Hehehe....kalo ane kok selalu percaya sama yg natural. Semua rak ada
siklusnya. Dari yg besar berubah model jadi kecil-kecil... Setelah semua
jadi kecil nanti rak bakalan ada yg berusaha menyatukan sehingga jadi
besar lagi. Sifat alamiah mas...
Persatuan dengan dasar keterikatan sejarah kok rasanya mengada-ada.
Sekarang mau membuat titik awal keterikatan sejarahnya dari mana?
Misal untuk Indonesia.... mau dimulai sejak dijajah Belandakah? Sejak
disatukan Gajah Mada kah? Atau mau mulai sejak orang Yunnan datang
ke Nusantara? Lho ini ndak ngada-ngada. Kebetulan saja sejarah bangsa
kita memang masih pendek...masih muda. Coba dibandingkan sama kaum
Yahudi yg tercerai berai ratusan sampai bilangan ribu tahun. Nah, kita
mau start dari mana nih.
Waktu Aceh ribut-ribut bahwa sejarahnya tak sama karena tidak pernah
dijajah Belanda kita terbengong-bengong. Nanti kampung saya juga
bisa mengklaim bahwa sejarahnya beda karena sejak tahun lalu
penduduknya seragam berpenghidupan petani semua. Jadi ciri-cirinya
berbeda dengan anggota masyarakat lain. Nah, jadi penting juga kalau
mau bikin asumsi keterkaitan sejarah, silakan diset dulu kapan mulainya.
Kalo ane bilang percuma....tiap orang bisa ngeset kapan saja dia mau.
Tergantung niatnya memang mau pisah atau gabung...
Dulu ane pernah posting kalau waktu mendefinisikan wilayah Indonesia
ada yg mau memasukkan wilayah Malaysia ke dalam RI. Si empunya ide
berangkat dari sejarah sebelum Belanda datang. Mungkin kalau ane
ada di jaman itu ane juga mau mengklaim bahwa wilayah RI mesti men-
cakup Vietnam juga. Kan katanya jaman Majapahit wilayahnya nyampe
sana. Tahu deh kalau buku sejarahnya juga bohong...
Kalau tadi ane nyontohin ngeset keterkaitan sejarah dari jaman Majapahit,
maka lain lagi dg Ben Anderson. Dia nge-set keterkaitan sejarah Indonesia
adalah sejak 1900-an. Dengan dasar ini dia beranggapan sejarah kita
masih muda. Kebetulan aja die prof Cornell jadi orang juga ngedengerin.
Kalau ane yg ngomong ya ndak ada yg ndengerin. Kecuali yg lagi mabuk...
Eh...paragraf di bawah setelah ane sisipin kok ndak nyambung ya...biar ah.
Udah telanjur ditulis...
Bila dasarnya beda, maka kemungkinan untuk pisah ya besar. Coba dikasih
conto negara mana yg bersatu karena keterkaitan sejarah.... Ndak ada mas.
Not even Amerika Serikat. Keterkaitan mereka karena keheterogenan
mereka menjadi merata. Semua tempat menjadi heterogen (Nah, bingung
istilah yg tepat...keheterogenan yg homogen....hehe...). Daripada bingung mereka
bikin istilah melting pot. Menurut ane istilahe ndak cocok. Yang bener sih kotak
permen karet. Masih jelas terlihat warna-warna manusianya, tapi baik di bagian
atas kotak dan bawahnya semuanya sama. Salah satu keterkaitan AS adalah...
semuanya kaum pendatang.
Kalau suatu daerah masih terjadi point-point perkutuban berdasar agama,
etnik, dll., maka benih perpecahan akan selalu ada. Ini akan
siap meledak setiap saat. Bisa dalam waktu 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun.
Entah kenapa ane ndak pernah percaya itu pendapat para ahli baik bule maupun
dalam negeri. Itu rak utopia para pemimpi yg ndak berpijak ke sifat manusia.
Eh, ini bukannya nentang otonomi. Dan seperti biasa ini cuman pendapat ane...
Juga itu sikap kebersamaan yg saling menguntungkan. Bentuk konkritnya
gimana sih? Buat ane cuman enak didenger. Sekarang gini, beberapa
kelompok masyarakat berkumpul. Bila semua kelompok punya share yg
sama...misal punya duit seratus perak, maka mereka mungkin bisa membentuk
suatu dewan yg membawahi mereka, yg tak punya penghasilan kecuali dari
sumbangan tiap kelompok. Lha misal kalau ada 5 kelompok ndak punya
duit, maka seumur-umur kelompok yg punya duit nggak pernah bakal
menikmati keuntungan. Eh, tentu ada yg bisa ngeles, kan bentuk keuntungan
tidak diukur semata oleh keuntungan ekonomi. Hehehe....sama aja
sih...mau dikombinasi dg keuntungan apa ya....hankam? Lha mending
kumpul sama yg kaya-kaya aja.... bisa beli senjata dg jumlah tetap, keluar
uang lebih sedikit karena ndak perlu mensubsidi yg miskin....See....?
