Mas Haryo, matur nuwun atas informasinya yang mengejutkan. Saya ingin memiliki bukunya kalau bisa dan bagaimana caranya ya. Nyuwun informasi.
Hal-hal yang transendental dalam diskusi fenomenologi ini bisa diartikan hal-hal yang keramat atau sakral. Tetapi itu hanya sebagian dari hal yang dikaji dalam fenomenologi, sebab transendental ini adalah hal-hal yang dibalik perilaku dan dibaliknya lagi. Hal transendental artinya adalah yang melampaui yang fisik-visual, utamanya yang lebih tersembunyi dari pikiran (misalnya nilai dan keyakinan manusia, alias dunia batin kita). Klenik merupakan salah satu bagian saja, bukan totalitas kajian fenomenologi. Terminologi transenden dalam fenonemologi berbeda dari yang dikatakan Van Peursen. Pada van Peursen, transenden berteman dengan imanen. Transenden adalah yang di lyar sementara yang imanan adalah yang tersembunyi, yang ada di dalam. Kekuatan alam pada van Peursen adalah transenden sementara kecenderungan batin manusia adalah hal yang imanen, maka kebudayaan lahir dari dialektika (bukan istilah van Peursen) antara yang transenden dengan yang imanen. Di luar hujan padahal aku ingin tidak basah, maka lahirlah pilihan pakai payung atau mantel anti hujan. Fenomenologi memang bisa digunakan menggali hal yang supranatural, namun perlu diingat yang menjadi data adalah pengalaman informan dan dalam wujudnya adalah deskripsi atau narasi pengalaman yang ditulis pengamat. Subyektivitas sangat dihargai, perbedaan pengalaman bukan hal yang tabu sebab yang dilihat adalah esensi apa yang menjadi acuan pengalaman. Jika ada banyak ceritera tentang kehebatan Walisanga, misalnya, fenomenolog tidak terjebak pada deskripsi atau dongeng itu, melainkan melihat nilai apa yang menjadi acuannya. Jadi fenomenolog mesti mampu keluar dari dirinya sendiri dan sangat menghargai perbedaan-perbedaan. Ia sangat menghormati pluralisme, kebenaran yang plural. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnusantara.wordpress.com http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Thu, 8/6/09, haryo winarso <[email protected]> wrote: From: haryo winarso <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Re: Pikir dan rasa --- critical planning ? To: [email protected] Date: Thursday, August 6, 2009, 10:21 AM Bagi ang tertarik, disertasi ibu Hilwati Hindersah di PWK ITB membahas perencanan yang menggunakan hal-hal yang trasendetal yang sepertinya dibicarakan di sini. Bu Hil adalah dosen UNISBA HW --- On Thu, 8/6/09, Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> wrote: From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> Subject: Re: [referensi] Re: Pikir dan rasa --- critical planning ? To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Thursday, August 6, 2009, 7:19 AM Pak BTS, ada teman saya yang pernah menceriterakan bahwa dia bisa membuktikan sesuatu yang keramat, khususnya soal SINGUP....dalam bahasa Indonesianya apa ya ? Dia mendekati dengan percobaan / simulasi model fisik kemudian dengan model yang menggunakan software. Teori yang melandasi percobaannya katanya dengan fisika fluida atau mekanika fluida. Dengan model komputer itu bisa ditemukan indikasi-indikasi dari "singup" tadi, misalnya muncul dalam angka-angka variabel fisika bangunan, misalnya penyinaran, penghawaan, akustik dll. Ini upaya merasionalisasi singup (sebutan tradisional) ke arah terminologi ilmu modern. Cara berpikirnya positivistik. Nah, jika saya yang diminta menjelaskan dengan pendekatan fenomenologi, saya pasti akan melakukan cara yang berbeda, yaitu menggali pengalaman orang-orang yang pernah mengalami kesingupan tempat yang dikaji. Tentu dengan wawancara mendalam dan sangat mengandalkan subyektivitas informan, maka dengan proses induksi bertahap dan triangulasi