Ha... ha... ha... Pak BTS, Saya bukan yang say no to Megawati... Cuma saya segen aja sama Beliau.. Nggak ada hasil yang bagus sih di masa pemerintahannya ha... ha... ha... Mungkin karena kurang bisa kasih koordinasi ke jajaran mentrinya he... he... he... (piss ya buat yg dukung Megawati... It's only my stupid opinion lho....) Kalo buat SBY, setidaknya dengan adanya pembagian tugas antara Beliau dan wakilnya, itu pertanda bahwa beliau bukan orang yg ingin menang sendiri, ma mendengar orang lain dan tahu kapan harus berbagi dengan orang lain... Kalo saya sih sbenernya pengen orang yg labih tegas dari SBY... Mungkin tipe-tipe spt Sutiyoso yang kayak nggak punya udel waktu bikin busway (maksud saya tetep go terus walau banyak orang yg mengecam, karna dia yakin busway bikin manfaat bagi banyak orang, he... he... he...). Saya pikir, Indonesia lagi butuh orang spt dia... Itu satu hal yg nggak saya lihat di SBY yang (lagi-lagi menurut my stupid opinon) lebih mementingkan citra dirinya daripada kemaslahatan masyarakat dan bangsa Indonesia, ha... ha... ha... Ah udah lah... Saya cuma mau bilang bahwa saya bukan yg anti-Megawati (jadi nggak brani untuk say no to Megawati), tapi cuma nggak prefer sama Beliau aja... Kalo semua saya andaikan gabung dengan PD, itu karena kayaknya PD yg bakal jadi pemenang di pemilu barusan. Jadi sepantasnya PD yg pegang kendali di peerintahan nanti.... (walaupun Partai Demokrat bukan partai pilihan saya di pemilu kemaren he... he.. he...) Salam (Piss...) untuk semua... Fadjar
--- On Sun, 4/12/09, Bambang Tata Samiadji <[email protected]> wrote: From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]> Subject: Re: [referensi] outlook 2009-2014... To: [email protected] Date: Sunday, April 12, 2009, 9:39 PM He..he.. Bung Fajar,...kayaknya Anda termasuk "Say no to Megawati", ya? Koq semua partai diaglomerasikan ke PD, terus PDIP ditinggal sendirian. Maunya Pilpres langsung SBY jadi, tidak melelahkan. Belum tentu lho. kalau PDIP sendirian, maka kesannya dizalimi. Pemilih Indonesia itu seperti penonton sinetron, yang akan bersimpati pada si lemah. He..he,. tapi nggak apa-apa. Semua khan spekulasi saja. Saya sih nggak lelah ngikuti pemilu, cuma saya benci hampir semua partai yang menempel gambar seenaknya, di mana-mana, semrawut, dan yang paling nggak suka sama partai itu tuh..yang "menyakiti" pohon-pohon. Hampir semua pohon di pinggir jalan antara Jakarta - Surabaya (ketika mudik kemarin) habis dipaku untuk pasang gambar partainya. Katanya peduli... koq gitu sih. Thanks. CU. BTS. --- On Sun, 4/12/09, efha_mardiansjah@ yahoo.com <efha_mardiansjah@ yahoo.com> wrote: From: efha_mardiansjah@ yahoo.com <efha_mardiansjah@ yahoo.com> Subject: Re: [referensi] outlook 2009-2014... To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Sunday, April 12, 2009, 2:17 PM Mas Koko, Pak BTS dan referensiers pemantau pemilu semua..., Walau PDIP dan Golkar sama-sama memperoleh suara sebesar 15an % (popular vote), bisa jadi jumlah kursi DPR-nya akan sangat berbeda. Ini diakibatkan oleh adanya perbedaan lokasi (wah lokasi lagi nig yang jadi suatu hal yang penting....) dari pemilih-pemilih mereka. Mengacu ke pengalaman di pemilu sebelumnya (Pemilu th 2004), pemilih PDIP dan Golkar memiliki perbedaan lokasi yg cukup mencolok. Pemilih PDIP, seperti halnya pemilih PKB, terkonsentrasi pada beberapa wilayah/propinsi tertentu. Pemilih PDIP sebagian besar terkonsentrasi di Jawa dan Bali, sedangkan pemilih Golkar lebih tersebar di banyak propinsi termasuk di luar jawa. Dengan penentuan jumlah kursi yang dilakukan dengan membagi jumlah suara (popular vote) dibagi dengan Bilangan Pembagi (BP) yang berbeda untuk setiap propinsi, besar kemungkinan jumlah perolehan kursi Golkar akan lebih besar daripada jumlah perolehan kursi PDIP. Ini diakibatkan oleh jauh lebih besarnya nilai BP dari propinsi-propinsi di Jawa dan Bali daripada nilai BP dari propinsi-propinsi di luar Jawa dan Bali. Bahasa pasarnya, kursi DPR di Jawa dan Bali lebih mahal daripada kursi DPR dari luar Jawa dan Bali. Kalau sudah begitu, akan lebih baik bagi Partai Demokrat (PD) untuk kembali berkoalisi dengan Golkar, karena selain sudah ada pengalaman 5 tahun, yang tinggal diperbaiki dengan suatau "kesepakatan tertulis", seperti yg dikehendaki oleh SBY, kekuatan kursi DPR dari kedua partai tersebut bisa mencapai lebih dari 45% kursi DPR, dari sumbangan perolehan kursi PD yang akan mencapai sekitar 25% dan sumbangan perolehan kursi Golkar yang akan mencapai sekitar 20%. Kalau memang terjadi seperti ini, maka berarti koalisi PD-Golkar hanya tinggal