Pak Kuswanto ysh. Senang menyimak bapak membagi pengetahuan dan
pengalaman. Mohon semangat ini dipertahankan pak, siapa tahu bisa dapat
gelar Dr. juga dari multiversitas ini. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], Wanto None <kus_...@...> wrote:
>
> Pak Bambang, Pak Onos, Pak Risfan ysh,
> Lama tidak urun rembug. Maklum mahasiswa tugsnya ya melototi buku2 dan
mendengarkan dosen. Selama 5 bulan di US ada banyak yang ak tangkap soal
demokrasi dalam perencanaan. Ini hanya pendapat ya mohon penyempurnaan.
> Kesimpulan dari
> pengamatan saya selama ini adalah Amerika sendiri tidak demokratis
dalam
> perencanaan wilayahnya. Proses demokrasi sendiri dalam perencanaan
tidak
> seperti yang kita bayangkan, bahkan para penganut Post Modernist di US
> mengkategorikan urban planning disini belum demokratis. Para planner
seperti
> Hoch, Hokins, jacob mengkritisi sistem perencanaan di sini. Bahkan
sebuah survey
> menyebutkan bahwa fungsi zoning dan regulating mencapai 44% dan 40%
sedangkan
> fungsi advokasi dan kolaborasi hanya 5% terbalik dengan standard
demokrasi
> dalam perencanaan yang regulating dan zoning seharusnya cuma 5%.
Proses
> perencanaan  saat ini hanya berada pada level consultasi dengan
masyarakat
> bukan tahap partisipasi sebenarnya. Fakta lain bahwa demokrasi
perencanaan
> tidak absolut di US adalah bahwa tahun 1930 negara punya power besar
dalam
> perencanaan wilayah termasuk tata ruang dengan adanya Urban Renewal
Program. Dengan alasan menghapus slum area, negara memisahkan keluarga
para kaum kulit hitam dari kota2 dan terjadi diskriminasi luar biasa
yang mendorong  Marthin Luther King Jr. menyerukan perjuangan hak
kaum kulit hitam pada tahun 1960-an. Sampe saat ini zoning yang di
gunakan serta
> prosedur2 kebijakannya masih jauh dari demokratis. Masalah lain
yang
> mungkin perlu di perhatikan bahwa di sini juga terjadi fragmentasi
politik yang
> menghambat koordinasi antar city, state, and federal government.
> Belajar dari situ naif apabila kita mengagungkan demokrasi dalam
segala hal. Untuk menuju kepada negara yang maju dengan masyarakat
makmur, fokus sekarang adalah revolusi birokrasi secara besar2an. Urban
Planning itu adalah mata politik, dan politik adalah badannya sedang
birokrasi adalah kakinya. Kondisi masyarakat yang sdah jenuh dengan
kondisi yang ada, frustasi, misguide, loss character adalah di sebabkan
oleh kegagalan reformasi dan desentralisasi/democratisasi untuk memenuhi
harapan tinggi masyarakat waktu itu. (maaf ini hipotesis tanpa data,
bagi para sosiolog boleh mengomentari dan meluruskan yang ini). Politik
boleh sudah berganti rezim tapi ternyata birokrasi masih sama. kaki2 itu
berat melangkah kepada apa yang di perintahkan oleh mata. Politik malah
terkontaminasi dengn birokrasi, dan kita akhirnya begini2 saja. China
tahun 1960an membangun  ekonomi dengan merevolusi birokrasinya.
Insya Allah kita bisa dalam 10 tahun menikmati keberhasilan
> pembangunan dengan konsisten pada revolusi birokrasi. Ide yang sulit
di laksanakan tanpa kepemimpinan yang tegas dan berani serta jujur.
> Terima Kasih.
> Â
> --- On Thu, 1/21/10, Sugiono Ronodihardjo sugion...@... wrote:
>
> From: Sugiono Ronodihardjo sugion...@...
> Subject: RE: [referensi] Jangan Ada Referendum Keistimewaan Yogyakarta
> To: "[email protected]" [email protected]
> Date: Thursday, January 21, 2010, 1:40 PM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Â
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Pak Bambang SP, Mas Risfan M. ysh.
