In a message dated 8/29/99 9:57:34 AM Eastern Daylight Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:
> Rekan-rekan yth.,
>
> Yang saya kurang sependapat dengan topik di atas dalam diskusi ini adalah
> kesan bahwa kita mendorong mahasiswa untuk bergerak lagi.
Irwan:
Tanpa didorong pun mahasiswa akan bergerak karena memang merekalah
yg diharapkan oleh masyarakat masih memiliki idealisme tinggi.
Dan jangan lupa, kita juga mahasiswa disini....:)
Budi:
> Mahasiswa telah menjadi pelaku riil perjuangan reformasi. Mereka telah
> berkorban segala hal sebagai konsekuensi dari perjuangannya. Sementara ini
> hasil perjuangan mereka boleh dikatakan belum mencapai hasil yang
> memuaskan.
Irwan:
Justru itu, kenapa harus berhenti di tengah jalan? Perjuangan reformasi
jangan sampai gagal, sudah terlalu banyak korban yg jatuh.
Apakah anda disini menyarankan mereka untuk berhenti atau menyerah saja?
Budi:
> Lalu, sebagai rakyat biasa, yang secara langsung maupun tidak
> langsung telah diperjuangkan untuk menuju ke kehidupan yang lebih baik oleh
> para mahasiswa, apa etis dan pada tempatnya kalau kita masih saja
> berkeinginan 'menunggangi' mahasiswa? Meminta lagi kepada mereka agar
> memperjuangkan kepentingan kita terus?
Irwan:
Anda lupa, yg mereka perjuangkan selain untuk kepentingan orang lain,
kepentingan bangsa, juga untuk kepentingan mereka dan anak cucunya dikemudian
hari. Mereka juga berjuang untuk keluarganya, untuk saudara2nya.
Disini tidak ada yg tunggang menunggangi karena saya yakin, rekan2 mahasiswa
di tanah air sekarang itu jauh lebih pintar dari yg kita bayangkan disini.
Saya justru nanti harus belajar banyak dari mereka.
Budi:
> Memanas-manasi mereka agar
> demonstrasi terus. Sementara kita menunggu di belakang mereka dengan
> membawa 'kompor'. Apa ada kata lain yang lebih tepat dari kata 'menunggangi
> mahasiswa' dalam konteks ini? Lalu apa bedanya kita dengan para politisi
> yang sekarang sedang rebutan 'kue' hasil perjuangan mahasiswa?
Irwan:
Bung Budi, bentuk perjuangan itu banyak caranya. Ada yg saat ini mampu turun
ke lapangan/jalan, ada yg hanya mampu memasak membuat makanan, ada yg hanya
mampu membuat spanduk2, ada yg hanya mampu mengumpulkan dana perjuangan,
ada yg hanya mampu menulis, ada yg hanya mampu mengkliping berita2,
ada yg hanya mampu membuat petisi dan menyampaikan ke dunia internasional
agar memberi perhatian khusus ke Indonesia, ada yg hanya mampu membuat
analisa2 situasi, ada yg hanya mampu nyetir mobil, ada yg hanya mampu
mencari2
informasi/rumors, dlsb. Bila kekuatan ini digabung, saling mengisi,
maka akan nyata kekuatannya.
Semoga anda kini lebih bisa melihat situasi perjuangan yg ada.
Dengan ini pula, saya juga ingin menyampaikan rasa salut saya kepada para
wartawan yg konsisten menyuarakan reformasi dan terus berjuang untuk
mewujudkan
Indonesia yg besih yg demokratis.
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu