|
Kehidupan orang percaya dalam berjalan di
dunia ini tidaklah gampang dan bebas dari masalah. Memang benar bahwa Tuhan
Yesus menjanjikan pertolongan dan jalan keluar ketika kita sedang
menghadapi masalah dengan berdoa dan berseru kepada-Nya (Mat.7:7), ada
janji berkat berkelimpahan yang disediakan (Yoh.10:10), penyertaan Tuhan
menyertai orang percaya sampai akhir zaman (Mat.28:20). Namun demikian
realita hidup Kekristenan kita menunjukkan suatu fakta bahwa semua
janji-janji tersebut juga diikuti oleh sisi salib, pengorbanan dan
penderitaan karena mengikuti Kristus (Fil.1:29).
Menyadari situasi yang digambarkan di
atas, maka seharusnya orang percaya memiliki hikmat khusus untuk
mengantisipasi berbagai kemungkinan dialaminya. Dalam ayat 11 dan 12 pada
pasal yang sama, Paulus menunjukkan suatu fakta bahwa dalam pelayanan, dia
berhadapan dengan dua situasi yang berbeda. Kadangkala dia berada di dalam
suasana kelimpahan, tetapi pada saat yang lain dia berada dalam situasi
kekurangan.
Kunci yang ingin diajarkan oleh Paulus
dalam menyikapi keadaan yang senang maupun susah adalah suatu kesanggupan
untuk menerima segala situasi dengan mengandalkan pertolongan dari Tuhan.
“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia” menunjukkan
suatu sikap yang menjadikan Tuhan sebagai penolong yang dapat diandalkan.
“Segala perkara” dapat memberi konotasi “Apa saja”
atau “dalam segala keadaan apapun.” Hal ini berarti bahwa tidak
ada satupun dalam pergumulan atau persoalan hidup kita yang tidak mungkin
kita tidak bisa hadapi atau tanggung. Kekuatan Allah yang melampaui segala
akal itu akan memberikan pertolongan dan jalan keluar.
Sebenarnya hal mendasar yang perlu
dikemukakan di sini adalah: diperlukan suatu kesadaran orang yang percaya
bahwa di dalam rencana Allah bagi kehidupannya, tidak ada satupun dari
semua persoalan hidup yang dihadapinya sengaja dibiarkan Allah untuk
menghancurkannya, tetapi sebaliknya segala persoalan, baik senang ataupun
susah yang dialaminya adalah bagian dari proses dan rencana Allah bagi
pendewasaan iman-Nya (1Ptr.1:6-7).(fl)
|