>
> Nuwunsewu, wah senang juga dapat ikutan urun rembuk tentang
fenomena demokrasi dalam proses penataan ruang. Maksudnya mungkin buat
konsep (makro s/d mikro) untuk menghadapi perkembangan demokrasi (atau
'demo-crazy' ) yang semakin marak di negeri seribu pulau ini. Sebetulnya
sudah pernah dibuat PP (th ?) tentang 'Partisipasi Masyarakat
dalam Proses Penataan Ruang', tetapi kok sepertinya tidak jalan. Apa
mungkin PP tsb. tidak cocok dengan 'sikon' masyarakat kita atauÂ
belum mengantisipasi perkembangan era-reformasi dan otonomi daerah ? Ada
anggapan bahwa masyarakat kita memang gampang marah (dalam kamus disebut
'amok'), apa mungkin karena kita hidup didaerah yang beriklim tropis
yang berhawa panas, tetapi sepertinya lebih panas di Mekah yang
banyak bebatuan dan gurun pasirnya lho.. Kita seharusnya mensyukuriÂ
dapat hidup diwilayah Nusantara yang alamnya indah permai &
subur. Apalagi kalau ruang kita hidup ini dapat di tata dengan
baik, sehingga
> tidak 'amburadul' dan masyarakatnya masih lebih sukaÂ
ber'demo-crazy' ?Â
>
> Saya sepakat dengan pendapat Pak BSP, bahwa dibutuhkan beberapa dekade
lagi untuk bisa mengikuti 'suasana demokrasi yang baik', namun alangkah
baiknya kalau mulai dari sekarang dicari konsep 'budaya demokrasi' model
Indonesia ?
>
> Wassalam,
>
> Onnos
> Â
>
>
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> From: bspr...@indosat. net.id
> Date: Thu, 21 Jan 2010 16:35:00 +0700
> Subject: Re: [referensi] Jangan Ada Referendum Keistimewaan Yogyakarta
>
> Â
>
>
>
>
> Mas Risfan ysh,
>
> Waduh saya kira apa yang diharapkan mas Onnos itu memang bagus untuk
dibahas. Yang mau kita bahas ini adalah konsep ataukah mencari cara
menghadapi apa yang terjadi saat ini.
>
> Bila demokrasi yang hendak didorong dalam sistem perencanaan. Wuaduh,
bukannya saya pesimis, Â kayaknya masih butuh beberapa dekade lagi.
Hal ini karena struktur politik kita yang belum favourabel untuk
terciptanya demokrasi tersebut. Bahkan kata demokrasi itu sendiri
sekarang saya harus sepakat dengan penganut leftist kelas dunia bahwa
yang terjadi adalah demokrasi dengan value milik pemilik kapital.
Artinya tidak ada sebenarnya kata vox populi vox dei .... mungkin yang
ada vox populi vox dui...t. Sangat satiris dan sangat ironis.
>
> Namun dampaknya adalah masyarakat saat ini yang terkena akibat dari
kata demokrasi ini adalah menggunakan pendekatan pembangkangan. Ini
dilakukan disemua level. Saya jadi teringat pendapat Prof Tibout tentang
ciri-ciri masyarakat tropis ... dulu sempat marah saya dengan pendapat
itu. Dia mengatakan bahwa masyarakat pada wilayah tropis
mempunyai kecenderungan untuk bersifat menyerahkan semuanya pada
kekuatan luar .... namun pada saat dia mengalami tekanan maka akan
melakukan sikap yang frontal dan destruktif. Ini persis juga dengan
idiom ngalah-ngalih- ngamuk. Saat ini masyarakat pada level ngamuk.
>
> Ini berbeda dengan masyarakat subtropis ... mereka cenderung melakukan
perencanaan dengan baik juga berusaha untuk kontroling terhadap
lingkungan dlsb.
>
> Ini yang mengakibatkan warna demokrasi kita menjadi sangat aneh ...
Ada sebuah "keluwehan" namun pada saatnya akan dengan cepat dia ngamuk.
Apakah ini bisa kita tangkap dengan mode demokrasi versi subtropikal
tersebut.
>
> Salam
>
> bambang sp.Â
>
>
>
>
>
> Windows Live Hotmail: Your friends can get your Facebook updates,
right from Hotmail®.
>


Kirim email ke