serta refleksi terus menerus akan diperoleh data yang semakin bisa menjelaskannya. Aspek yang digali bukan fakta fisik (panas, dingin, tenang) melainkan pengalaman informan, yang bisa sampai pada dimensi transenden (melampaui fenomena fisik dan akal/rasional) . Dari subyektivitas informasi para informan itu, melalui proses triangulasi akan diperoleh pemahaman yang inter-subyektif. Kebenaran yang diperoleh memang kebenaran / pengetahuan yang soft (bukan kebenaran yang hard, seperti pada kajian kuantitatif) . Untuk mdeitasi atau refleksi sebagai jalan untuk memperoleh pengetahuan, saya sebenarnya lebih senang menggunakan yang refleksi. Pengalaman manusia itu ada yang langsung dan tidak langsung. Ketika kita mengikuti upacara adat, misalnya, pada waktu itu kita menyerap pengalaman langsung. Nah pada waktu kita melihat kembali berkali-kali foto-fofo pengalaman mengikuti upacara itu, dan dalam melihat kembali itu kita menggunakan juga memori pengalaman langsung, maka pemahaman kita atas pengalaman mengikuti upacara adat itu menjadi semakin berkembang dan semakin kaya bahkan semakin diperdalam. Dalam refleksi semacam itu kita menemukan relasi-relasi antar elemen-elemen tertentu di dalam foto dan pengalaman kita. Ada informasi yang kuat karena selalu berulang terjadi maka kita menemukan setitik terang informasi yang perlu diperdalam, dst dst dst. Dengan demikian, refleksi lebih pas digunakan sebagai sebutan sebab konotasinya bukan aktivitas meditasi, yang cenderung dikonotasikan dengan kegiatan spiritual. Dari proses refleksi berkali-kali itulah, pemahaman kita semakin mantap pada suatu tema yang direfleksikan. Di dalam proses refleksi itulah peran lesadaran menjadi penting, sebab subyek yang melakukan refleksi sadar betul sedang melakukan apa, maka logikanya menjadi lebih abstrak, mirip proses black box. Tetapi, seorang peneliti atau pengamat yang sudah memiliki jam terbang memadai, dia bisa menjelaskan bagaimana proses temuannya, bisa menjelaskan bagaimana proses refleksi dilakukan sampai menemukan yang seharusnya ditemukan. Logika dalam proses yang abstrak ini saya lebih senang menggunakan sebutan intuisi, yang kemudian bisa dijelaskan, bukan intuisi yang abstrak tak-terjelaskan. Melalui paparan ini saya berusaha menjelaskan bahwa logika dalam proses berfenomenologi memang lebih daripada logika akal seperti umumnya sekaligus lebih dari sekedar menjahit pengalaman empiris. Teman saya dari Undip selalu mengritik saya bahwa ada proses blackbox dalam metode saya itu, tetapi saya mengatakan bahwa hal itu menurut sebutan orang lain, selama saya belum bisa menjelaskan bagaimana proses intuisi berjalan hingga menemukan kesimpulan. Memang tidak sederhana Pak, sebab obyek formal yang dikaji memang tidak sederhana. Apakah proses semacam itu melibatkan "rasa", saya belum tahu juga Pak. Semoga tulisan diatas ini bisa menjawab pertanyaan Pak BTS, tidak untuk sekedar memuaskan melainkan justru menimbulkan pertanyaan baru dan diskusi berlanjut... ..! Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnu santara.wordpres s.com http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Tue, 8/4/09, Btatas <[email protected]. id> wrote: From: Btatas <[email protected]. id> Subject: Re: [referensi] Re: Pikir dan rasa --- critical planning ? To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Tuesday, August 4, 2009, 10:37 PM Ysh Pak Djarot dan rekan sekalian. Saya sebenarnya tidak tertarik mengikuti soal-soal yang keramat. Tapi tulisan Pak Djarot menggelitik saya untuk ikut bertanggap. Karena yang saya tanggapi bukan soal keramat, maka subjek keramat saya ganti (sorry buat yang menginisiasi subjek keramat). Dikatakan oleh Pak Djarot bahwa bahwa menata ruang dengan logika akal (deposit