Katur dumateng para priyantun ‘asli’ Ngayogyakarta maupun juga para kanca yg 
masih sih tresna kpd budaya dan sejarah bangsa ysh,
 
Mengaitkan kembali thread ini dgn forwardan awal thread ini ……Sudahlah saja tak 
usahlah diambil hati ttg ide forwardan dan tambahan  komentar seorang planner 
ttg  ‘kebebasan demokrasi’ dan ‘kebebasan referendum’ atas keistimewaan DIY tsb 
(krn dikira benar2 ada yg namanya plain n naïve democracy, dan dikira demokrasi 
bisa berdiri dan berjalan sendiri sebebas2nya tanpa perlunya pertimbangan 
keutuhan bangsa dan negara diatas kemajemukan etnik, agama, bahasa, warna kulit 
atau bentuk rambut, tanpa perlunya pertimbangan hukum, sosial, politik, 
hankam, faktor2 gejolak masyarakat, faktor2 preseden, faktor2 
separatisme... dsb.)……..kita ingat masalah lepasnya TimTim samasekali bukan krn 
semata faktor referendum (yg dicurangi Australia itu).... tapi krn memang sejak 
awal ia akan dilepaskan dari Indonesia krn hanya akan selalu menjadi kerikil 
dalam sepatu saja..... disitu referendum hanyalah sekedar ritus pelengkapnya 
saja......
Sekarang ini lumrah kok profesional pada jenuh dan bingung serta tak tahu lagi 
dgn apa yg seharusnya mereka perbuat dgn pengabdian dibidang profesi  mereka 
sendiri sehingga sambil menunggu datangnya inspirasi baru ….mereka sementara 
waktu berpindah profesi atau berpindah mengomentari bidang2 lain  yg walau 
mereka tak banyak mengerti sekalipun ttg itu …… dan walau tentu masih ada para 
dedengkot, senapati, wiku, atau para pangeran dibidang yg mereka komentari itu 
masih pada hidup dan tentu jauh lbh berkompeten utk mengawal dan terus 
mengkritisi bidang profesi mereka sendiri itu dibanding someone yg tiba2 saja 
mendadak iseng alih profesi…..……. 
Kita lihat sajalah  dokter muda yg kurang laku ditempat praktek kadang pindah 
menjadi penyanyi, presenter atau bahkan komedian….. lalu penyanyi rock yg 
seperti kurang laku lalu pindah profesi menjadi da’i dan malah sukses 
….pengusaha salon yg tak kunjung ramai salonnya lalu merangkap menjadi dokter 
dadakan bidang kosmetik, lemak dan wajah yg kadang krn salah mengoperasi… 
pasiennya ada yg mati maka mereka meringkuk di penjara dsb… dsb….. krnnya tak 
usahlah heran kalau hanya misalnya saja ada arsitek atau birokrat yg pindah 
atau merangkap profesi menjadi da’i juga (krn brkali merasa krg yakin jadi 
birokrat saja akan sulit utk masuk surganya)… atau kalausaja misalnya ada 
planner yg merangkap menjadi komentator masalah politik atau orang jalanan 
macem saya gini  yg lancang membayangkan sok menjadi planner (maka katanya 
namanya mlanner)… dsb……   
Krn itu brngkali memang benar apa yg dikatakan oleh guru samurai kita Risfan 
Munir itu… biarlah mrk yg sedang belajar menulis membuat posting atau walau 
sekedar baru belajar  memforward2 artikel orng lain sekalipun  …. mbok ya 
janganlah pagi2 terlalu cepat dibantah/ ditanggapi…. Nanti ybs  mundak ngambek 
dan ybs mundak nggak mau keluarin posting lagi (ini mungkin sekaligus nasehat/ 
usulan utk mas Fajar atas komentarnya ttg ‘siapa menangani kota’)……..waduh tapi 
ini stigma lagi nggak ya?.... hehehe takut…salam,
aby

--- On Fri, 1/22/10, Djarot Purbadi <[email protected]> wrote:


From: Djarot Purbadi <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: Jangan Ada Referendum Keistimewaan Yogyakarta
To: [email protected]
Date: Friday, January 22, 2010, 1:20 PM


  







Pak Eka dan sahabats,

Orang fenomenologi akan menukik sampai jantung bahkan sampai jiwanya. Artinya, 
akan masuk sampai yang terdalam, hakekatnya yang sejati. Dia akan mengatakan 
bahwa sebelum NKRI ini ada, masih ada sebuah kerajaan yang kehidupannya rukun 
tenteram berkat keunikan lokal yang membentuknya. Kerajaan itu dibangun melalui 
kesepakatan mistik antara pendiri kerajaan dengan empat kerajaan gaib di 
sekelilingnya. Artinya, ada dimensi-dimensi transenden yang sangat terikat 
tempat dan menjadikannya sebuah kerajaan unik, yang masih lestari hingga saat 
ini.

Ketika konteks jaman berubah, karena waktu dan situasi globalisasi, datanglah 
para pemikir rasionalis dengan ditumpangi berbagai kepentingan atau frame-frame 
tertentu membawa buldoser untuk meratakannya begitu saja. Alasan demi alasan 
bisa dibuat, tetapi sang empunya kerajaan yang sudah berada di alam arwah 
barangkali bertanya-tanya: he tahu apa kamu manusia masa kini, yang tidak 
menghormati kami ????

Peta bukanlah teritori itu sendiri, begitu menurut guru Samurai saya, kenalilah 
dengan jernih dan hayatilah keberadaannya, jumpailah jiwanya, dengarkan 
denyutnya, dan engkau akan tahu isi hatinya. Jika kraton sudah tidak 
menjalankan ritual labuhan, jika sultan kemudian mencalonkan diri menjadi 
presiden, jika para keturunan darah biru sudah melakukan transfusi dan darahnya 
sudah menjadi darah yang kotor, jika rakyat pedesaan Yogyakarta sudah menghapus 
dwi tunggal kerajaan lokal dari ingatannya.. .nah disitulah baru dipertanyakan 
keistimewaannya !!!

Dari sisi planning, apakah keberadaan DIY yang semula kraton Jawa bukan sebuah 
keunikan yang luar biasa ? Yogyakarta merupakan bagian dari ingatan masa lalu 
karena dibangun dengan berbagai konsep dari berbagai aliran yang ketika itu ada 
dalam kesadaran Sang Mangkubumi ? Menurut Damarjati Supajar, Hamengkubhuwana 
itu sangat besar dan lebih besar maknanya daripada sekedar disandingkan dengan 
presiden atau profesor doktor sekalipun !!!! Artinya, jika sultan menjadi 
presiden itu namanya lengser keprabon !!!! Mohon maaf gagasan ini semua adalah 
pendapat fenomenolog lokal yang belum jernih menghayati kehampaan.

Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Sat, 1/23/10, ffekadj <4ek...@gmail. com> wrote:


From: ffekadj <4ek...@gmail. com>
Subject: [referensi] Re: Jangan Ada Referendum Keistimewaan Yogyakarta
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Saturday, January 23, 2010, 12:06 AM


  


Pak Djarot dan Pak BSP ysm. Saya jelas memiliki kaitan sejarah dengan
kampung saya, Yogya. Namun saya ada penafsiran sedikit tentang pemaknaan
'istimewa' yang sangat bernilai diachronic. Beberapa tahun yang lalu
saya ditunjukkan sebuah prasasti, di sekitar kraton, tentang pernyataan
kedaulatan NKRI itu. Kalau tidak salah bertanggal 18 (atau 19?) Agustus
1945. Dengan kata lain ini terkategori pernyataan pertama 'Daerah'
terhadap 'kedaulatan internal' NKRI; yang sungguh menumbuhkan percaya
diri luar biasa bagi para perintis kemerdekaan, karena adanya dukungan
'simbol terbesar' masa itu. Adapun faktor lain seperti pernah menjadi
ibukota negara dll tidak menunjukkan keistimewaan. Hal yang sama
penilaian terhadap 'modal Republik' diperoleh dari Aceh. Sejauh hal ini
menunjukkan keistimewaan, tidak perlu diragukan lagi, dan kita terima
sebagai realita yang terwariskan dari masa ke masa. Salam.

-ekadj

--- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi <dpurb...@.. .> wrote:
>
> Pak BSP dan Rekans,
>
> Saya juga merasakan "kegawatan" yang tidak terduga jika berani
mengutik-utik keistimewaan Yogyakarta. Tentu ini karena subyektivitas
saya sebagai wong Jogja sejak lahir cenger...,meminjam istilah Pak
Risfan...ada framing sejak kecil yang saya miliki...jika akan
dijernihkan atau dihampakan harus melalui proses "ruwatan" ala psikologi
NLP. Bagi rekan dan sahabat yang tidak terbelenggu frame masa lalu
seperti saya, kiranya sangat mudah berolah pikir dan
wawansabda.. ...silahkan dilanjut !
>
> Salam,
>
>
>
> Djarot Purbadi
>
>
>
> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
>
> http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
>
> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com
>
> --- On Thu, 1/21/10, bspr...@... bspr...@... wrote:
>
> From: bspr...@... bspr...@...
> Subject: Re: [referensi] Jangan Ada Referendum Keistimewaan Yogyakarta
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Thursday, January 21, 2010, 10:36 AM
>
> Mas Djarot, pak Risfan, rekan milister ysh.
> Â
> Sebenarnya saya agak sungkan ikut nimbrung masalah RUUK DIY. Kebetulan
saya berkecimpung disana selama 6 tahun sejak tahun 2000. Tetapi ada hal
yang mungkin tidak dipahami masyarakat dan jauh dari idealisme seperti
yang sering diucapkan.
> Â
> Saya sepakat sekali dengan apa yang dikemukakan mas Djarot. Yang
terjadi saat ini hanyalah perang kembang ... perang yang sejatine tidak
nampak. Ini sudah berlangsung cukup lama.
> Â
> Kalaupun dilakukan sebuah referendum itu tidak menjamin. Karena
gerakan rakyat yang selama ini muncul dimedia sebenarnya adalah sebuah
teknik canggih "demokrasi" model Indonesia milenium ketiga yang tidak
ada dalam teori2. Yang saat ini berjalan adalah teori konspirasi.
> Â
> Yang pasti pendekar2 Keistimewaan Yogyakarta sudah bertumbangan ...
itu fakta. Antara lain :
> Dr. Affan Gafar (konseptor pertama Rancangan UUK)
> Dr. Rahman Karseno (konseptor dari aspek ekonomi)
> Dr. Riswanda (konseptor dari aspek kepemerintahan)
> Drs. Mujono (Asisten I/pemroses RUUK)
> Dr. Dahlan Thaib SH (Asisten I/pemroses RUUK)
> Beliau-beliau meninggal dalam usia cukup muda. Sehingga muncul sebuah
"pemahaman" berhati-hatilah dengan keistimewaan Yogyakarta. Karena sudah
ada sebuah "paugeran" yang tidak bisa dilanggar. Dan itu bukan harus
penetapan dlsb.
> Â
> Mungkin kalau teman2 menghendaki saya akan menyampaikan simpul2
permasalahannya.
> Salam
> bambang sp
>










      

Kirim email ke