In a message dated 8/28/99 5:10:27 PM Eastern Daylight Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:
> Anda sadar nggak, mereka-meraka yang anda sebut sebagai koruptor,
> provokator, dan lain sebangsanya yang menjadikan bangsa dan negara kita ini
> kacau itu siapa?
Irwan:
Siapa?....:)
Budi:
> Apa anda tahu dan sadar kalau ternyata mereka-mereka itu adalah sebagian
> dari saudara kita, sebagian dari famili kita, sebagian dari kawan kita.
> Bisa nggak anda mengidentifikasi mereka-mereka itu?
Irwan:
Oh...yg saya bicarakan kemarin itu adalah para penentu kebijakan
tingkat atas. Kalau yg kelas teri, ngga masuk hitungan gue.
Yang perlu di dongkel itu yg gede2nya yg bikin rugi negara
jutaan bahkan miliaran dolar. Apa ada diantara mereka yg saudara
atau keluarga anda? Mudah2an tidak, kalau pun iya, saya jadi
maklum membaca komentar2 anda sebelumnya.
Yg bikin rusak negara ini ya yang paling puncak itu, sumber masalahnya
yg harus diberesin. Baru nanti secara bertahap ke bawah.
Begitu prosesnya. Masak sih si Anton yg pegawai pemda DKI yg
nrima 100 ribu rupiah untuk memperlancar urusan dokumen
mau diutak-atik. Khan ini namanya kurang kerjaan. Mbok ya
yg skala nasional dulu yg diberesin. Pusatnya bung, pusatnya.
Yang cere2 tuh ya karena kepepet kondisi aja mereka jadi gitu.
Nanti mereka akan berubah sendiri setelah proses hukum dibenahi,
kesejahteraan pegawai negeri dibenahi, dan hal2 lain lagi.
Emangnya di milis ini sapa aja sih yg babenya atau keluarganya
tersangkut masalah KKN gede2an? Apa karena ada saudara atau
kerabat yg terlibat KKN gede2an itu lalu kita jadi mundur untuk
memperjuangkan sesuatu yg benar? Ah, mudah2an tidak demikian.
Saya yakin mahasiswa masih punya idealisme karenanya saya
bilang kemarin2 itu mahasiswa ujung tombak masyarakat.
Budi:
> Sebaliknya, mereka-mereka yang bisa anda tuding-tuding sebagai biangnya KKN
> di negara kita ini apa memang anda yakin bahwa mereka KKN? Seberapa besar
> keyakinan anda? Punya bukti kongkrit?
Irwan:
Ya elah Bud, baca lagi deh berita2 nasional yg ada.
Capek gue nulisnya lagi.
Budi:
> Lalu, kalau semuanya belum begitu yakin, kemudian siapa yang akan dijadikan
> sasaran perjuangan untuk memperbaiki negeri ini? Kalau mau nembak, lihat
> dulu dong, ada nggak sasarannya, kelihatan nggak sasarannya? Kalau main
> tembak saja terus kena saudara kita, teman kita, famili kita, dan yang
> belum tentu adalah sasaran yang sebenarnya, apa ini tidak akan bikin perang
> saudara saja?
Irwan:
Inilah susahnya pakai kata revolusi. Yang kebayang adalah pertumpahan
darah besar2an. Padahal ngga harus begitu.
Udah tahu khan beda dasar antara reformasi dan revolusi?
Dulu khan udah pernah di gue tulis dan juga rekan lainnya
bahas di milis ini. Reformasi itu yg ngelakuin perubahannya
dari atas, dari pemerintah sendiri. Dan itu yg terjadi selama
satu tahun ini. Nah, lihat lagi deh apakah perubahan yg dilakukan
sudah sesuai dengan tuntutan reformasi yg diajukan oleh
rakyat dalam hal ini melalui ujung tombaknya, mahasiswa?
Sementara, kalau revolusi itu rakyat yg ngelakuin perubahan
total. Aparat pemerintahan di non-aktifkan dan diambil alih
oleh rakyat. Rakyat membentuk komite untuk memimpin
sementara sambil menetapkan garis2 dasar negara untuk
berikutnya. Demokrasi ditegakkan. Kemudian rakyat diminta
memilih pemimpin pemerintahan yg bisa dilakukan lewat pemilu
Dst....saya bisa tulis skenario panjang tersebut kalau memang
mau. Tapi saya yakin, rekan2 sudah bisa mengira seperti apa.
Intinya, selamatkan bangsa dari perpecahan, dari penggrogotan,
dari penjarahan tangan2 orba bermoral bejat.
Budi:
> Banyak cara lain untuk memperjuangkan perbaikan bangsa ini.
Irwan:
Apa contohnya?
Saya dari kemarin sudah minta anda menulis solusi yg lebih baik
tapi tidak juga anda sampaikan dan hanya berucap seperti di atas.
Ini khan sama aja ngomong ngambang, ngga jelas. Mbok ya
maju dengan satu pemikiran dong. Kalau anda menganggap revolusi
rakyat bukan jalan yg baik, tentunya anda tahu jalan yg baik yg
memang kemungkinan suksesnya lebih tinggi. Kalau anda ngga tahu,
lalu atas dasar apa anda sampai pada kesimpulan bahwa
revolusi rakyat kurang baik? Buktikan, kalau anda tidak asal
memberi komentar....:)
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu