Kalau kata mahatma Gandhi:

1.      "Capital as such is not evil; it is its wrong use that is evil.
Capital in some form or other will always be needed." HYPERLINK
"http://en.wikipedia.org/wiki/Mahatma_Gandhi"Mahatma Gandhi 

Saya sih tidak mengerti kenapa capital harus disederhanakan sekedar angka
ekonomi atau lebih sederhana lagi sekedar uang? Ketika social capital
dicetuskan, sebenarnya justru pingin mendobrak terminology capital yang
terdahulu dan mengajuka ide, bahwa ada factor produksi di luar tenagakerja
dan lahan (kalau ini bisa dengan sederhana “diuangkan”), yaitu nilai ikatan
kemasyarakatannya itu sendiri yang bisa menjadi factor produksi, dalam arti
membantu dia untuk lebih produktif. Begitu juga mungkin maksudnya pak Aby
ketika mencetuskan kata “spatial capital”, memanfaatkan ruang sebagai factor
produksi, dalam arti untuk memproduksi sesuatu yang baik bagi semuanya yang
ada dalam ruang itu ….. 

 

Jadi saya juga tidak berpikiran soal angka atau money terms ketika bicara
spatial capital,…..  bukankah kita sadar,uang itu bukan capital,.. jadi
memang sepatutnya jangan disederhanakan ruang jadi uang,…. Ruang jadi
sekedar uang ketika ada distorsi …..  

Sama seperti melly bilang, ruang adalah sesuatu yang bisa digunakan utk
membuat kualitas hidup orang di dalamnya lebih baik. Saya pikir ini definisi
yang miripbukan dengan definisi spatial capital….  

Saya malah khawatir kalau orang gak sadar kalau ruang adalah sebuah capital
bersama (bukan sekedar dimiliki private secara semena-mena) , ruang malah
akan dieksploitasi abusively tanpa sadar, .. instead of making use
optimally, commonly and mutually… 

dan bukankah itu   peran penataan ruang??

 

 

Best regards,

 

Benedictus Dwiagus S.

HYPERLINK "http://bdwiagus.blogspot.com"bdwiagus.blogspot.com 

 

Planning: Much works remain to be done before we can announce our total
failure to make any progress ,...

 

 

   _____  

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of Mellyana Frederika
Sent: 18 January 2008 10:38
To: [email protected]
Subject: RE: [referensi] Re: Jkt Setelah 100 Hari 'Ditangan Ahlinya'....

 

Wah, itu betul-betul ruang menarik ya. Sama, kalau jam segitu susah ya
diikuti, jam penuh di kantor.

 

Tapi, gus, satu hal yang selalu membuat saya gak sreg.... kenapa sih ruang
harus dilihat sebagai "capital"? 

 

 Saya ingat, pembicaraan tentang "kapital" ini sudah pernah berlangsung
beberapa kali di milis ini, dan Pak Abimanyu pernah menulis "...social
capital, spatial capital, atau capital-capital lainnya menunjukkan bahwa
virus ekonomi telah menjangkiti sebagian dari kita, artinya budaya, sumber
daya alam, dll semua hal akhirnya seolah-olah ditransformasikan ke
angka...agar dianggap "sah" dengan ukuran ekonomi...

Saya juga ingat, ada tanggapan-tanggapan dari Pak Salahuddin Wahid, Pak
Hengky dan kemudian diakhiri dengan kekuatiran Pak Abimanyu yang
ditulis,"saya cuman khawatir penggunaan istilah "modal" dan "sumber daya"
hanya mengacu kepada konsep ekonomi sempit, yg menyederhanakan suatu
"entitas" yang hakiki menjadi "alat" atau "input" dalam konteks "produksi".
Saya berbagi kekuatiran yang sama dengan Pak Abimanyu dalam hal ini.

 

Jadi, tanggapan saya barangkali agak basi. Saya hanya kembali berpikir
(setelah melihat email dibawah), ruang harusnya tidak dilihat sebagai
kapital, tetapi sebagai media untuk membuat kualitas hidup orang2 didalamnya
lebih baik. Ketika ruang dilihat sebagai capital (yang bisa dan sering
sekali di-terlalusederhana--kan menjadi uang), sulit membuat ruang itu bukan
tempat untuk mencari atau menghasilkan keuntungan. Ketika ruang=uang, akan
sulit buat pengguna ruang yang tidak mampu memanfaatkan ruang tersebut (dan
menghasilkan uang) untuk bisa bertahan. Katakanlah, seperti kasus pedagang
pasar Barito. 

 

Kalau untuk peningkatan pemahaman bahwa ruang memegang peranan penting, saya
sepakat. 

 

 

melly

 

Salahuddin Wahid  

 

 

 

 

 


   _____  


From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
Behalf Of Benedictus Dwiagus
Sent: Friday, January 18, 2008 7:19 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Cc: [EMAIL PROTECTED]
Subject: RE: [referensi] Re: Jkt Setelah 100 Hari 'Ditangan Ahlinya'....

YSH Pak ABy dan rekan milister semuanya,

 

Saya sering mendengar radio Trijaya, dan beberapa kali saya mendengar iklan
“diskusi penataan ruang” yang memakai narasumber dari Dirjen Penataan ruang,
kadang Pak Imam Sudrajat, kadang pak dirjen sendiri. Masalahnya acara
diskusi dimulai kalau tak salah sekitar jam 08.30 atau jam 09.00 pagi, jadi
saya gak bisa mengikuti, karena sudah keburu ada di kantor, jadi tidak bisa
mendengarkan di perjalanan…. 

 

Saya malah berpikir mengembangkan ide pak Aby bukan untuk sekedar memenuhi
ruang media public dengan wacana-wacana, tapi meningkatkan awareness orang
akan pentingnya ruang sebagai capital, kalau perlu dengan cara  membenturkan
berbagai pemahaman, sehingga terjadi perombakan paradigma atau reorientasi
pemahaman terhadap issue/permasalahan yang terkait dengan pemanfaatan ruang
…. 

 

 

 

Best regards,

 

Benedictus Dwiagus S.

HYPERLINK "http://bdwiagus.blogspot.com"bdwiagus.blogspot.-com 

 

 


No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.6/1230 - Release Date: 17/01/2008
16:59



No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition. 
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.6/1230 - Release Date: 17/01/2008
16:59
 

Kirim email ke