Mas Dodo dan rekan-rekan yth.,

Kemungkinan disintegrasi seperti kecenderungannya Quebec mungkin saja
bisa terjadi di Indonesia nantinya kalau otonomi daerah semakin membesar
dan kuat. Tantangannya justru di sini. Dengan semakin 'jago' dan
'kuat'nya daerah, tentu mereka akan memilih atau menunjuk (dengan asumsi
bahwa pada era itu demokrasi sudah lebih terbuka) wakil-wakil dari
daerahnya dengan sangat selektif (leading di kemampuan, kepandaian dan
kepemimpinan) untuk menjadi wakil rakyat di tingkat pusat. Sejalan
dengan semakin menguatnya otonomi daerah, wakil-wakil rakyat inilah yang
diharapkan dapat menggodok dan menghasilkan perundang-undangan dan
peraturan-peraturan di bawahnya (bersama dengan pemerintah pusat) yang
dapat menjamin kesatuan dan persatuan bangsa. Kalau wakil-wakil
rakyatnya 'jago-jago', yang terpilih untuk memimpin negara nantinya
tentu saja 'jagoan' juga. Bayangan saya, selain karena keterikatan
dengan sejarah (negara kesatuan Indonesia) dan legalitas negara
Indonesia secara internasional, sistem kebersamaan yang saling
menguntungkan antara pusat dan daerah juga akan menjadi pengikat
kesatuan bangsa. Soal bentuknya seperti apa sistem ini, nanti deh saya
jelaskan kalau saya ikutan debat calon presiden ..... he... he... he...
enggak kok, yang ini guyonan...!

Kembali lagi, proses pengembangan otonomi ini akan makan waktu yang
cukup lama seiring dengan semakin meningkatnya kemampuan dan kepandaian
sumber daya manusia Indonesia dan semakin matangnya rakyat dalam
berpolitik. (Yang terakhir ini kita bisa mencontoh matangnya politikus
di negara-negara maju. Konflik yang terjadi di antara mereka tidak
sampai mengorbankan rakyat biasa dan sistem kenegaraan). Jadi,
kelihatannya cerah dan menjanjikan khan?

Enak lho kalau ngomongin yang indah.... indah.....

Salam,
Budi

Dodo D. wrote:
>
> Nanya dikit nih bung Budi,
>
> --- Budi Haryanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> > Saya optimis bahwa perimbangan pusat-daerah ini semakin lama akan
> > semakin gencar dan bobotnya akan semakin membesar ke daerah. Dengan
> > berpindahnya 'kue' ke daerah, para 'pakar'pun akan ngikutin 'kue' tsb
> > ke
> > daerah, yang pada gilirannya daerah akan semakin kuat dan
> > menginginkan
> > porsi otonomi yang semakin besar. Semakin besar otonomi daerah, akan
> > semakin banyak 'pakar' berpindah ke daerah-daerah. Di sisi lain,
> > daerahpun menjadi semakin mandiri dan bebas mengembangkan ide-ide
> > untuk
> > kemajuannya.
>
> Saya tertarik dengan argumen anda diatas, khususnya masalah otonomi
> daerah yang makin besar, dan pertanyaan saya berkaitan dengan masalah
> integrasi nasional.
>
> Beberapa hari yang lalu, saya mendengarkan sebuah speech dari seorang
> Professor political science dari McGill University, Montreal. Topic
> yang disajikan menarik sekali yaitu masalah pemisahan negara bagian
> Quebec dari Canada. Sebagai negara konfederalis, negara negara bagian
> di Canada mempunyai otonomi yang seluas luasnya, bahkan power yang
> dimiliki negara bagian lebih besar dari powernya federal (pusat).
>
> Inti yang saya tangkap dari speech tersebut adalah, kekuatan ekonomi
> negara bagian Quebec yang sangat besar, yang memungkinkan wilayah
> tersebut untuk berdiri sendiri, menjadi salah satu fator utama yang
> melandasi keinginan Quebec untuk memisahkan diri dari Canada. Tentunya
> ada faktor2 lain seperti budaya dan bahasa Perancis yang kental dipakai
> oleh masyarakat Quebec sangat berlainan dengan budaya dan bahasa
> Inggris yang berlaku di bagian lain dari Canada.
>
> Meskipun sudah beberapa kali dilaksanakan referendum di Quebec, dan
> hasilnya lebih dari 50% suara mendukung separation of Quebec dari
> Canada, tetapi hal itu belum terlaksana juga sampai sekarang. Kendala
> utamanya adalah konstitusi Canada tidak mengijinkannya, dan Quebec juga
> tidak memperoleh dukungan internasional.
>
> Kemudian saya tanyakan kepada pembicara, bagaimana dia melihat
> relevansi permasalahan Quebec tersebut bila di hadapkan dengan negara
> Indonesia yang saat ini sedang merencanakan untuk memberikan otonomi
> yang lebih luas kepada daerah. Tapi karena beliau tidak paham tentang
> Indonesia, maka saya juga tidak meperoleh jawaban yang memuaskan. Dia
> hanya kembali kepada argumennya bahwa semakin kuat perekonomian suatu
> daerah, dan semakin besar otonomi yang diterima, maka akan semakin
> besar pula keinginan dari daerah tersebut untuk 'berdiri sendiri'.
>
> Menurut Bung Budi, adakah kemungkinan akan munculnya permasalahan
> disintegrasi di negara kita apabila daerah sudah mendapatkan otonomi
> yang luas, dan perekonomiannya semakin kuat, bahkan mungkin akan lebih
> kuat dari perekonomian pusat? Perlu di pertimbangkan bahwa negara kita
> lebih majemuk dan lebih heterogen bila dibanding Canada, serta potensi
> perpecahannya saya rasa juga lebih besar.
>
> Thanks.
> _________________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com

Kirim email ke