Mas Fajar,

Ada keinginan, ada analisis fakta. Kenyataannya pressiden dipilih langsung oleh 
rakyat.
Yang diperlukan SBY dari Pemilu legislatif kan tiket (20 persen) bagi PD, 
dengan itu dia bisa nyalon.

Sekali lagi, yang milih rakyat biasa. Dan, siapa sih yang bisa menolak untuk 
milih seorang Wrekudoro (Bima) yang tinggi besar cakep itu. Bukankah raja di 
dongeng-dongeng ya seperti itu. Kita juga bisa menduga, yang bikin PD banyak 
dipilih juga dia.

Jadi, koalisi-koalisi itu kok aneh. Wong yang milih rakyat. Dengan tiket (PD) 
di kantong + fakta elektabilitas tertinggi, bola ditangan SBY.
Koalisi minimal dengan 3 partai Islam yang sekarang mendampingi (PKS, PAN, PKB) 
sebetulnya sudah aman.

Tentu PG yang persoalan. Mau ikut SBY atau Mega. Kalau menurut karakternya PG 
bukanlah berbakat oposan. Bisa jadi akan ada tarik menarik di dalam PG, antara 
yang mau ikut Mega vs ikut SBY. Lha kalau sama-sama jadi Cawapres, kan logisnya 
mending ikut  incumbent toh. (Lanjutkan! He he he...). 
Kata orang Semarang: nganggo teklek kecemplung kalen, timbang golek aluwung 
balen (daripada nyari pasangan lagi, mending kembali ke pasangan lama).

Sekali lagi, yang milih rakyat biasa. Intelektual boleh punya analisis, tapi 
jumlah mereka berapa, berapa pula yang golput. 
Soal demokrasi, di negara termaju sekalipun pilihan bisa irrasional, seperti 
pengaruh iklan. Citra lebih bicara ketimbang hasil analisis (perbandingan 
program, dst). Bukankah begitu?

Saya di Smg ketemu teman2 UNDIP (Holy, Maya, Narti, Prihadi, Arti, Windu) saya 
bilang ke mereka dengan Mas Fajar malah tiap saat di referensi.

Salam,
Risfan Munir



-----Original Message-----
From: [email protected]
Sent: Sunday, April 12, 2009 9:55 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] outlook 2009-2014...



Ha... ha... ha... Pak BTS,
 
Saya bukan yang say no to Megawati... Cuma saya segen aja sama Beliau.. Nggak 
ada hasil yang bagus sih di masa pemerintahannya ha... ha... ha... Mungkin 
karena kurang bisa kasih koordinasi ke jajaran mentrinya he... he... he.. (piss 
ya buat yg dukung Megawati... It's only my stupid opinion lho....)
 
Kalo buat SBY, setidaknya dengan adanya pembagian tugas antara Beliau dan 
wakilnya, itu pertanda bahwa beliau bukan orang yg ingin menang sendiri, ma 
mendengar orang lain dan tahu kapan harus berbagi dengan orang lain...
 
Kalo saya sih sbenernya pengen orang yg labih tegas dari SBY... Mungkin 
tipe-tipe spt Sutiyoso yang kayak nggak punya udel waktu bikin busway (maksud 
saya tetep go terus walau banyak orang yg mengecam, karna dia yakin busway 
bikin manfaat bagi banyak orang, he... he... he...). Saya pikir, Indonesia lagi 
butuh orang spt dia... Itu satu hal yg nggak saya lihat di SBY yang (lagi-lagi 
menurut my stupid opinon) lebih mementingkan citra dirinya daripada 
kemaslahatan masyarakat dan bangsa Indonesia, ha... ha... ha...
 
Ah udah lah... Saya cuma mau bilang bahwa saya bukan yg anti-Megawati (jadi 
nggak brani untuk say no to Megawati), tapi cuma nggak prefer sama Beliau aja...
 
Kalo semua saya andaikan gabung dengan PD, itu karena kayaknya PD yg bakal jadi 
pemenang di pemilu barusan. Jadi sepantasnya PD yg pegang kendali di 
peerintahan nanti.... (walaupun Partai Demokrat bukan partai pilihan saya di 
pemilu kemaren he... he.. he...)
 
Salam (Piss...) untuk semua...
 
Fadjar


--- On Sun, 4/12/09, Bambang Tata Samiadji <[email protected]> wrote:

From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] outlook 2009-2014...
To: [email protected]
Date: Sunday, April 12, 2009, 9:39 PM

He..he.. Bung Fajar,...kayaknya Anda termasuk "Say no to Megawati", ya? Koq 
semua partai diaglomerasikan ke PD, terus  PDIP ditinggal sendirian. Maunya 
Pilpres langsung SBY jadi, tidak melelahkan.
 
Belum tentu lho. kalau PDIP sendirian, maka kesannya dizalimi. Pemilih 
Indonesia itu seperti penonton sinetron, yang akan bersimpati pada si lemah.
 
He..he,. tapi nggak apa-apa. Semua khan spekulasi saja. Saya sih nggak lelah 
ngikuti pemilu, cuma saya benci hampir semua partai yang menempel gambar 
seenaknya, di mana-mana, semrawut, dan yang paling  nggak suka sama partai itu 
tuh..yang "menyakiti" pohon-pohon. Hampir semua pohon di pinggir jalan antara 
Jakarta - Surabaya (ketika mudik kemarin) habis dipaku untuk pasang gambar 
partainya. Katanya peduli... koq gitu sih.
 
Thanks. CU. BTS.
 


