Pak Onnos dan rekans ysh,
 
Mungkin bukan masyarakatnya yang suka "amok", kecuali kalau tertindas dan 
"ruang tempat hidupnya dirampas/diusir", demi tata ruang yang baik, "Baik" 
untuk siapa mereka tidak tahu. Orang yang naik mobil ngomel karena banyaknya 
motor. Tapi motor itu space/orang nya kan kecil, dibanding mobil yang diisi 
satu orang.
Warga negara yang cari makan di pinggir jalan, diusir, dikejar, dikriminalkan. 
Sementara mereka yang punya bisa punya (idle) properti berhektar-hektar. Kalau 
soalnya membuat jalan macet, maka banyak shopping center yang bikin macet, 
parkirnya luber ke jalan.
Kembali ke soal "hukum" vs "keadilan".
 
Dalam situasi itu lah demokrasi berkembang. One person, one vote. Tapi sebagian 
berperut kenyang, sebagian berperut kosong. Tentu beda.
 
Tapi tak berarti amok itu inisiatif masyarakat terpinggirkan, biasanya sih ya 
provokasi atau ajakan, janji dari elite yang bersaing kan Pak. Reformasi tentu 
peluang bagi siapa saja untuk memanfaatkannya mencari posisi. Ini repotnya 
menggunakan peluang, mekanisme yang seharusnya untuk "demokrasi perencanaan", 
sehingga tidak murni, dan sulit memisahkan antara "advokasi penataan ruang" 
dengan pertarungan kepentingan partai, elite politik.
 
Kalau PP yang Pak Onnos maksud apakah PP69/1996 tenang Pelaksanaan Hak dan 
Kewajiban serta Bentuk dan Tata Cara PERAN SERTA MASYARAKAT dalam Penataan 
Ruang. Atau ada yang lebih baru setelah UUPR 2006?
 
Kalau untuk Perencanaan Pembangunan memang ada yang mengatur tata cara 
Musrenbang dan sejenisnya. Saya kira Pak Iman, Uda Eksdj bisa menjelaskan PP 
yang mengiringi UUPR.
 
Salam,
Risfan Munir
 
 
 
 
 


--- On Thu, 1/21/10, Sugiono Ronodihardjo <[email protected]> wrote:


From: Sugiono Ronodihardjo <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] Jangan Ada Referendum Keistimewaan Yogyakarta
To: "[email protected]" <[email protected]>
Date: Thursday, January 21, 2010, 7:40 AM


  



Pak Bambang SP, Mas Risfan M. ysh.
Nuwunsewu, wah senang juga dapat ikutan urun rembuk tentang fenomena demokrasi 
dalam proses penataan ruang. Maksudnya mungkin buat konsep (makro s/d mikro) 
untuk menghadapi perkembangan demokrasi (atau 'demo-crazy' ) yang semakin marak 
di negeri seribu pulau ini. Sebetulnya sudah pernah dibuat PP (th ?) tentang 
'Partisipasi Masyarakat dalam Proses Penataan Ruang', tetapi kok sepertinya 
tidak jalan. Apa mungkin PP tsb. tidak cocok dengan 'sikon' masyarakat 
kita atau belum mengantisipasi perkembangan era-reformasi dan otonomi daerah ? 
Ada anggapan bahwa masyarakat kita memang gampang marah (dalam kamus disebut 
'amok'), apa mungkin karena kita hidup didaerah yang beriklim tropis yang 
berhawa panas, tetapi sepertinya lebih panas di Mekah yang banyak bebatuan dan 
gurun pasirnya lho.. Kita seharusnya mensyukuri dapat hidup diwilayah Nusantara 
yang alamnya indah permai & subur. Apalagi kalau ruang kita hidup ini dapat di 
tata dengan baik, sehingga
 tidak 'amburadul' dan masyarakatnya masih lebih suka ber'demo-crazy' ? 
Saya sepakat dengan pendapat Pak BSP, bahwa dibutuhkan beberapa dekade lagi 
untuk bisa mengikuti 'suasana demokrasi yang baik', namun alangkah baiknya 
kalau mulai dari sekarang dicari konsep 'budaya demokrasi' model Indonesia ?
Wassalam,
Onnos
 


To: refere...@yahoogrou ps.com
From: bspr...@indosat. net.id
Date: Thu, 21 Jan 2010 16:35:00 +0700
Subject: Re: [referensi] Jangan Ada Referendum Keistimewaan Yogyakarta

  



Mas Risfan ysh,
Waduh saya kira apa yang diharapkan mas Onnos itu memang bagus untuk dibahas. 
Yang mau kita bahas ini adalah konsep ataukah mencari cara menghadapi apa yang 
terjadi saat ini.
Bila demokrasi yang hendak didorong dalam sistem perencanaan. Wuaduh, bukannya 
saya pesimis,  kayaknya masih butuh beberapa dekade lagi. Hal ini karena 
struktur politik kita yang belum favourabel untuk terciptanya demokrasi 
tersebut. Bahkan kata demokrasi itu sendiri sekarang saya harus sepakat dengan 
penganut leftist kelas dunia bahwa yang terjadi adalah demokrasi dengan value 
milik pemilik kapital. Artinya tidak ada sebenarnya kata vox populi vox dei 
.... mungkin yang ada vox populi vox dui...t. Sangat satiris dan sangat ironis. 
Namun dampaknya adalah masyarakat saat ini yang terkena akibat dari kata 
demokrasi ini adalah menggunakan pendekatan pembangkangan. Ini dilakukan 
disemua level. Saya jadi teringat pendapat Prof Tibout tentang ciri-ciri 
masyarakat tropis ... dulu sempat marah saya dengan pendapat itu. Dia 
mengatakan bahwa masyarakat pada wilayah tropis mempunyai kecenderungan untuk 
bersifat menyerahkan semuanya pada kekuatan luar .... namun pada saat dia 
mengalami tekanan maka akan melakukan sikap yang frontal dan destruktif. Ini 
persis juga dengan idiom ngalah-ngalih- ngamuk. Saat ini masyarakat pada level 
ngamuk.
Ini berbeda dengan masyarakat subtropis ... mereka cenderung melakukan 
perencanaan dengan baik juga berusaha untuk kontroling terhadap lingkungan 
dlsb. 
Ini yang mengakibatkan warna demokrasi kita menjadi sangat aneh ... Ada sebuah 
"keluwehan" namun pada saatnya akan dengan cepat dia ngamuk. Apakah ini bisa 
kita tangkap dengan mode demokrasi versi subtropikal tersebut.
Salam
bambang sp. 





Windows Live Hotmail: Your friends can get your Facebook updates, right from 
Hotmail®. 







      

Kirim email ke