Rekan-rekan yth.,

Yang saya kurang sependapat dengan topik di atas dalam diskusi ini adalah
kesan bahwa kita mendorong mahasiswa untuk bergerak lagi.
Mahasiswa telah menjadi pelaku riil perjuangan reformasi. Mereka telah
berkorban segala hal sebagai konsekuensi dari perjuangannya. Sementara ini
hasil perjuangan mereka boleh dikatakan belum mencapai hasil yang
memuaskan. Lalu, sebagai rakyat biasa, yang secara langsung maupun tidak
langsung telah diperjuangkan untuk menuju ke kehidupan yang lebih baik oleh
para mahasiswa, apa etis dan pada tempatnya kalau kita masih saja
berkeinginan 'menunggangi' mahasiswa? Meminta lagi kepada mereka agar
memperjuangkan kepentingan kita terus? Memanas-manasi mereka agar
demonstrasi terus. Sementara kita menunggu di belakang mereka dengan
membawa 'kompor'. Apa ada kata lain yang lebih tepat dari kata 'menunggangi
mahasiswa' dalam konteks ini? Lalu apa bedanya kita dengan para politisi
yang sekarang sedang rebutan 'kue' hasil perjuangan mahasiswa?

Giliran kitalah sekarang untuk melakukan sendiri atau bersama memperbaiki
negara kita. Kepada mahasiswa, kita harus menunjukkan bahwa kita juga
concern terhadap bangsa ini, dan kita juga bisa melakukan sesuatu yang riil
untuk memperbaikinya. Caranya?

Banyak sekali yang bisa kita lakukan untuk itu. Salah duanya adalah:
1. Melakukan sendiri memperbaiki bangsa ini mulai dari diri sendiri. Segala
kemampuan yang kita punyai diarahkan untuk tujuan memperbaiki bangsa ini.
Bisa berupa perbuatan, ide, maupun doa.
2. Melakukannya bersama yang lain dengan arah perjuangan yang jelas dan
konsisten.
Detil dari masing-masing 'salah dua' perjuangan rakyat tsb sudah barang
tentu cukup luas. Mudah-mudahan esensinya bisa ditangkap. Yang penting,
kitalah sekarang yang harus mulai berjuang. Jangan lagi 'menunggangi'
mahasiswa. Sukur-sukur kalau mereka bisa berjuang bersama kita.

Salam,
Budi
(rakyat jelata)

Kirim email ke