pengetahuan) dan informasi empiris saja memang belum memadai, maka perlu dilengkapi dengan peran aktif kesadaran di dalam diri penata ruang sehingga fenomena yang ditangani akan menjadi lebih lengkap dan utuh. Yang saya garis bawahi bahwa logika akal dan empiris tidak memadai sehingga diperlukan peran aktif kesadaran. Dikatakan sebelumnya bahwa yang dimaksud dengan aktif kesadaran itu suatu fenomenologi, yaitu dimensi supranatural dengan logika tersendiri. Dikatakan juga bahwa supranatural itu semacam meditasi atau refleksi. Bagi saya yang berfilsafat sederhana, logika akal dan empiris sudah memadai untuk menemukan solusi. Kalaupun sering logika akal dan empiris itu kurang lengkap atau ternyata hasilnya kurang memadai, bukan karena pendekatan yang dilakukan salah, tapi mungkin informasinya tidak lengkap dan sahih, atau deposit pengetahuannya masih kurang tajam, atau mungkin dialektika yang digunakan kurang tepat. Toh seandainya hasil logika pikir dan empiris itu tidak sempurna, kurang memadai, atau bahkan belakangan baru diketahui sebagai salah, itu tidak fatal atau kesalahan karena kebenaran itu sering muncul dari kesalahan-kesalahan . Jadi semua hasil logika pikir dan empiris tidak langsung jadi, harus melalui proses uji coba, terus menerus diperbaiki menuju presisi kesempurnaan yang tak pernah sempurna. Contohnya dulu komputer menggunakan punch-card dengan mesin segede gajah, melalui proses perbaikan, sekarang hanya segede notebook. Toh proses ini tidak perlu ada unsur supranatural ataupun meditasi, tapi hasil logika akal dan empiris yang menerus. Dimensi lain yaitu supranatural/ fenomenologi walaupun katanya punya logika sendiri, menurut saya itu bukan logika atau alat pikir, karena sulit mencari ukurannya. Menurut saya itu rasa, bukan pikir. Rasa itu relatif dan setiap orang bisa berbeda. Kalau dimensi supranatural didiskusikan dalam tataran ilmiah, saya khawatir akan lari kemana-mana tdak karuan, karena setiap orang punya kadar meditasi berbeda-beda, tidak ada kesepakatan, akhirnya tidak ada solusi praktis. Bagi insan yang punya sensitifitas tinggi karena kekuatan supranatural yang dimiliki akan bisa menikmati perihal keindahan unik dari objek, bisa merasakan keramatisasi mistis yang menggetarkan. ... ya silakan saja dinikmati, tapi bisakah ditularkan dalam bentuk solusi? Atau mungkin dimensi ini hanya bisa dalam skala kecil dan produk seni, seperti yang dicontohkan. Demikian Pak Djarot logika sederhana saya.. ha...ha...ha. ..(ketawanya Mbah Surip, Inalillahi wainalilahi rojiun). Thanks. CU. BTS. ----- Original Message ----- From: Djarot Purbadi To: refere...@yahoogrou ps.com Sent: Tuesday, August 04, 2009 12:21 AM Subject: RE: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ? Pak Onnos, mohon maaf ada tambahan dari saya sebagai berikut: 1. Jika tidak salah, sejak awal diskusi saya memahami supranatural bukan sebagai sebentuk pendekatan melainkan sebuah kumpulan dimensi. Dalam pandangan saya, supranatural merupakan salah satu unsur yang ada dan perlu mendapat perhatian dan dilibatkan dalam pemikiran tatanan keruangan. Saya juga sependapat bahwa jika supranatural dimaknai sebagai pendekatan dalam kegiatan penataan ruang, apalagi skala luas, pastilah akan berbenturan dengan arus demokrasi seperti paparan Pak Onnos. Dalam paparan saya beberapa kali saya selalu berusaha menjelaskan bahwa fenomena yang ditangani pemikiran planning bersifat multi-dimensi, termasuk adanya dimensi supranatural itu, maka mesti dicari cara berpikir yang memadai. 