Pak Dwiagus, perjumpaan mistik timur dengan ilmu fisika generasi lanjut terjadi 
pada diri Frijoft Capra. Ia dikatakan telah mencapai pencerahan ketika mampu 
merasakan "tarian Syiwa" yaitu merasakan hujan partikel pada saat duduk di tepi 
pantai. Ia mampu merasakan bahwa sinar matahari bukan sekedar seperti biasanya 
orang awam melihatnya, melainkan peristiwa maha dahsyat dimata seorang ahli 
fisika lanjut. Barangkali yang terjadi adalah mistik-klenik sebenarnya dapat 
dipahami seperti cara Capra memahaminya. Ia telah menemukan jalan Tao dalam 
realitas fisik duniawi.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Wed, 8/5/09, Benedictus Dwiagus Stepantoro <[email protected]> wrote:

From: Benedictus Dwiagus Stepantoro <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] Re: Pikir dan rasa --- critical planning ?
To: [email protected]
Date: Wednesday, August 5, 2009, 2:14 PM






 




    
                  







Pak BTS 

Kadang malah jadi tantangannya, gemanah sebuah pikir dan rasa itu dicarikan
ukurannya,… paling gak ada proxy-nya,..  

Bahkan ada orang yang nyari model empiris untuk kualitas hidup dan
sebuah kebahagian,…  

   

Mungkin saja nanti ada model empiris untuk sistem pengamatan
spiritual,….  

Tapi ya mungkin konsumsinya terbatas,…. Dan memang bukan untuk
solusi secara langsung,….. tapi mungkin bisa menawarkan inspirasi yang membangun
jalan setapak menuju solusi,… 

Seperti pengalaman spiritual Mbah Surip (alm.) yang menawarkan
inspirasi untuk orang lain mencari solusinya masing-masing dalam mencari arti
sebuah ketulusan,kepolosan , dan keriangan,…  

Ha,.. ha,.. ha,…  

   

   



Regards, 

 B.Dwiagus S. 

http://bdwiagus. blogspot. com 

http://bdwiagus. multiply. com  

  



   





From:
refere...@yahoogrou ps.com [mailto:referensi@ yahoogroups. com] On Behalf Of 
Btatas

Sent: 04 August 2009 22:38

To: refere...@yahoogrou ps.com

Subject: Re: [referensi] Re: Pikir dan rasa --- critical planning ? 





   

   









Ysh
Pak Djarot dan rekan sekalian. 





  





Saya
sebenarnya tidak tertarik mengikuti soal-soal yang keramat. Tapi
tulisan Pak Djarot menggelitik saya untuk ikut bertanggap. Karena yang
saya tanggapi bukan soal keramat, maka subjek keramat  saya ganti
(sorry buat yang menginisiasi subjek  keramat). 





  





Dikatakan
oleh Pak Djarot bahwa bahwa menata ruang dengan logika akal (deposit
pengetahuan) dan informasi empiris saja memang belum memadai, maka perlu
dilengkapi dengan peran aktif kesadaran di dalam diri penata ruang sehingga
fenomena yang ditangani akan menjadi lebih lengkap dan utuh.  





  





Yang saya garis bawahi bahwa logika akal dan empiris tidak
memadai sehingga diperlukan peran aktif kesadaran. Dikatakan sebelumnya bahwa
yang dimaksud dengan aktif kesadaran itu suatu fenomenologi, yaitu dimensi
supranatural dengan logika tersendiri. Dikatakan juga bahwa supranatural itu
semacam meditasi atau refleksi.  





  





Bagi
saya yang berfilsafat sederhana, logika akal dan empiris sudah memadai untuk
menemukan solusi. Kalaupun sering logika akal dan empiris itu kurang lengkap
atau ternyata hasilnya kurang memadai, bukan karena pendekatan yang dilakukan
salah, tapi mungkin informasinya tidak lengkap dan sahih, atau deposit
pengetahuannya masih kurang tajam, atau mungkin dialektika yang digunakan
kurang tepat. Toh seandainya hasil  logika pikir dan empiris itu tidak sempurna,
kurang memadai, atau bahkan belakangan baru diketahui sebagai salah, itu tidak
fatal atau kesalahan karena kebenaran itu sering muncul dari 
kesalahan-kesalahan .
Jadi semua hasil logika pikir dan empiris tidak langsung jadi, harus melalui
proses uji coba, terus menerus diperbaiki menuju presisi
kesempurnaan yang tak pernah sempurna. Contohnya dulu komputer menggunakan
punch-card dengan mesin segede gajah, melalui proses perbaikan, sekarang hanya
segede notebook. Toh proses ini tidak perlu ada unsur supranatural ataupun
meditasi, tapi hasil logika akal dan empiris yang menerus. 





  





Dimensi
lain yaitu supranatural/ fenomenologi walaupun katanya punya logika sendiri,
menurut saya itu bukan logika atau alat pikir, karena sulit mencari ukurannya.
Menurut saya itu rasa, bukan pikir. Rasa itu relatif dan setiap orang bisa
berbeda. Kalau dimensi supranatural didiskusikan dalam tataran ilmiah, saya
khawatir akan lari kemana-mana tdak karuan, karena setiap orang punya kadar
meditasi berbeda-beda, tidak ada kesepakatan, akhirnya tidak ada solusi 
praktis. Bagi insan yang punya sensitifitas tinggi karena kekuatan supranatural
yang dimiliki akan bisa menikmati perihal keindahan unik dari objek, bisa
merasakan keramatisasi mistis yang menggetarkan. ... ya silakan saja dinikmati,
tapi bisakah ditularkan dalam bentuk solusi? Atau mungkin dimensi ini hanya
bisa dalam skala kecil dan produk seni, seperti yang dicontohkan. 





  





Demikian
Pak Djarot logika sederhana saya.. ha...ha...ha. ..(ketawanya Mbah Surip,
Inalillahi wainalilahi rojiun). 





  





Thanks.
CU. BTS. 





  





  





  







-----
Original Message -----  





From: Djarot Purbadi  





To: refere...@yahoogrou ps.com
 





Sent: Tuesday, August 04,
2009 12:21 AM 





Subject: RE: [referensi] Re:
tempat keramat--- critical planning ? 





   



   















 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke