|
Hampir semua orang mendambakan hidup sukses,
dan salah satu ukuran yang sering dipakai, yaitu ketika ia mampu
mengumpulkan harta yang banyak. Hal itu tidak salah, kalau masih di dalam
lingkup kehendak Tuhan, tetapi bahayanya jika hati sudah terpaut dan mulai
mencintai harta, ini merupakan ancaman serius bagi hidup rohani kita.
Alkitab mencatat, orang muda yang kaya
datang kepada Yesus dalam kesalehan dan kekayaan serta dengan kesungguhan
hatinya, dengan maksud untuk menjadi murid-Nya. Ketika Yesus mengajukan
persyaratannya, anak muda ini langsung pergi dengan sedih hati, karena
Yesus memerintahkan untuk menjual semua harta miliknya.
Anak muda itu hartanya begitu banyak dan
hatinya sudah terpikat kepadanya, sehingga sulit bagi untuk melepaskan
semua harta itu demi Yesus. Baginya tidak mungkin menjadi "orang yang
miskin di hadapan Allah" karena ia punya penilaian begitu tinggi
mengenai kepentingan pribadinya sendiri.
Di zaman sekarang tidak jarang kita temui
orang-orang yang seperti ini, karena harta miliknya ia rela mengorbankan
keutuhan dan keharmonisan keluarga, berbuat jahat, bahkan ia rela
kehilangan keselamatan hanya karena itu. Firman Tuhan, "Aku
menasehatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah
dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya ...", Kristus tidak
dapat kita bandingkan dengan harta dunia.
Sorga bersifat kekal, sementara harta
dunia akan lenyap, jadi demi Kristus hendaknya kita rela berkorban apa
saja, tempatkan Kristus di atas segalanya. Harta dunia bisa kita miliki
dengan bermacam cara, namun untuk dapat memiliki harta kekal tidaklah
mudah, kita dituntut harus berpaling sepenuhnya dari dunia dan mengarahkan
tujuan hidup hanya kepada panggilan Sorga dalam Kristus Yesus.
Mempunyai harta yang banyak bukanlah
dosa, Tuhan sendiri memberi jaminan bagi kita yang hidup di dalam-Nya akan
diberkati. Tetapi kalau cinta harta itu yang salah, sebab berpotensi
membuat kita berpaling dari Allah. Layani dan permuliakanlah Tuhan dengan
hartamu. Haleluya.(Jhw)
|