2. Tentang logika yang jelas dalam planning dan (mungkin) "tidak jelas" dalam meditasi. Saya menduga bahwa pemikiran semacam ini perlu diperjelas, apakah benar dalam dunia meditasi (supranatural) tidak ada logika atau logikanya nggak jelas ? Saya sebenarnya lebih senang menyebut bahwa ada banyak logika unik di dunia ini, logika ilmiah bukan satu-satunya yang ada, maka termasuk di dalam dunia supranatural atau meditasi ada logikanya, hanya karakternya berbeda dari logika keilmuan "ala barat" yang banyak digunakan dalam banyak kegiatan ilmiah. Belajar dari Comte, kita menduga bahwa orang-orang yang masih dalam tahap teologis tentu punya logika unik bagaimana mengaitkan Tuhan dengan pikiran-pikirannya, demikian juga pada masyarakat metafisis, maupun masyarakat yang cenderung positivistis. 3. Apalagi dari perkembangan pemikiran dalam filsafat terbukti bahwa kebenaran empiris baru sebagian saja dari kebenaran yang utuh, demikian juga kebenaran akali juga sebagian saja dari seluruh kebenaran yang lengkap. Artinya planning yang sangat rasional maupun sangat empiris sama-sama baru mencapai setengahnya, dan barulah utuh jika keduanya dipertemukan. Situasi ini semacam putar ulang perseteruan lama (rasionalisme vs empirisme) yang kemudian didamaikan oleh Immanuel Kant, bahwa kebenaran yang utuh adalah dari dua sisi: rasional dan empiris. 4. Sejarah mencatat ternyata empirisme maupun rasionalisme mengandung kelemahan. Orang yang rasionalistik cenderung menggunakan deposit pengetahuannya dalam memandang fenomena yang ada di depan matanya, artinya pikirannya "tidak murni" ketika berhadapan dengan fenomena. Demikian juga empirisme, atribut-atribut yang diperhatikan atas fenomena yang dilihat bisa mengaburkan hakekat yang dilihat. Dalam situasi pengamat terperangkap jaring-jaring pikirannya dan kekayaan pengalaman empiris menjadi bahaya yang mengaburkan hakekat fenomena ini datanglah Husserl dengan gagasannya fenomenologi yang intinya: dalam proses pengamatan (mencapai pengetahuan / kebenaran) haruslah pengamat dan fenomena dimurnikan supaya "aku murni" berjumpa dengan "obyek murni". Pada titik ini Husserl meninggalkan rasionalisme dan empirisme dan membangun cara baru yaitu fenomenologi. 5. Logika fenomenologi barangkali mirip meditasi (ada pengarang yang menggunakan kata meditasi) atau refleksi (menurut penulis lain), khususnya dalam memahami obyek, Husserl menggunakan konsep konstitusi. Maksudnya, jika kita melihat sebuah bangunan istana, maka bangunan itu dilihat dari segala sisinya, sehingga profil-profil yang ditangkap dari berbagai sisi kemudian dianyam dalam pikiran melalui proses merenungkan mendalam (meditasi atau refleksi). Ini proses konstitusi, artinya obyek dirakit di dalam pikiran menjadi obyek yang utuh sejauh profilnya tersedia. Ketika saya mengamati desa Kaenbaun, ada ribuan frame foto digital yang saya miliki, berkali-kali saya amati berulang kali juga, akhirnya proses refleksi tersebut menghasilkan desa Kaenbaun yang unik. Foto-foto fenomena visual tersebut memungkinkan terbangunnya desa Kaenbaun yang utuh di kepala saya. Husserl tidak mengatakan obyek yang diamati menjadi eksis di dalam kesadaran pengamat, bukan sekedar berada di dalam otaknya; ada di memori kesadaran. 6. Pesan paparan ini ingin menunjukkan bahwa menata ruang dengan logika akal (deposit pengetahuan) dan informasi empiris saja memang belum memadai, maka perlu dilengkapi dengan peran aktif kesadaran di dalam diri penata ruang sehingga fenomena yang ditangani akan menjadi lebih lengkap dan utuh. Artinya, rasional dan empiris saja tidak cukup, maka perlu dilengkapi dengan lebih kritis terhadap proses pengamatannya yang seringkali dikecoh oleh memori maupun kekayaan fenomena itu sendiri. Tentu cara seperti ini barangkali hanya bisa efektif pada skala ruang lokal (misalnya Parangtritis, kawasan Taman Wisata Borobudur, kawasan-kawasan unik, dsb). Jadi untuk skala megalopolitan pastilah tidak efektif lagi, malahan menimbulkan kontra-produksi atau kontra-demokrasi. 