--- On Sun, 4/12/09, efha_mardiansjah@ yahoo.com <efha_mardiansjah@ yahoo.com> 
wrote:

From: efha_mardiansjah@ yahoo.com <efha_mardiansjah@ yahoo.com>
Subject: Re: [referensi] outlook 2009-2014...
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Sunday, April 12, 2009, 2:17 PM

Mas Koko, Pak BTS dan referensiers pemantau pemilu semua...,
 
Walau PDIP dan Golkar sama-sama memperoleh suara sebesar 15an % (popular vote), 
bisa jadi jumlah kursi DPR-nya akan sangat berbeda.
 
Ini diakibatkan oleh adanya perbedaan lokasi (wah lokasi lagi nig yang jadi 
suatu hal yang penting....) dari pemilih-pemilih mereka. Mengacu ke pengalaman 
di pemilu sebelumnya (Pemilu th 2004), pemilih PDIP dan Golkar memiliki 
perbedaan lokasi yg cukup mencolok. Pemilih PDIP, seperti halnya pemilih PKB, 
terkonsentrasi pada beberapa wilayah/propinsi tertentu. Pemilih PDIP sebagian 
besar terkonsentrasi di Jawa dan Bali, sedangkan pemilih Golkar lebih tersebar 
di banyak propinsi termasuk di luar jawa.
 
Dengan penentuan jumlah kursi yang dilakukan dengan membagi jumlah suara 
(popular vote) dibagi dengan Bilangan Pembagi (BP) yang berbeda untuk setiap 
propinsi, besar kemungkinan jumlah perolehan kursi Golkar akan lebih besar 
daripada jumlah perolehan kursi PDIP. Ini diakibatkan oleh jauh lebih besarnya 
nilai BP dari propinsi-propinsi di Jawa dan Bali daripada nilai BP dari 
propinsi-propinsi di luar Jawa dan Bali. Bahasa pasarnya, kursi DPR di Jawa dan 
Bali lebih mahal daripada kursi DPR dari luar Jawa dan Bali.
 
Kalau sudah begitu, akan lebih baik bagi Partai Demokrat (PD) untuk kembali 
berkoalisi dengan Golkar, karena selain sudah ada pengalaman 5 tahun, yang 
tinggal diperbaiki dengan suatau "kesepakatan tertulis", seperti yg dikehendaki 
oleh SBY, kekuatan kursi DPR dari kedua partai tersebut bisa mencapai lebih 
dari 45% kursi DPR, dari sumbangan perolehan kursi PD yang akan mencapai 
sekitar 25% dan sumbangan perolehan kursi Golkar yang akan mencapai sekitar 20%.
 
Kalau memang terjadi seperti ini, maka berarti koalisi PD-Golkar hanya tinggal 
membutuhkan sedkit persen kursi DPR dari Partai Ketiga dalam koalisi. Besar 
kemungkinan, Partai Ketiga ini bukan PDIP. Besar kemungkinan partai ketiga ini 
adalah PKS atau koalisi kecil PKS, PAN dan PPP. Tapi bukan hal yang tidak 
mungkin malah Gerinda dan Hanura yang bakalan merapat ke PG-Golkar 
(Wiranto-Prabowo saja sudah mulai lirik-lirik mata.....).
 
Kalau Gerinda-Hanura juga ikut merapat ke PD, buat saya akan bagus... Karena 
bisa jadi hanya akan terdapat dua pasang calon presiden-dan- wakil dalam 
PilPres mendatang... Jadi nggak banyak biaya terbuang untuk pemilu-pemilu yang 
cukup melelahkan ini, he... he... he...
 
Mungkin itu komentar saya yang pura-pura jadi analis politik (maklum, saya 
nggak pernah belajar ilmu politik, he... he.. he...).
 
Salam untuk semua,
mari kita saksikan apa yg akan dilakukan oleh para politisi kita pasca pemilu 
ini..
Apakah mereka tetap mengedepankan nafsu berkuasanya atau mereka akan 
mengedepankan kepentingan masyarakat dan bangsa yang sdang berada di ambang 
krisis sebagai dampak ikutan dari krisis ekonomi di negara-negara maju pada 
aktivitas industri dan aktivitas ekonomi lainnya di negara kita.....
 
Tabik dan salam hormat untuk semuanya..
 
Fadjar Undip
 
 


--- On Sun, 4/12/09, Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com> wrote:

From: Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com>
Subject: [referensi] outlook 2009-2014...
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Sunday, April 12, 2009, 4:27 PM





Mengamati hasil sementara perhitungan suara:

PDIP dan Golkar itu beda-2 tipis.. bisa dibilang juara 2 bersama.. di kisaran 
14% suara masing-2.
Langkah mereka akan sangat menentukan peta koalisi lainnya.
Demokrat tentunya layak percaya diri.. dan punya 'upper hand' dalam membangun 
koalisi.

Lain hal-nya dengan Golkar-PDIP. . gampang-2 susah..
kalau mereka mau berkuasa, maka paling logis mereka berkoalisi.. artinya 
berkuasa tapi berbagi.
tapi sulitnya menentukan siapa Presiden & siapa WaPres..
Megawati sepertinya bukan orang yg mampu berpikir logis.. lebih didorong 
syahwat kekuasaan..
kalau JK rela jadi ban serep lagi; maka sangat rentan ditinggalkan oleh 
Golkar... (yg merasa 'senior')

Golkar itu partai yg tidak ber-ideologi. .. mereka penyembah duit dan kuasa

Kirim email ke