Mas Brawi dan rekan-rekan yth.,
Masih ingat dengan posting saya terdahulu, bahwa kemungkinan dalam 20
tahun mendatang (sekarang tinggal 19 tahun lagi) Timor-Timur, Irian Jaya
dan Aceh akan pisah dari Indonesia?
Dikaitkan dengan proses perimbangan pusat-daerah dan keterikatan dengan
'sejarah' (he..he..he.. terpaksa saya kasih begituan supaya lebih luas
artinya), terpaksa kita mungkin akan kehilangan propinsi-propinsi tsb
karena memang akar keterikatan 'sejarah'nya lemah.
Saya justru tidak sependapat dengan yang anda katakan bahwa keterikatan
bangsa Amerika karena mereka sama-sama pendatang (bagaimana ini
penjelasannya?). Proses pematangan berbangsa dan bernegara yang
ditunjang dengan kemampuan, kepandaian, dan kepemimpinanlah yang saya
kira dapat memunculkan perundang-undangan dan sistem kenegaraan yang
menjadikan 'keterikatan' antara federal dan negara-negara bagian.
Bertambahnya pengetahuan akan mendorong kematangan berfikir. Inilah
nantinya kunci dari pengikisan pandangan melihat seseorang dari
'label'nya (Islam, Kristen, Budha, Hitam, Kuning, Sipit, Belok, Jawa,
Madura, Batak, Ambon, dst...). Orang yang bijak akan melihat manusia
lain sebagai seutuhnya manusia sama dengan dirinya. Saling menjunjung
hak, kewajiban, dan harga diri masing-masing. (Sistem
perundang-undanganpun nantinya harus mencakup perlindungan terhadap
hal-hal tsb).
Kita pasti akan sampai ke tahapan ini kalau kita memang benar-benar
mempersiapkan diri untuk itu. Saya kira berpikir dan berkomentar negatif
adalah baik. Dan akan semakin baik lagi kalau tidak hanya berhenti
berfikir sampai di situ saja (karena akan terbelenggu oleh kekecewaan
dan ketidak-senangan), namun berupaya berfikir mencari alternatif
pemecahan masalahnya (berfikir positif). Saya yakin bahwa ini akan dapat
menjaga berkobarnya motivasi dan semangat kita untuk mencari dan mencari
terus jalan menuju kebaikan bersama.
Ah......, lagi-lagi terbayang Indonesia yang indah di depan sana.....
Semoga.
Salam,
Budi
FNU Brawijaya wrote:
>
> Hehehe....kalo ane kok selalu percaya sama yg natural. Semua rak ada
> siklusnya. Dari yg besar berubah model jadi kecil-kecil... Setelah semua
> jadi kecil nanti rak bakalan ada yg berusaha menyatukan sehingga jadi
> besar lagi. Sifat alamiah mas...
>
> Persatuan dengan dasar keterikatan sejarah kok rasanya mengada-ada.
> Sekarang mau membuat titik awal keterikatan sejarahnya dari mana?
> Misal untuk Indonesia.... mau dimulai sejak dijajah Belandakah? Sejak
> disatukan Gajah Mada kah? Atau mau mulai sejak orang Yunnan datang
> ke Nusantara? Lho ini ndak ngada-ngada. Kebetulan saja sejarah bangsa
> kita memang masih pendek...masih muda. Coba dibandingkan sama kaum
> Yahudi yg tercerai berai ratusan sampai bilangan ribu tahun. Nah, kita
> mau start dari mana nih.
>
> Waktu Aceh ribut-ribut bahwa sejarahnya tak sama karena tidak pernah
> dijajah Belanda kita terbengong-bengong. Nanti kampung saya juga
> bisa mengklaim bahwa sejarahnya beda karena sejak tahun lalu
> penduduknya seragam berpenghidupan petani semua. Jadi ciri-cirinya
> berbeda dengan anggota masyarakat lain. Nah, jadi penting juga kalau
> mau bikin asumsi keterkaitan sejarah, silakan diset dulu kapan mulainya.
> Kalo ane bilang percuma....tiap orang bisa ngeset kapan saja dia mau.
> Tergantung niatnya memang mau pisah atau gabung...
>
dst.....