In a message dated 8/28/99 10:05:27 AM Eastern Daylight Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:

> Musuh kongkritnya siapa sih?
>  Teman sendiri? Saudara sendiri? Famili sendiri? Keluarga sendiri?
>  Mau bikin perang saudara?
>  Ini malah bisa lebih parah dibandingin dengan perkelahian pelajar dan kasus
>  Ambon.
>
>  Be wise man....

Irwan:
Anda punya usulan yg lebih baik? Silahkan lontarkan di milis ini....:)
Atau anda lebih memilih sikap pasrah saja, terserah dah elit politik mau bikin
apa, rakyat nurut aja. Mau duitnya rakyat dikorupsi, diam saja. Mau bantuan
dunia diselewengkan, diam saja. Mau rakyatnya di daerah2 tertentu pada
bunuh2an (atau malah dibunuhin),  diam saja. Anak2 balita yg merupakan
penerus bangsa pada kekurangan gizi dan bisa mengakibatkan lemah otak,
diam saja. Biarkan saja semua itu terjadi, dengan harapan nanti juga baik
sendiri. Mudah2an pemerintah nanti bisa sadar.

Yang jelas, fakta bicara pemerintahan sekarang yg baru berusia satu tahun,
yang katanya sudah era reformasi, anti KKN, eh malah korupsinya
tambah besar dan gila2an.....:(
Belum termasuk peristiwa bunuh2an, peredaran senjata, obat2 terlarang,
ah....terlalu banyak nanti kalau ditulis satu2.

Siapa musuh kita, musuh rakyat?
Ya mereka2 itulah yg terus nyusahin rakyat, yang bikin negara ini makin
terpuruk,
yg ngutil bantuan dunia, yg ngutil duit rakyat, yg menggunakan kekuasaan untuk
kepentingan pribadi/kelompok ketimbang kepentingan bangsa, yg bisanya jualin
aset2 negara/nasional di satu sisi, dan menggerogotinya disisi lain.
Karena itu, coba tanyakan pada diri kita masing2, apakah kalau ini yg
diperjuangkan maka akan timbul perang saudara? Paling2 yg nentang
adalah mereka2 yg memang selama ini mendapatkan keuntungan dari
hasil2 kutilan tersebut, atau dapat untung dari peredaran senjata gelap,
peredaran obat2 terlarang, memiliki bisnis karena mendapat keuntungan
dari hubungan khusus dengan penguasa, dan sejenis.

Tanpa revolusi rakyat pun korban terus berjatuhan bahkan jauh lebih parah
karena korban2 ini tidak akan jelas sampai kapan berakhir. Dengan revolusi
rakyat yg  tujuan mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat sepenuhnya,
maka kejatuhan Indonesia bisa segera dihentikan.

Seperti saya katakan dalam 5 butir terdahulu yg intinya, satukan dulu
pandangan  akan apa yg diperjuangkan. Kalau mereka semuanya
kembali ke semangat reformasi yg semula, niscaya tidak akan ada
perang saudara. Yang ada adalah perang antara rakyat dan penguasa
bejat.

Jelas kini, musuh kita adalah para penguasa bejat itu.
Apakah anda akan biarkan penguasa bejat itu menggunakan
segala macam cara untuk melanggengkan kebejatannya
di bumi pertiwi? Bagaimana dengan korban2 yg sudah berjatuhan,
dalam memperjuangkan demokrasi di negeri kita, dalam
memperjuangkan agar KKN bisa dihentikan

Silahkan sampaikan solusi yg menurut anda lebih baik
dari hal yg di atas.

jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

Kirim email ke