28 Februari 2006, Selasa sore Bandara Kota Kinabalu bagian Ketibaan yang suram, mendung dan maghrib berkumandang.
Petugas imigrasi adalah seorang pria berusia diatas 30tahun, asli Sabah. Saya tidak tahu bahwa Sabah-Serawak menerapkan imigrasi berbeda dengan Semenanjung Malaysia. Ambar: (senyam-senyum mencoba taktik ramah pada imigrasi) Petugas: (melihat photo di passport, sibuk mengenali muka. Dua menit, tiga menit berlal, ia melihat saya lebih maju kedepan). Ambar: (masih senyam-senyum dikulum, tapi mulai berpikir kayaknya ada yang aneh) Petugas: "Nak kemana ni di KK?" Ambar: " I will hike Mt Kinabalu, Sir" (menolak bicara dengan Melayu or Bahasa). Petugas:" You looked different than this photo." Ambar: (baru ngeh maksudnya). "Oh I took that photo while my hair still short. Do you want me to show my hair?" Petugas: "No ..no..no. I'm just want to make sure you are not looking job here." (dua stempel besar didepannya dipalu dengan mantab sembari melirik penuh selidik). *** 22 September 2006 Bandara Soekarno Hatta bagian Keberangkatan Internasional nan megah. Siang hari, panas luar biasa tapi iyup didalam. Setting saat itu ketika era bebas fiskal NPWP belum di terapkan. Setelah check in di ValuAir, saya menuju loket bebas fiskal yang kecil, sempit tak jauh disitu. Isi formulir dan menyerahkan data. Petugas Pajak: (muka galak, sambil menyerahkan formulir dengan setengah melempar). "Mbak, formulirnya ngga bener nih. Isi semua dong" Ambar: (bingung, karena kolom menunjukkan options alamat di luarnegeri). "Lah pak sudah saya isi sesuai ketentuan." (kemudian menerangkan status imigrasi saya yang walaupun punya residensi di inggris tetapi pindah ke singapura dan belum punya status residen di negara tsb- sounded complicated and he did not get it). Petugas: (masih bolak-balik paspor saya, dilihat-lihat paspor lama dan baru) Ambar:"Saya emang belum ada ID di Singapura pak karena masih sementara" Petugas: "Kalau gitu pake aja yang inggris mbak." (mendadak ramah). Ambar: "Lha itu saya sebutkan tadi" Petugas: "Oh.." Setelah diberi formulir bebas fiskal, segera menuju bagian pintu imigrasi. Petugas berseragam nampak bercanda dengan kawannya. Begitu kontras dengan petugas pajak di bagian bebas fiskal. Ambar: (melewati meja, menyerahkan paspor dan formulir imigrasi). Petugas: (dilihatnya sebentar, rupanya ia penasaran, paspor saya dibolak-balik per lembar) "Wah mbak ini sering ke luar negeri ya?" Ambar: (bingung mo jawab apa, kan udah jelas disitu. Rasanya pertanyaan retoris begini paling bikin pusing) "Eh iya Pak." (basa-basi). Petugas:"Mbak orang kaya ya?" Ambar: (lebih bingung lagi mo bilang apa, dibilang miskin kok pergi terus, dibilang kaya wong ngga sugih). "Eeee saya sekolah aja kok Pak" Petugas: "Wah mbak ini mesti pinter deh, dari beasiswa ya" Ambar: (rasanya bukan tersanjung tapi malah jaga-jaga. Ini jebakan apa beneran? Memutuskan memberikan jawaban nggantung). "Alhamdulillah Pak" Petugas: "Saya kira mbak kerja di Singapura." Ambar: (Aha! Justified his action as an attempt to ask bribery for `potential TKI') "Oh enggak Pak, saya disana sementara aja kok." Petugas: (Segera dicap hurup BF di paspor -bebas fiskal bukan blue film yaks. Keramahannya sirna). Salam, ambar --- In [email protected], Oggi Gunadi Mawahiburahman <thisisog...@...> wrote: > > Dear rekan IBP, > > kalau kemaren sempat dibahas pengalaman unik & seru selama perjalanan, senang > rasanya bisa denger cerita unik,,seru atau gila selama melakukan trip, namun > bagaimana dengan pengalaman unik pemegang paspor ijo kita? >
