golput.
Soal demokrasi, di negara termaju sekalipun pilihan bisa irrasional, seperti 
pengaruh iklan. Citra lebih bicara ketimbang hasil analisis (perbandingan 
program, dst). Bukankah begitu?

Saya di Smg ketemu teman2 UNDIP (Holy, Maya, Narti, Prihadi, Arti, Windu) saya 
bilang ke mereka dengan Mas Fajar malah tiap saat di referensi.

Salam,
Risfan Munir




-----Original Message-----
From: efha_mardiansjah@ yahoo.com



Sent: Sunday, April 12, 2009 9:55 PM
To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: Re: [referensi] outlook 2009-2014...



Ha... ha... ha... Pak BTS,
 
Saya bukan yang say no to Megawati... Cuma saya segen aja sama Beliau.. Nggak 
ada hasil yang bagus sih di masa pemerintahannya ha... ha... ha... Mungkin 
karena kurang bisa kasih koordinasi ke jajaran mentrinya he... he... he.. (piss 
ya buat yg dukung Megawati... It's only my stupid opinion lho....)
 
Kalo buat SBY, setidaknya dengan adanya pembagian tugas antara Beliau dan 
wakilnya, itu pertanda bahwa beliau bukan orang yg ingin menang sendiri, ma 
mendengar orang lain dan tahu kapan harus berbagi dengan orang lain...
 
Kalo saya sih sbenernya pengen orang yg labih tegas dari SBY... Mungkin 
tipe-tipe spt Sutiyoso yang kayak nggak punya udel waktu bikin busway (maksud 
saya tetep go terus walau banyak orang yg mengecam, karna dia yakin busway 
bikin manfaat bagi banyak orang, he... he... he...). Saya pikir, Indonesia lagi 
butuh orang spt dia... Itu satu hal yg nggak saya lihat di SBY yang (lagi-lagi 
menurut my stupid opinon) lebih mementingkan citra dirinya daripada 
kemaslahatan masyarakat dan bangsa Indonesia, ha... ha... ha...
 
Ah udah lah... Saya cuma mau bilang bahwa saya bukan yg anti-Megawati (jadi 
nggak brani untuk say no to Megawati), tapi cuma nggak prefer sama Beliau aja...
 
Kalo semua saya andaikan gabung dengan PD, itu karena kayaknya PD yg bakal jadi 
pemenang di pemilu barusan. Jadi sepantasnya PD yg pegang kendali di 
peerintahan nanti.... (walaupun Partai Demokrat bukan partai pilihan saya di 
pemilu kemaren he... he.. he...)
 
Salam (Piss...) untuk semua...
 
Fadjar


--- On Sun, 4/12/09, Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> wrote:

From: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] outlook 2009-2014...
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Sunday, April 12, 2009, 9:39 PM

He..he.. Bung Fajar,...kayaknya Anda termasuk "Say no to Megawati", ya? Koq 
semua partai diaglomerasikan ke PD, terus  PDIP ditinggal sendirian. Maunya 
Pilpres langsung SBY jadi, tidak melelahkan.
 
Belum tentu lho. kalau PDIP sendirian, maka kesannya dizalimi. Pemilih 
Indonesia itu seperti penonton sinetron, yang akan bersimpati pada si lemah.
 
He..he,. tapi nggak apa-apa. Semua khan spekulasi saja. Saya sih nggak lelah 
ngikuti pemilu, cuma saya benci hampir semua partai yang menempel gambar 
seenaknya, di mana-mana, semrawut, dan yang paling  nggak suka sama partai itu 
tuh..yang "menyakiti" pohon-pohon. Hampir semua pohon di pinggir jalan antara 
Jakarta - Surabaya (ketika mudik kemarin) habis dipaku untuk pasang gambar 
partainya. Katanya peduli... koq gitu sih.
 
Thanks. CU. BTS.
 



















      

Kirim email ke