7. Apakah begitu ya Pak Onnos ? Mohon pencerahan Pak. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnu santara.wordpres s.com http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Mon, 8/3/09, Sugiono Ronodihardjo <sugion...@hotmail. com> wrote: From: Sugiono Ronodihardjo <sugion...@hotmail. com> Subject: RE: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ? To: "refere...@yahoogro ups.com" <refere...@yahoogrou ps.com> Date: Monday, August 3, 2009, 9:36 PM Pak BSP dan rekan2 ysh, Mengikuti diskusi tentang 'tempat keramat - critical planning', sepertinya pak BSP setelah lama tinggal di Yogya jadi lebih 'njowoni'. Memang sangat baik kalau ada rekan2 yang tertarik untuk memetakan atau menyusun semacam kumpulan ceritera tentang 'penciptaan ruang' yang pernah ada di negeri ini dengan pendekatan 'supranatural' atau 'dimensi 4' yang mungkin terkait erat dengan 'kearifan lokal'. Dalam dunia arsitektur mungkin sudah lama kita berkenalan dengan 'fengsui' yang kemungkinan dapat diperluas untuk dunia 'planning' tingkat kota ? Namun demikian, dengan paradigma baru dalam 'planning', salah satunya dengan lebih adanya 'keterbukaan dan demokrasi' dalam proses 'planning', apakah pendekatan 'supranatural' dapat diterima oleh masyarakat kita dimasa depan yang semakin 'modern' ? Kebanyakan kita belajar teori 'planning ala-barat' yang serba pakai logika yang jelas, tetapi mungkinkah kita di jaman sekarang membangun negeri ini dengan tradisi katakan 'ala-timur' misalnya dengan cara 'meditasi' ? Selamat mencoba, semoga tercipta ruang yang dapat memberi kesejahteraan buat rakyat di negeri tercinta ini. Wassalam, Onnos To: refere...@yahoogrou ps.com From: bspr...@indosat. net.id Date: Mon, 3 Aug 2009 10:09:16 +0700 Subject: Re: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ? Mas Koeswadi, Mas Djarot ysh, Memang menarik bagi kita untuk bisa membuat sebuah inseklopedia tempat keramat. Namun kita harus sangat berhati-hati terhadap definisi tempat keramat tersebut. Perlu ada pemilahan yang jelas karena kalau tidak akan terjebak kepada pengelompokan yang tidak terklasifikasi dengan baik. Contoh permasalahan yang akan muncul : a. bagaimana kita mengklasifikasi kraton di Sambas dimana terdapat meriam beranak. Secara energi disana memang ada sebuah medan energi yang kuat .... namun orang lebih datang pada meriam itu, sedangkan banyak sudut2 dimana energi tersebut snagta kuat, ternyata tidak pernah tersentuh .... karena memang disembunyikan oleh orang yang tahu... apakah kita akan mengklasifikasikan sebagai sebuah kesatuan atau terpisah .... b. situs Trowulan yang saat ini terpencar-pencar ini bagaimana kita mengkodifikasi ... sebagai kesatuan atau tidak ... akankah kita menggabungkan antara Candi Tikus dengan Pendopo Agung c. apakah Masjid Raya Maimoon yang akan menjadi lekasi keramat ataukah Istana Maimoon di Medan ataukah ini sebuah kesatuan .. dan bagaimana klasifikasinya; d. bagaimanakah kita menyikapi terhadap lokasi "keramat" seperti masjid di Jimbung Klaten yang dikeramatkan karena ada sepasang bulus (satu baru saja mati) e. bagaimanakah kita mengkodifikasi antara Gunug Srandil, Gua Semar, Gunung Kemukus, Gunung Kawi dengan misalnya petilasan Sunan Muria misalnya Jadi karena kita sudah dibiasakan menggunakan pendekatan barat yang mencoba dengan pola sistematisasi dan strukturisasi sehingga ini akan menyebabkan kita perlu melakukan adjustment dalam pembuatan pengarsipan itu. Inilah sulitnya bila kita mau menggabungkan pendekatan gamelan yang berbasis pada harmonisasi dari improvisasi anggota kelompok dengan orkestra yang ditentukan oleh ukuran yang tertentu. Salam bambang sp Share your memories online with anyone you want anyone you want.

