In a message dated 8/29/99 7:31:01 AM, [EMAIL PROTECTED] writes:
<< Irwan:
>Inilah susahnya pakai kata revolusi. Yang kebayang adalah pertumpahan
>darah besar2an. Padahal ngga harus begitu.
>Udah tahu khan beda dasar antara reformasi dan revolusi?
>Dulu khan udah pernah di gue tulis dan juga rekan lainnya
>bahas di milis ini. Reformasi itu yg ngelakuin perubahannya
>dari atas, dari pemerintah sendiri. Dan itu yg terjadi selama
>satu tahun ini. Nah, lihat lagi deh apakah perubahan yg dilakukan
>sudah sesuai dengan tuntutan reformasi yg diajukan oleh
>rakyat dalam hal ini melalui ujung tombaknya, mahasiswa?
>Sementara, kalau revolusi itu rakyat yg ngelakuin perubahan
>total. Aparat pemerintahan di non-aktifkan dan diambil alih
>oleh rakyat. Rakyat membentuk komite untuk memimpin
>sementara sambil menetapkan garis2 dasar negara untuk
>berikutnya. Demokrasi ditegakkan. Kemudian rakyat diminta
>memilih pemimpin pemerintahan yg bisa dilakukan lewat pemilu
Budi:
Saya tidak sependapat dengan yang anda tulis di atas ini. Definisi anda tsb
tidak benar menurut saya.
Apa yang telah didiskusikan di milis ini tidak pernah menyimpulkan sesuatu
dan atau disepakati peserta. Dengan demikian, adalah absurd menggunakan
bagian dari diskusi di milis ini sebagai reference.
Salam,
Budi
>>
Numpang isi pendapat lagi ....
Salah satu definisi yang paling populer tentang reformasi VS revolusi adalah
sbb.:
Reformasi memakan waktu yang cenderung lebih lama dari revolusi. Revolusi
yang cenderung bersifat fisikal adalah cara yang paling effective dalam
menjatuhkan suatu pemerintahan. Tetapi harus didukung oleh faktor geografis
bila bukan faktor mutlak kehendak rakyat. Contoh-contoh revolusi sangat
banyaklah adanya plus beragam dari yang sangat physical to yang lebih
spiritual. 1. Cultural Revolution di Iran (Ayatollah Khomeini) 2. Revolusi di
Cuba (Fidel Castro, Che Guevarra with their guerillas) 3. Kudeta2 di negara2
Afrika dan Amerika Latin yang notabene di dukung U.S. 4. (classic example)
French Revolution 5. Revolusi Orde Baru (ya nggak?) dan 6. Lech Walessa
dengan Solidaritas movementnya.
Sedangkan reformasi sebahagian besar terjadi atas kemauan kelompok atas dalam
memperjuangkan ide2 baru. Mereka2 ini tidak "lengser keprabon" tetapi
mengadakan suatu gebrakan politik yang drastis seperti menjatuhkan presiden
sendiri, merombak kabinetnya, atau merubah peraturan2 penting yang tergolong
sacred. Contoh2nya (here we go again): 1. Reformasi Pereostika/Glasnot semasa
Gorbachev 2. South Africa dengan anti-Apartheid movement. 3. Protestant
against Catholic semasa Martin Luther King era.4. Seperti yang dilakukan
Boris Yeltsin sekarang, Sukarno dulu mencoba mereform pemerintahan melalui
perombakan kabinetnya berulang2--(note : Sama seperti Sukarno dulu, Yeltsin
is not getting along with his duma and people assembly atas perubahan prime
minister yang tetap dilakukan terus menerus). 5. Dan lain2 sebagainya.
Jadi, sudah ada sejarah2 yang perlu kita baca dan pelajari dalam menentukan
gerakan kita selanjutnya. Kalau saudara Budi tidak setuju dengan pendapat
saudara Irwan, seharusnya anda melampirkan pendapat anda juga. Jangan hanya
disclaim dan menuduh melulu ... hanya memperpanjang persoalan dan bukan
menyelesaikan argumen. And who says that semua argumen-argumen harus
diselesaikan ? Sometimes it takes time and energy.
Selamat Berjuang,
Donald
PS: Dengan keadaan geografis Indonesia yang terpecah2 oleh pulau2 , apakah
ini juga merupakan tantangan berat buat reformasi atau revolusi? Apakah
internet bisa menjadi pemersatu ? Kita dihadapkan kembali kepada pertanyan
klasik seperti ini. Ya nggak?