membutuhkan sedkit persen kursi DPR dari Partai Ketiga dalam koalisi. Besar kemungkinan, Partai Ketiga ini bukan PDIP. Besar kemungkinan partai ketiga ini adalah PKS atau koalisi kecil PKS, PAN dan PPP. Tapi bukan hal yang tidak mungkin malah Gerinda dan Hanura yang bakalan merapat ke PG-Golkar (Wiranto-Prabowo saja sudah mulai lirik-lirik mata.....). Kalau Gerinda-Hanura juga ikut merapat ke PD, buat saya akan bagus... Karena bisa jadi hanya akan terdapat dua pasang calon presiden-dan- wakil dalam PilPres mendatang... Jadi nggak banyak biaya terbuang untuk pemilu-pemilu yang cukup melelahkan ini, he... he... he... Mungkin itu komentar saya yang pura-pura jadi analis politik (maklum, saya nggak pernah belajar ilmu politik, he... he.. he...). Salam untuk semua, mari kita saksikan apa yg akan dilakukan oleh para politisi kita pasca pemilu ini.. Apakah mereka tetap mengedepankan nafsu berkuasanya atau mereka akan mengedepankan kepentingan masyarakat dan bangsa yang sdang berada di ambang krisis sebagai dampak ikutan dari krisis ekonomi di negara-negara maju pada aktivitas industri dan aktivitas ekonomi lainnya di negara kita..... Tabik dan salam hormat untuk semuanya.. Fadjar Undip --- On Sun, 4/12/09, Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com> wrote: From: Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com> Subject: [referensi] outlook 2009-2014... To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Sunday, April 12, 2009, 4:27 PM Mengamati hasil sementara perhitungan suara: PDIP dan Golkar itu beda-2 tipis.. bisa dibilang juara 2 bersama.. di kisaran 14% suara masing-2. Langkah mereka akan sangat menentukan peta koalisi lainnya. Demokrat tentunya layak percaya diri.. dan punya 'upper hand' dalam membangun koalisi. Lain hal-nya dengan Golkar-PDIP. . gampang-2 susah.. kalau mereka mau berkuasa, maka paling logis mereka berkoalisi.. artinya berkuasa tapi berbagi. tapi sulitnya menentukan siapa Presiden & siapa WaPres.. Megawati sepertinya bukan orang yg mampu berpikir logis.. lebih didorong syahwat kekuasaan.. kalau JK rela jadi ban serep lagi; maka sangat rentan ditinggalkan oleh Golkar... (yg merasa 'senior') Golkar itu partai yg tidak ber-ideologi. .. mereka penyembah duit dan kuasa. Bukan kepribadian Golkar sebagai oposisi... posisi oposisi hanya mungkin dilakukan oleh partai-2 yg berideologi. Golkar juga terdiri dari faksi-2.. itu jelas.. PilPres 2004 dan hasil kongres membuktikan itu. Posisi JK sekarang sangat berat.. Dia ditantang untuk berani mencalonkan diri sebagai Presiden; padahal sebenarnya JK juga tahu kelemahannya sendiri.. makanya dia takut konvensi. Kalau gagal berkuasa; alias bertangan hampa, maka dia akan ditendang Golkar sebagaimana Golkar menedang Akbar Tanjung. Satu-2nya cara PDIP dan Golkar untuk menumbangkan SBY adalah berkoalisi secara solid&konsisten! namun 'solid dan konsisten' itu bukan domain syahwat kuasa.. itu domain fundamentalisme. kalau saja PDIP dan GOlkar mengumumkan bahwa mereka berkoalisi, namun SBY berhasil menggaet satu atau dua faksi Golkar dengan iming-2 jabatan menteri.. maka dapat dipastikan SBY kembali menang. Sedangkan kalau PDIP gagal meraih mitra koalisi yg cukup substansial; maka dia akan jadi oposisi kembali selama 5 tahun mendatang. Yaah si Taufik Kiemas puasa lagi deeh... hehe.. atau alih profesi jadi orang baik-2.. Partai Demokrat juga perlu hati-2 membangun koalisi dan juga perlu segera mengagendakan program kaderisasi yg solid. SBY hanya bisa menjabat 1 kali lagi.. apabila dalam 5 tahun tidak ada kader yg bisa menjadi magnet suara.. maka PD akan bernasib seperti PNI (dan partai-2 cap banteng lainnya) pasca Soekarno.. redup. Kalau Demokrat koalisi dengan PKS, yg kader-2nya lebih solid dan merata, maka pemilu 2014 bisa jadi PKS melesat... PKS-PAN-PKB menurut saya hanya akan mulai melangkah pada saat air sudah mulai jernih.. Wait and see dulu terhadap PDIP dan Golkar.. Ekspektasi mereka juga tentunya sudah termoderasi hasil yg pas-pas-an.. cukup lah dapat 2-3 kursi menteri.. Gerindra dan Hanura... hehehe.... mereka sekarang perlu peras otak dan peras dompet (bahkan peras cukong?) utk bayar hutang dana pemilu... sekaligus mencari sumber dana utk memelihara kader-2 yg sudah di-rekruit. namun perlu di-applaus juga lho.. mereka adalah best new-comer... lolos sebagai peserta pemilu 2014; prestasi yg cukup baik. Semoga mampu menjaga konsistensi prestasi; menghindari nasib partai-2 seperti PBB, PDK, dll.. yg pada 2004 mampu memperoleh suara diatas 2,5% (lolos otomatis ke 2009), namun sekarang tersungkur dan tersingkir. Salam, -K-

