Para sahabats, Saya perlu klarifikasi lanjutan supaya lebih jernih (siapa tahu bisa). Fenomenologi dalam pikiran saya ya sarana saja, seperti ketika kita menggunakan positivisme, rasionalisme dan empirisme. Jadi cara pandang yang maunya lebih mendalam. Pada positivisme yang menjadi perhatian adalah apa yang tampak melalui pancaindra, maka metafisika ditolak, klenik dicibirkan. Pada rasionalisme lebih ekstrim, bahwa semua pengetahuan berasal dari akal dan harus dikaji dengan jalan matematika, maka realitas indrawi dianggap menipu. Pada empirisme fenomena kasat mata (indrawi) diterima dan metafisika diterima. Fenomenologi berusaha menemukan apa yang dibalik fenomena yang serba kelihatan, dan berusaha lebih jauh menemukan yang dibaliknya lagi. Jika pikiran ada di balik perbuatan, maka fenomenologi akan mencari apa yang ada di balik pikiran. Jadi menyeruak lebih jauh. Ini fenomenologi filosofis, sedangkan fenomenologi psikologis saya nggak tahu....saya kira sobat Vincent Liong yang setahu saya dari psikologi bisa menjelaskan.
Klarifikasi yang lain, fenomena keramat, wingit, singup atau yang sifatnya supranatural hanyalah salah satu fenomena yang masih bisa diterima dengan kajian fenomenologi. Jadi fenomenologi tidak identik dengan supranatural, ya Pak BTS. Artinya, fenomenologi berusaha menemukan apa yang dibalik fenomena visual, terus berusaha lagi menemukan apa yang dibaliknya, dan seterusnya. Dalam praktek di arsitektur, kita berusaha menemukan nilai-nilai dan hal-hal abstrak di balik semua ungkapan manusia. Fenomenologi bisa diterapkan dimana-mana selama di situ ada manusia, sebab kajian fenomenologi memang terkait dengan manusia. Fenomenologi ingin memahami manusia sedalam-dalamnya sampai ke dalam dunia transenden (abstrak) yang dimilikinya. Jadi wawancara mendalam merupakan salah satu kuncinya, dan kedekatan pengamat dengan subyek/obyek kajiannya menjadi syarat sangat mendasar. Siapa mau mengungkapkan dunia batinnya yang sangat privat dan abstrak jika tidak ada kedekatan psikologis ? Biasanya pengamat akan melakukan pengamatan partisipatif. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnusantara.wordpress.com http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Thu, 8/6/09, Sugiono Ronodihardjo <[email protected]> wrote: From: Sugiono Ronodihardjo <[email protected]> Subject: RE: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ? To: "[email protected]" <[email protected]> Date: Thursday, August 6, 2009, 1:12 PM Pak Bambang SP dan rekan2 ysh, Saya sepakat bahwa 'fenomenalogi' ini perlu/menarik untuk dipelajari, tapi tujuannya tentunya untuk kebaikan kita bersama. Mungkinkah yang sedang kita diskusikan ini sebetulnya ada kaitannya dengan 'teori energi gelombang' yang ada di alam jagad raya ? Ibaratnya kalau kita 'nyetel' radio, musti cari dulu gelombangnya, kalau tidak pas akan kedengaran 'kresek-kresek' bisa bikin sakit ditelinga, tapi kalau pas dapat bisa nyaring, tapi kalau tidak cocok sumber 'studionya' karena yang kita cari lagu-2 dangdut, maka bisa kita pindah ke sumber yang lain, misalnya lagu 'Tak Gendong'nya almarhum Mbah Surip dari alam sana ? Sepertinya 'energi gelombang' ini dipancarkan dari berbagai 'sumber' dibumi ini, termasuk dari dalam badan kita sendiri yang dapat 'berinteraksi' dengan berbagai 'sumber' yang lain, termasuk kalau kita ketemu lawan jenis terus jadi tergetar 'hati' kita he he...? Energi ini mungkin bisa berpengaruh positif atau negatif terhadap kita/manusia juga terhadap ciptaan Tuhan yang lain di bumi ini ? Masalahnya bagaimana kita bisa mengatur atau memanfaatkan 'energi gelombang' ini untuk kesejahteraan kita semua, bukan untuk kepentingan 'seorang/sekelompok orang' saja ? Buat pak Bambang SP yang sudah 'mbarati' tur 'njowoni', nyuwun ngapunten nggiiiih pak.... Wassalam, Onnos To: refere...@yahoogrou ps.com From: bspr...@indosat. net.id Date: Thu, 6 Aug 2009 12:01:35 +0700 Subject: RE: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ? Kangmas Sugiono ysh, saya pikir bahwa pendekatan metafisika sudah merambah didalam kehidupan modern. Dan itu terjadi secara sangat serious dilakukan oleh negara2 "super maju" seperti Amerika Serikat. Masalahnya, justru di negara tercinta kita masih banyak orang yang merasa risih dengan kejadian itu. Ada cerita menarik, mungkin ada teman2 yang mengikuti kisah pembangunan Hotel Hyatt yang di teluk Hongkon yang terkenal tersebut. Pada waktu itu terjadi sebuah debat yang cukup rame dan itu menyangkut feng shui (ben sui ... he he he). Termasuk akhirnya melakukan pemotongan bentuk bangunan. Ternyata semua itu tidak akan bisa dipahami bila kita berkata aah itu omong kosong. Mari kita simak apa yang terjadi di Jakarta Utara. Waktu Mall Mangga Dua bersama deretan mall lainnya akan dibangun dan ditawarkan ke pasar ... animo sangat-sangat rendah. Hal ini disebabkan karena ada bekas kuburan yang dianggap masyarakat cukup keramat. Nah akhirnya dipanggilkan seorang ahli feng shui dari Hongkong atau Singapura (seingat saya seorang wanita pakai nama Lin?). Dia menyarankan bahwa untuk itu lahan yang sebelum diurug perlu ditaburi pasir pantai dan semua akan badar.... busyet ... hasilnya adalah kawasan yang sangat rame.... apakah ini coincidence? ... mungkin .... tetapi bila mau melihat energi yang tercipta ... ini adalah sangat rasional. Jadi kalau mas Sudiono ngendiko saya njawani sebenarnya saya menjadi sangat mbarati ... he he he. Salam bambang sp Buddy is 10! Create a comic strip of your ultimate party and win $1,000! Click here

