|
Saya teringat beberapa minggu yang lalu
sesuatu yang mengejutkan ada rasa suka dan duka. Ceritanya beberapa minggu
yang lalu adik saya mendapatkan surat
yang isinya pada waktu itu menyatakan bahwa dia mendapatkan undian
berhadiah, yaitu berupa hadiah satu mobil Toyota Kijang keluaran terbaru.
Dengan sesuatu hal yang tidak disangka-sangka adik saya datang ke Jakarta
dengan sukacita, untuk membereskan sebagian syarat sebagai pemenang.
Membayar pajak hadiah dan mengambil hadiah. Ternyata selidik punya selidik
adik saya di tipu. Ada
orang yang tidak hanya iseng mengerjainya dengan modus penipuan. Tetapi
saya menyarankan kepada dia di dalam perkara ini untuk senantiasa berfikir
secara positif. Kenapa demikian: karena dengan cara ini saya dapat
dipertemukan dengan adik saya yang selama delapan tahun kami tidak pernah
berjumpa. Oleh karena itu ada duka dan ada suka cita.
Nah logikanya sangat sederhana: tidak ada
yang mustahil di jaman sekarang ini, sehebat apapun manusia pasti pernah
mengalami duka, apakah itu di tipu orang, di rampok, terkena bencana alam,
atau kita punya teman dekat tetapi sekarang menjadi lawan kita dan
sebaliknya yang tadinya lawan menjadi teman. Saudara yang tadinya kaya
berkecukupan sekarng menjadi miskin, perusahaan saudara besar eh sekarang
malah gulung tikar alias bangkrut.
Saudara dengan perkara di atas Allah
mengingatkan kepada kita agar selalu bersukacita dalam pencobaan. Anda bisa
lihat atau mendengar firman Tuhan yang menceritakan tentang kesalehan Ayub.
Dia dicobai sampai dimana kesetiaan Ayub kepada Allah. Anak-anaknya mati ,
isterinya meninggalkannya, tubuhnya penuh dengan penyakit,
sahabat-sahabatnya menjauhkannya dan seluruh kekayaannya habis. Sungguh
ajaib KuasaNya apa jawaban Ayub atas penderitaannya: “Tuhan yang
memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan.” (Ayub 1: 21.b)
Pertanyaan, apakah masih ada Ayub-ayub di
zaman sekarang ini? Sedikitsaja kita tertipu, perusahaan merugi, atau
terkenapenyakit, kita sudah bersungut-sungut tak karuan. (CS)
|