Pak Djarot dan Pak BSP ysm. Saya jelas memiliki kaitan sejarah dengan
kampung saya, Yogya. Namun saya ada penafsiran sedikit tentang pemaknaan
'istimewa' yang sangat bernilai diachronic. Beberapa tahun yang lalu
saya ditunjukkan sebuah prasasti, di sekitar kraton, tentang pernyataan
kedaulatan NKRI itu. Kalau tidak salah bertanggal 18 (atau 19?) Agustus
1945. Dengan kata lain ini terkategori pernyataan pertama 'Daerah'
terhadap 'kedaulatan internal' NKRI; yang sungguh menumbuhkan percaya
diri luar biasa bagi para perintis kemerdekaan, karena adanya dukungan
'simbol terbesar' masa itu. Adapun faktor lain seperti pernah menjadi
ibukota negara dll tidak menunjukkan keistimewaan. Hal yang sama
penilaian terhadap 'modal Republik' diperoleh dari Aceh. Sejauh hal ini
menunjukkan keistimewaan, tidak perlu diragukan lagi, dan kita terima
sebagai realita yang terwariskan dari masa ke masa. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote:
>
> Pak BSP dan Rekans,
>
> Saya juga merasakan "kegawatan" yang tidak terduga jika berani
mengutik-utik keistimewaan Yogyakarta. Tentu ini karena subyektivitas
saya sebagai wong Jogja sejak lahir cenger...,meminjam istilah Pak
Risfan...ada framing sejak kecil yang saya miliki...jika akan
dijernihkan atau dihampakan harus melalui proses "ruwatan" ala psikologi
NLP. Bagi rekan dan sahabat yang tidak terbelenggu frame masa lalu
seperti saya, kiranya sangat mudah berolah pikir dan
wawansabda.....silahkan dilanjut !
>
> Salam,
>
>
>
> Djarot Purbadi
>
>
>
> http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
>
> http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]
>
> http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
>
> --- On Thu, 1/21/10, bspr...@... bspr...@... wrote:
>
> From: bspr...@... bspr...@...
> Subject: Re: [referensi] Jangan Ada Referendum Keistimewaan Yogyakarta
> To: [email protected]
> Date: Thursday, January 21, 2010, 10:36 AM
>
> Mas Djarot, pak Risfan, rekan milister ysh.
> Â
> Sebenarnya saya agak sungkan ikut nimbrung masalah RUUK DIY. Kebetulan
saya berkecimpung disana selama 6 tahun sejak tahun 2000. Tetapi ada hal
yang mungkin tidak dipahami masyarakat dan jauh dari idealisme seperti
yang sering diucapkan.
> Â
> Saya sepakat sekali dengan apa yang dikemukakan mas Djarot. Yang
terjadi saat ini hanyalah perang kembang ... perang yang sejatine tidak
nampak. Ini sudah berlangsung cukup lama.
> Â
> Kalaupun dilakukan sebuah referendum itu tidak menjamin. Karena
gerakan rakyat yang selama ini muncul dimedia sebenarnya adalah sebuah
teknik canggih "demokrasi" model Indonesia milenium ketiga yang tidak
ada dalam teori2. Yang saat ini berjalan adalah teori konspirasi.
> Â
> Yang pasti pendekar2 Keistimewaan Yogyakarta sudah bertumbangan ...
itu fakta. Antara lain :
> Dr. Affan Gafar (konseptor pertama Rancangan UUK)
> Dr. Rahman Karseno (konseptor dari aspek ekonomi)
> Dr. Riswanda (konseptor dari aspek kepemerintahan)
> Drs. Mujono (Asisten I/pemroses RUUK)
> Dr. Dahlan Thaib SH (Asisten I/pemroses RUUK)
> Beliau-beliau meninggal dalam usia cukup muda. Sehingga muncul sebuah
"pemahaman" berhati-hatilah dengan keistimewaan Yogyakarta. Karena sudah
ada sebuah "paugeran" yang tidak bisa dilanggar. Dan itu bukan harus
penetapan dlsb.
> Â
> Mungkin kalau teman2 menghendaki saya akan menyampaikan simpul2
permasalahannya.
> Salam
> bambang sp
>



Kirim email ke