Mas Risfan ysh,

Waduh saya kira apa yang diharapkan mas Onnos itu memang bagus untuk dibahas. 
Yang mau kita bahas ini adalah konsep ataukah mencari cara menghadapi apa yang 
terjadi saat ini.

Bila demokrasi yang hendak didorong dalam sistem perencanaan. Wuaduh, bukannya 
saya pesimis,  kayaknya masih butuh beberapa dekade lagi. Hal ini karena 
struktur politik kita yang belum favourabel untuk terciptanya demokrasi 
tersebut. Bahkan kata demokrasi itu sendiri sekarang saya harus sepakat dengan 
penganut leftist kelas dunia bahwa yang terjadi adalah demokrasi dengan value 
milik pemilik kapital. Artinya tidak ada sebenarnya kata vox populi vox dei 
.... mungkin yang ada vox populi vox dui...t. Sangat satiris dan sangat ironis. 

Namun dampaknya adalah masyarakat saat ini yang terkena akibat dari kata 
demokrasi ini adalah menggunakan pendekatan pembangkangan. Ini dilakukan 
disemua level. Saya jadi teringat pendapat Prof Tibout tentang ciri-ciri 
masyarakat tropis ... dulu sempat marah saya dengan pendapat itu. Dia 
mengatakan bahwa masyarakat pada wilayah tropis mempunyai kecenderungan untuk 
bersifat menyerahkan semuanya pada kekuatan luar .... namun pada saat dia 
mengalami tekanan maka akan melakukan sikap yang frontal dan destruktif. Ini 
persis juga dengan idiom ngalah-ngalih-ngamuk. Saat ini masyarakat pada level 
ngamuk.

Ini berbeda dengan masyarakat subtropis ... mereka cenderung melakukan 
perencanaan dengan baik juga berusaha untuk kontroling terhadap lingkungan 
dlsb. 

Ini yang mengakibatkan warna demokrasi kita menjadi sangat aneh ... Ada sebuah 
"keluwehan" namun pada saatnya akan dengan cepat dia ngamuk. Apakah ini bisa 
kita tangkap dengan mode demokrasi versi subtropikal tersebut.

Salam

bambang sp. 

Kirim email ke