...
Yw: Gile, nih... Subjek ame isinye udah beda banget, Mas.
Tapi biarin aja, deh.
>Hehehe....kalo ane kok selalu percaya sama yg natural. Semua rak ada
>siklusnya. Dari yg besar berubah model jadi kecil-kecil... Setelah semua
>jadi kecil nanti rak bakalan ada yg berusaha menyatukan sehingga jadi
>besar lagi. Sifat alamiah mas...
Yw: Naturalnya: kalo suatu negara besar gede banget, gagal
memperkokoh leadership (yg al. fungsinya pemersatu),
ya... nggak akan besar lagi... ;-)
>Persatuan dengan dasar keterikatan sejarah kok rasanya mengada-ada.
Yw: Setuju 100%. Yg melanggengkan persatuan itu masa depan,
bukan masa lalu. Biarpun persamaan (masa lalu) nya banyak,
tapi kalo nggak ada relevansinya utk masa depan, ya buat
apa dipersatukan iya nggak?
Contohnya: Kutub Utara dan Kutub Selatan itu, banyak
banget persamaannya, kok nggak jadi negara kesatuan kutub? ;-)
Gile... nyari contoh ke kutub segala. Anyway menurut saya
itu (kedua kutub) merupakan contoh relevan (utk mementahkan
konsep yg memang sudah mentah itu).
>Sekarang mau membuat titik awal keterikatan sejarahnya dari mana?
Yw: Dari mana pun. Kutub selatan & utara itu jauh lebih bermiripan
sejarah (pemerintahannya. ie. sama-sama blanko) drpd desa per
desa mana pun di Indonesia. Gile... levelnya udah desa per desa. ;-)
>Misal untuk Indonesia.... mau dimulai sejak dijajah Belandakah? Sejak
>disatukan Gajah Mada kah? Atau mau mulai sejak orang Yunnan datang
>ke Nusantara? Lho ini ndak ngada-ngada. Kebetulan saja sejarah bangsa
>kita memang masih pendek...masih muda. Coba dibandingkan sama kaum
>Yahudi yg tercerai berai ratusan sampai bilangan ribu tahun. Nah, kita
>mau start dari mana nih.
Yw: Start dari Mei 98! This is the most relevant. ;-)
>Waktu Aceh ribut-ribut bahwa sejarahnya tak sama karena tidak pernah
>dijajah Belanda kita terbengong-bengong.
Yw: Tapi pernah sama-sama dijajah malaria. Dan ini sejarahnya
jauh lebih panjang dari pada belalai gajah. ;-)
>Nanti kampung saya juga
>bisa mengklaim bahwa sejarahnya beda karena sejak tahun lalu
>penduduknya seragam berpenghidupan petani semua.
Yw: Tidak bisa. Soalnya penduduknya yg mau mengklaim udah
keburu ngungsi (ke US!) ;-)
>Jadi ciri-cirinya
>berbeda dengan anggota masyarakat lain. Nah, jadi penting juga kalau
>mau bikin asumsi keterkaitan sejarah, silakan diset dulu kapan mulainya.
Yw: From now on juga bisa.
>Kalo ane bilang percuma....tiap orang bisa ngeset kapan saja dia mau.
>Tergantung niatnya memang mau pisah atau gabung...
Yw: Tapi kalo ngesetnya ke masa depan, lain lagi...
Kalo sekarang Timtim nyempal dg Indonesia yg lain,
tapi nyatu dg Makao, sementara Makao nyatu sama
RR Cina, dan RR Cina menyatu sama Hong Kong, sementara
Hong Kong erat kaitan sejarahnya dg Inggris.
Masa depannya mau kemana?
>Dulu ane pernah posting kalau waktu mendefinisikan wilayah Indonesia
>ada yg mau memasukkan wilayah Malaysia ke dalam RI. Si empunya ide
>berangkat dari sejarah sebelum Belanda datang. Mungkin kalau ane
>ada di jaman itu ane juga mau mengklaim bahwa wilayah RI mesti men-
>cakup Vietnam juga. Kan katanya jaman Majapahit wilayahnya nyampe
>sana. Tahu deh kalau buku sejarahnya juga bohong...
Yw: Lagi-lagi... kalo ngeset negara berdasarkan (buku) sejarah,
harusnya kutub utara dan kutub selatan itu satu negara.
Buat apa?
...
>Bila dasarnya beda, maka kemungkinan untuk pisah ya besar. Coba dikasih
>conto negara mana yg bersatu karena keterkaitan sejarah.... Ndak ada mas.
Yw: Ada Mas. Negara Vatikan bersatu. He, he, he...
....
>permen karet. Masih jelas terlihat warna-warna manusianya, tapi baik di
bagian
>atas kotak dan bawahnya semuanya sama. Salah satu keterkaitan AS adalah...
>semuanya kaum pendatang.
Yw: Menurut saya AS itu walopun satu negara, tapi tidak bersatu.
>Kalau suatu daerah masih terjadi point-point perkutuban berdasar agama,
>etnik, dll., maka benih perpecahan akan selalu ada. Ini akan
>siap meledak setiap saat. Bisa dalam waktu 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun.
>Entah kenapa ane ndak pernah percaya itu pendapat para ahli baik bule maupun
>dalam negeri. Itu rak utopia para pemimpi yg ndak berpijak ke sifat manusia.
>Eh, ini bukannya nentang otonomi. Dan seperti biasa ini cuman pendapat ane...
Yw: Kalo ada pemimpin/visioner yg bisa meyakinkan bahwa in
the future, bersatu itu lebih profitabel dari pada misah,
ya bersatu...
>Juga itu sikap kebersamaan yg saling menguntungkan. Bentuk konkritnya
>gimana sih?
Yw: Bisa ditanya sama penganten baru, lah.
Jerman Barat - Jerman Timur. Euro. Robby Johan (dg Bank Mandiri).
Etc.
>Buat ane cuman enak didenger. Sekarang gini, beberapa
>kelompok masyarakat berkumpul. Bila semua kelompok punya share yg
>sama...misal punya duit seratus perak, maka mereka mungkin bisa membentuk
>suatu dewan yg membawahi mereka, yg tak punya penghasilan kecuali dari
>sumbangan tiap kelompok. Lha misal kalau ada 5 kelompok ndak punya
>duit, maka seumur-umur kelompok yg punya duit nggak pernah bakal
>menikmati keuntungan. Eh, tentu ada yg bisa ngeles, kan bentuk keuntungan
>tidak diukur semata oleh keuntungan ekonomi. Hehehe....sama aja
>sih...mau dikombinasi dg keuntungan apa ya....hankam? Lha mending
>kumpul sama yg kaya-kaya aja.... bisa beli senjata dg jumlah tetap, keluar
>uang lebih sedikit karena ndak perlu mensubsidi yg miskin....See....?
Yw: Kumpul sama yg kaya belum tentu enak, Mas.
Desi Ratnasari lebih milih yg nggak sekaya Abdul Latif.
Ini contoh. Miskin, tapi imut-imut... sama kuaya, sundul
langit, tapi limbu, uwelek... sampeyan pilih mana?
:-)
Note: lagi males serius.