Heheh.. betul, ada beda antara harapan dan analisis faktual.. JK dalam posisi yg serba salah; kans terbaiknya untuk kembali ke panggung politik adalah sebagai wapresnya SBY. SBY tentu punya catatan tersendiri terhadap 5 tahun berkoalisi dengan Golkar. Dia tentu memendam opini mengenai langkah kader-2 Golkar; mulai dari apel bersama Surya Paloh - Taufik Kiemas, move kader-2 untuk minta jatah tambahan kursi menteri. pada 2004, Golkar seakan-2 merasa punya legitimasi utk mendikte koalisi.. meskipun capresnya saat itu, Wiranto, gagal total di PilPres 2004. Sekarang roda sudah berputar. Dulu SBY menang PilPres karena modal citra.. namun sekarang mesin politik Partai Demokrat sudah lebih efektif., jadi modal nya utk menang PilPres 2004 dan pemerintahan kuat di DPR sudah berlipat.
Pak Fajar, mengenai Sutiyoso dan Busway-nya perlu dicatat bahwa Sutiyoso hanya mengukir prestasi pada masa jabatan kedua; ketika karir gubernurnya sudah mentok.. Utk busway sy acungkan jempol atas keberaniannya, political will nya.. untk kenekatannya di Monorail, sy tidak bisa acungi jempol; masa belum financial closing udah mulai konstruksi.. ancur bgt. salam, -K- 2009/4/13 Risfan M <[email protected]> > Mas Fajar, > > Ada keinginan, ada analisis fakta. Kenyataannya pressiden dipilih langsung > oleh rakyat. > Yang diperlukan SBY dari Pemilu legislatif kan tiket (20 persen) bagi PD, > dengan itu dia bisa nyalon. > > Sekali lagi, yang milih rakyat biasa. Dan, siapa sih yang bisa menolak > untuk milih seorang Wrekudoro (Bima) yang tinggi besar cakep itu. Bukankah > raja di dongeng-dongeng ya seperti itu. Kita juga bisa menduga, yang bikin > PD banyak dipilih juga dia. > > Jadi, koalisi-koalisi itu kok aneh. Wong yang milih rakyat. Dengan tiket > (PD) di kantong + fakta elektabilitas tertinggi, bola ditangan SBY. > Koalisi minimal dengan 3 partai Islam yang sekarang mendampingi (PKS, PAN, > PKB) sebetulnya sudah aman. > > Tentu PG yang persoalan. Mau ikut SBY atau Mega. Kalau menurut karakternya > PG bukanlah berbakat oposan. Bisa jadi akan ada tarik menarik di dalam PG, > antara yang mau ikut Mega vs ikut SBY. Lha kalau sama-sama jadi Cawapres, > kan logisnya mending ikut incumbent toh. (Lanjutkan! He he he...). > Kata orang Semarang: nganggo teklek kecemplung kalen, timbang golek aluwung > balen (daripada nyari pasangan lagi, mending kembali ke pasangan lama). > > Sekali lagi, yang milih rakyat biasa. Intelektual boleh punya analisis, > tapi jumlah mereka berapa, berapa pula yang golput. > Soal demokrasi, di negara termaju sekalipun pilihan bisa irrasional, > seperti pengaruh iklan. Citra lebih bicara ketimbang hasil analisis > (perbandingan program, dst). Bukankah begitu? > > Saya di Smg ketemu teman2 UNDIP (Holy, Maya, Narti, Prihadi, Arti, Windu) > saya bilang ke mereka dengan Mas Fajar malah tiap saat di referensi. > > Salam, > Risfan Munir > > > > -----Original Message----- > From: [email protected] > Sent: Sunday, April 12, 2009 9:55 PM > To: [email protected] > Subject: Re: [referensi] outlook 2009-2014... > > > > Ha... ha... ha... Pak BTS, > > Saya bukan yang say no to Megawati... Cuma saya segen aja sama Beliau.. > Nggak ada hasil yang bagus sih di masa pemerintahannya ha... ha... ha... > Mungkin karena kurang bisa kasih koordinasi ke jajaran mentrinya he... he... > he.. (piss ya buat yg dukung Megawati... It's only my stupid opinion > lho....) > > Kalo buat SBY, setidaknya dengan adanya pembagian tugas antara Beliau dan > wakilnya, itu pertanda bahwa beliau bukan orang yg ingin menang sendiri, ma > mendengar orang lain dan tahu kapan harus berbagi dengan orang lain... > > Kalo saya sih sbenernya pengen orang yg labih tegas dari SBY... Mungkin > tipe-tipe spt Sutiyoso yang kayak nggak punya udel waktu bikin busway > (maksud saya tetep go terus walau banyak orang yg mengecam, karna dia yakin > busway bikin manfaat bagi banyak orang, he... he... he...). Saya pikir, > Indonesia lagi butuh orang spt dia... Itu satu hal yg nggak saya lihat di > SBY yang (lagi-lagi menurut my stupid opinon) lebih mementingkan citra > dirinya daripada kemaslahatan masyarakat dan bangsa Indonesia, ha... ha... > ha... > > Ah udah lah... Saya cuma mau bilang bahwa saya bukan yg anti-Megawati (jadi > nggak brani untuk say no to Megawati), tapi cuma nggak prefer sama Beliau > aja... > > Kalo semua saya andaikan gabung dengan PD, itu karena kayaknya PD yg bakal > jadi pemenang di pemilu barusan. Jadi sepantasnya PD yg pegang kendali di > peerintahan nanti.... (walaupun Partai Demokrat bukan partai pilihan saya di > pemilu kemaren he... he.. he...) > > Salam (Piss...) untuk semua... > > Fadjar > > > --- On Sun, 4/12/09, Bambang Tata Samiadji <[email protected]> wrote: > > From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]> > Subject: Re: [referensi] outlook 2009-2014... > To: [email protected] > Date: Sunday, April 12, 2009, 9:39 PM > > He..he.. Bung Fajar,...kayaknya Anda termasuk "Say no to Megawati", ya? Koq > semua partai diaglomerasikan ke PD, terus PDIP ditinggal sendirian. Maunya > Pilpres langsung SBY jadi, tidak melelahkan. > > Belum tentu lho. kalau PDIP sendirian, maka kesannya dizalimi. Pemilih > Indonesia itu seperti penonton sinetron, yang akan bersimpati pada si lemah. > > He..he,. tapi nggak apa-apa. Semua khan spekulasi saja. Saya sih nggak > lelah ngikuti pemilu, cuma saya benci hampir semua partai yang menempel > gambar seenaknya, di mana-mana, semrawut, dan yang paling nggak suka sama > partai itu tuh..yang "menyakiti" pohon-pohon. Hampir semua pohon di pinggir > jalan antara Jakarta - Surabaya (ketika mudik kemarin) habis dipaku untuk > pasang gambar partainya. Katanya peduli... koq gitu sih. > > Thanks. CU. BTS. > > > >

