Wah, itu betul-betul ruang menarik ya. Sama, kalau jam segitu susah ya diikuti, jam penuh di kantor. Tapi, gus, satu hal yang selalu membuat saya gak sreg.... kenapa sih ruang harus dilihat sebagai "capital"? Saya ingat, pembicaraan tentang "kapital" ini sudah pernah berlangsung beberapa kali di milis ini, dan Pak Abimanyu pernah menulis "...social capital, spatial capital, atau capital-capital lainnya menunjukkan bahwa virus ekonomi telah menjangkiti sebagian dari kita, artinya budaya, sumber daya alam, dll semua hal akhirnya seolah-olah ditransformasikan ke angka...agar dianggap "sah" dengan ukuran ekonomi... Saya juga ingat, ada tanggapan-tanggapan dari Pak Salahuddin Wahid, Pak Hengky dan kemudian diakhiri dengan kekuatiran Pak Abimanyu yang ditulis,"saya cuman khawatir penggunaan istilah "modal" dan "sumber daya" hanya mengacu kepada konsep ekonomi sempit, yg menyederhanakan suatu "entitas" yang hakiki menjadi "alat" atau "input" dalam konteks "produksi". Saya berbagi kekuatiran yang sama dengan Pak Abimanyu dalam hal ini. Jadi, tanggapan saya barangkali agak basi. Saya hanya kembali berpikir (setelah melihat email dibawah), ruang harusnya tidak dilihat sebagai kapital, tetapi sebagai media untuk membuat kualitas hidup orang2 didalamnya lebih baik. Ketika ruang dilihat sebagai capital (yang bisa dan sering sekali di-terlalusederhana-kan menjadi uang), sulit membuat ruang itu bukan tempat untuk mencari atau menghasilkan keuntungan. Ketika ruang=uang, akan sulit buat pengguna ruang yang tidak mampu memanfaatkan ruang tersebut (dan menghasilkan uang) untuk bisa bertahan. Katakanlah, seperti kasus pedagang pasar Barito. Kalau untuk peningkatan pemahaman bahwa ruang memegang peranan penting, saya sepakat. melly Salahuddin Wahid
_____ From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Benedictus Dwiagus Sent: Friday, January 18, 2008 7:19 AM To: [email protected] Cc: [EMAIL PROTECTED] Subject: RE: [referensi] Re: Jkt Setelah 100 Hari 'Ditangan Ahlinya'.... YSH Pak ABy dan rekan milister semuanya, Saya sering mendengar radio Trijaya, dan beberapa kali saya mendengar iklan "diskusi penataan ruang" yang memakai narasumber dari Dirjen Penataan ruang, kadang Pak Imam Sudrajat, kadang pak dirjen sendiri. Masalahnya acara diskusi dimulai kalau tak salah sekitar jam 08.30 atau jam 09.00 pagi, jadi saya gak bisa mengikuti, karena sudah keburu ada di kantor, jadi tidak bisa mendengarkan di perjalanan.. Saya malah berpikir mengembangkan ide pak Aby bukan untuk sekedar memenuhi ruang media public dengan wacana-wacana, tapi meningkatkan awareness orang akan pentingnya ruang sebagai capital, kalau perlu dengan cara membenturkan berbagai pemahaman, sehingga terjadi perombakan paradigma atau reorientasi pemahaman terhadap issue/permasalahan yang terkait dengan pemanfaatan ruang .. Best regards, Benedictus Dwiagus S. bdwiagus.blogspot.com

