Bung Budi dan rekan,

Kebetulan saya masih ingat posting anda. Justru itu saya selalu mengingatkan
agak kita mulai berpikir bahwa kita harus menentukan kapan kita boleh bilang
punya keterikatan sejarah. Apakah kita lebih senang menetapkan titik awal
sejak adanya kolonisasi barat? Apakah sebelum Portugis datang orang Timtim
mempunyai nama dan adat istiadat yang berbeda dengan orang Timor barat?
Haqul yakin mereka tidak ada bedanya, baik cara berkehidupan, nama, agama, dll.
Apakah dengan dasar ini dapat dibilang akar keterikatan sejarahnya lemah?

Sejarah kadang ditentukan oleh sekelompok orang saja. Maksud saya, kelompok
kecil masyarakat dapat menetapkan boundary sedemikian sehingga setelah
waktu berjalan sekian lama masyarakat tsb mempunyai ciri yg berbeda.
Untuk kasus Timtim, kelompok kecil tsb adalah pihak eksternal, yaitu orang
Portugis. Dapat terjadi kelompok kecil tsb adalah anggota masyarakat itu sendiri.
Kita dapat tengok Singapura sebagai contohnya. Atau terbentuknya Pakistan.
Faktor agama menciptakan dua kantong wilayah yg disebut Pakistan ini.
Akibat terpisahnya wilayah tsb secara geografis lalu terbentuk Bangladesh.

Untuk itulah, nurut saya, semua tergantung bagaimana niatnya. Apakah mau
berpisah atau bergabung. Adalah sangat ideal kalau semua anggota masyarakat
yg memutuskan mau pisah atau mau gabung. Seperti anda contohkan adalah
Quebec. Lebih sering sekelompok elite masyarakat yg memutuskan untuk
memisahkan diri dengan mengatas-namakan kelompok besar masyarakat tsb.
Dan sialnya banyak cara untuk mempengaruhi kelompok besar tsb. Dan ini
adalah kenyataan di tempat kita. Untuk sampai ke level seperti di Quebec,
kita butuh waktu. Dan kita bicara paling tidak 50 tahun (That's right, you're
dreaming yg dalam jangka puuanjang tidak mustahil akan tercapai), bukan
sekedar 5 tahun.

Bung Budi, pengikisan pandangan kesukuan, keagamaan, dll adalah bagus.
Cuma sayangnya penduduk Indonesia bukan dua orang (saya dan anda) atau
600 orang yg tergabung di milis ini. Kita mesti menerima kenyataan bahwa
masyarakat kita masih memandang hal tsb. Memang benar label kesukuan
sudah mulai sirna, paling tidak yg ada di permukaan. Tapi label agama kita
lihat makin marak. Dan kita tidak boleh membutakan diri dari kenyataan tsb.

Ya betul kalau kita mempersiapkan diri dengan baik kita akan sampai pada
tahap yg anda harapkan itu. Masalahnya pondasi macam apa, dan tahapan
yg bagaimana yg mesti dipersiapkan. Justru dengan dasar inilah saya
kurang sreg dengan pendapat beberapa kalangan yg lebih senang
berutopia. Lebih baik kita berpijak pada kenyataan yg ada dan mulai
bergerak mencari penyelesaian. Bukannya saya bilang kita tidak boleh
berpikir ideal. Ideal kan macam-macam kadarnya. Misal kalau target
perubahan 50 tahun, maka pencapaian masyarakat ideal yg kira-kira
baru tercapai 100 tahun tidak usah dibicarakan. Lha ini kan yg dimaksud
utopia? Bukan ya?

Yak...setuju kalau mau sama-sama ingin melihat Indonesia baru yg ideal.


Salam,
Jaya


Budi Haryanto wrote:

> Mas Brawi dan rekan-rekan yth.,
>
> Masih ingat dengan posting saya terdahulu, bahwa kemungkinan dalam 20
> tahun mendatang (sekarang tinggal 19 tahun lagi) Timor-Timur, Irian Jaya
> dan Aceh akan pisah dari Indonesia?
>
> Dikaitkan dengan proses perimbangan pusat-daerah dan keterikatan dengan
> 'sejarah' (he..he..he.. terpaksa saya kasih begituan supaya lebih luas
> artinya), terpaksa kita mungkin akan kehilangan propinsi-propinsi tsb
> karena memang akar keterikatan 'sejarah'nya lemah.
>
> Saya justru tidak sependapat dengan yang anda katakan bahwa keterikatan
> bangsa Amerika karena mereka sama-sama pendatang (bagaimana ini
> penjelasannya?). Proses pematangan berbangsa dan bernegara yang
> ditunjang dengan kemampuan, kepandaian, dan kepemimpinanlah yang saya
> kira dapat memunculkan perundang-undangan dan sistem kenegaraan yang
> menjadikan 'keterikatan' antara federal dan negara-negara bagian.
> Bertambahnya pengetahuan akan mendorong kematangan berfikir. Inilah
> nantinya kunci dari pengikisan pandangan melihat seseorang dari
> 'label'nya (Islam, Kristen, Budha, Hitam, Kuning, Sipit, Belok, Jawa,
> Madura, Batak, Ambon, dst...). Orang yang bijak akan melihat manusia
> lain sebagai seutuhnya manusia sama dengan dirinya. Saling menjunjung
> hak, kewajiban, dan harga diri masing-masing. (Sistem
> perundang-undanganpun nantinya harus mencakup perlindungan terhadap
> hal-hal tsb).
>
> Kita pasti akan sampai ke tahapan ini kalau kita memang benar-benar
> mempersiapkan diri untuk itu. Saya kira berpikir dan berkomentar negatif
> adalah baik. Dan akan semakin baik lagi kalau tidak hanya berhenti
> berfikir sampai di situ saja (karena akan terbelenggu oleh kekecewaan
> dan ketidak-senangan), namun berupaya berfikir mencari alternatif
> pemecahan masalahnya (berfikir positif). Saya yakin bahwa ini akan dapat
> menjaga berkobarnya motivasi dan semangat kita untuk mencari dan mencari
> terus jalan menuju kebaikan bersama.
>
> Ah......, lagi-lagi terbayang Indonesia yang indah di depan sana.....
> Semoga.
>
> Salam,
> Budi
>
> FNU Brawijaya wrote:
> >
> > Hehehe....kalo ane kok selalu percaya sama yg natural. Semua rak ada
> > siklusnya. Dari yg besar berubah model jadi kecil-kecil... Setelah semua
> > jadi kecil nanti rak bakalan ada yg berusaha menyatukan sehingga jadi
> > besar lagi. Sifat alamiah mas...
> >
> > Persatuan dengan dasar keterikatan sejarah kok rasanya mengada-ada.
> > Sekarang mau membuat titik awal keterikatan sejarahnya dari mana?
> > Misal untuk Indonesia.... mau dimulai sejak dijajah Belandakah? Sejak
> > disatukan Gajah Mada kah? Atau mau mulai sejak orang Yunnan datang
> > ke Nusantara? Lho ini ndak ngada-ngada. Kebetulan saja sejarah bangsa
> > kita memang masih pendek...masih muda. Coba dibandingkan sama kaum
> > Yahudi yg tercerai berai ratusan sampai bilangan ribu tahun. Nah, kita
> > mau start dari mana nih.
> >
> > Waktu Aceh ribut-ribut bahwa sejarahnya tak sama karena tidak pernah
> > dijajah Belanda kita terbengong-bengong. Nanti kampung saya juga
> > bisa mengklaim bahwa sejarahnya beda karena sejak tahun lalu
> > penduduknya seragam berpenghidupan petani semua. Jadi ciri-cirinya
> > berbeda dengan anggota masyarakat lain. Nah, jadi penting juga kalau
> > mau bikin asumsi keterkaitan sejarah, silakan diset dulu kapan mulainya.
> > Kalo ane bilang percuma....tiap orang bisa ngeset kapan saja dia mau.
> > Tergantung niatnya memang mau pisah atau gabung...
> >
> dst.....

--
               \\\|///
             \\  - -  //
              (  @ @  )
------------oOOo-(_)-oOOo-----------
FNU Brawijaya
Dept of Civil Engineering
Rensselaer Polytechnic Institute
mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------Oooo------------
           oooO     (   )
          (   )      ) /
           \ (      (_/
            \_)

Kirim email ke