'-------------------------------------
Budi Haryanto wrote:
> Mas Dodo dan rekan-rekan yth.,
>
> Kemungkinan disintegrasi seperti kecenderungannya Quebec mungkin saja
> bisa terjadi di Indonesia nantinya kalau otonomi daerah semakin membesar
> dan kuat. Tantangannya justru di sini. Dengan semakin 'jago' dan
> 'kuat'nya daerah, tentu mereka akan memilih atau menunjuk (dengan asumsi
> bahwa pada era itu demokrasi sudah lebih terbuka) wakil-wakil dari
> daerahnya dengan sangat selektif (leading di kemampuan, kepandaian dan
> kepemimpinan) untuk menjadi wakil rakyat di tingkat pusat. Sejalan
> dengan semakin menguatnya otonomi daerah, wakil-wakil rakyat inilah yang
> diharapkan dapat menggodok dan menghasilkan perundang-undangan dan
> peraturan-peraturan di bawahnya (bersama dengan pemerintah pusat) yang
> dapat menjamin kesatuan dan persatuan bangsa. Kalau wakil-wakil
> rakyatnya 'jago-jago', yang terpilih untuk memimpin negara nantinya
> tentu saja 'jagoan' juga. Bayangan saya, selain karena keterikatan
> dengan sejarah (negara kesatuan Indonesia) dan legalitas negara
> Indonesia secara internasional, sistem kebersamaan yang saling
> menguntungkan antara pusat dan daerah juga akan menjadi pengikat
> kesatuan bangsa. Soal bentuknya seperti apa sistem ini, nanti deh saya
> jelaskan kalau saya ikutan debat calon presiden ..... he... he... he...
> enggak kok, yang ini guyonan...!
>
> Kembali lagi, proses pengembangan otonomi ini akan makan waktu yang
> cukup lama seiring dengan semakin meningkatnya kemampuan dan kepandaian
> sumber daya manusia Indonesia dan semakin matangnya rakyat dalam
> berpolitik. (Yang terakhir ini kita bisa mencontoh matangnya politikus
> di negara-negara maju. Konflik yang terjadi di antara mereka tidak
> sampai mengorbankan rakyat biasa dan sistem kenegaraan). Jadi,
> kelihatannya cerah dan menjanjikan khan?
>
> Enak lho kalau ngomongin yang indah.... indah.....
>
> Salam,
> Budi
>
> Dodo D. wrote:
> >
> > Nanya dikit nih bung Budi,
> >
> > --- Budi Haryanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > > Saya optimis bahwa perimbangan pusat-daerah ini semakin lama akan
> > > semakin gencar dan bobotnya akan semakin membesar ke daerah. Dengan
> > > berpindahnya 'kue' ke daerah, para 'pakar'pun akan ngikutin 'kue' tsb
> > > ke
> > > daerah, yang pada gilirannya daerah akan semakin kuat dan
> > > menginginkan
> > > porsi otonomi yang semakin besar. Semakin besar otonomi daerah, akan
> > > semakin banyak 'pakar' berpindah ke daerah-daerah. Di sisi lain,
> > > daerahpun menjadi semakin mandiri dan bebas mengembangkan ide-ide
> > > untuk
> > > kemajuannya.
> >
> > Saya tertarik dengan argumen anda diatas, khususnya masalah otonomi
> > daerah yang makin besar, dan pertanyaan saya berkaitan dengan masalah
> > integrasi nasional.
> >
> > Beberapa hari yang lalu, saya mendengarkan sebuah speech dari seorang
> > Professor political science dari McGill University, Montreal. Topic
> > yang disajikan menarik sekali yaitu masalah pemisahan negara bagian
> > Quebec dari Canada. Sebagai negara konfederalis, negara negara bagian
> > di Canada mempunyai otonomi yang seluas luasnya, bahkan power yang
> > dimiliki negara bagian lebih besar dari powernya federal (pusat).
> >
> > Inti yang saya tangkap dari speech tersebut adalah, kekuatan ekonomi
> > negara bagian Quebec yang sangat besar, yang memungkinkan wilayah
> > tersebut untuk berdiri sendiri, menjadi salah satu fator utama yang
> > melandasi keinginan Quebec untuk memisahkan diri dari Canada. Tentunya
> > ada faktor2 lain seperti budaya dan bahasa Perancis yang kental dipakai
> > oleh masyarakat Quebec sangat berlainan dengan budaya dan bahasa
> > Inggris yang berlaku di bagian lain dari Canada.
> >
> > Meskipun sudah beberapa kali dilaksanakan referendum di Quebec, dan
> > hasilnya lebih dari 50% suara mendukung separation of Quebec dari
> > Canada, tetapi hal itu belum terlaksana juga sampai sekarang. Kendala
> > utamanya adalah konstitusi Canada tidak mengijinkannya, dan Quebec juga
> > tidak memperoleh dukungan internasional.
> >
> > Kemudian saya tanyakan kepada pembicara, bagaimana dia melihat
> > relevansi permasalahan Quebec tersebut bila di hadapkan dengan negara
> > Indonesia yang saat ini sedang merencanakan untuk memberikan otonomi
> > yang lebih luas kepada daerah. Tapi karena beliau tidak paham tentang
> > Indonesia, maka saya juga tidak meperoleh jawaban yang memuaskan. Dia
> > hanya kembali kepada argumennya bahwa semakin kuat perekonomian suatu
> > daerah, dan semakin besar otonomi yang diterima, maka akan semakin
> > besar pula keinginan dari daerah tersebut untuk 'berdiri sendiri'.
> >
> > Menurut Bung Budi, adakah kemungkinan akan munculnya permasalahan
> > disintegrasi di negara kita apabila daerah sudah mendapatkan otonomi
> > yang luas, dan perekonomiannya semakin kuat, bahkan mungkin akan lebih
> > kuat dari perekonomian pusat? Perlu di pertimbangkan bahwa negara kita
> > lebih majemuk dan lebih heterogen bila dibanding Canada, serta potensi
> > perpecahannya saya rasa juga lebih besar.
> >
> > Thanks.
> > _________________________________________________________
> > Do You Yahoo!?
> > Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com
--
\\\|///
\\ - - //
( @ @ )
------------oOOo-(_)-oOOo-----------
FNU Brawijaya
Dept of Civil Engineering
Rensselaer Polytechnic Institute
mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------Oooo------------
oooO ( )
( ) ) /
\ ( (_/
\_)